Beranda Edukasi RPI Turun Tangan ke SDN Buttue Pangkep

RPI Turun Tangan ke SDN Buttue Pangkep

Para Relawan Pendidikan yang berkontribusi di SDN 38 ButtuE, Kanaungan, Labakkang. (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para Relawan Pendidikan yang berkontribusi di SDN 38 ButtuE, Kanaungan, Labakkang. (foto: dok.RPI/palontaraq)

Laporan: Ahmad Yani

Related Post:  Herlina, Guru Honorer SD Kelas Jauh di Pesisir Kanaungan

PALONTARAQ.ID, PANGKEP – Touring Pedidikan yang dilaksanakan Relawan Pendidikan Indonesia (RPI) pada Jumat-Ahad, 21-23 Februari 2020 lalu turun tangan dalam jumlah besar. Kali ini mereka peduli potret pendidikan yang sangat memprihatikan di salah satu wilayah Pesisir Kabupaten Pangkep.

Tak mudah untuk menjangkau lokasi sekolah SDN 38 Buttue Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Para relawan harus berjibaku berpeluh keringat menyusuri pematang tambak ataukah memilih menyusuri Sungai Limbangan.

Sejumlah 157 Relawan Pendidikan Indonesia bersama Komunitas Peduli Anak Yatim Fakir Miskin (KPAY FM) serta disupport IDE BERBAGI tak menyusut langkah untuk berbagi dan peduli dengan Pendidikan Anak Pesisir di SDN 38 Buttue. Potret Sekolah yang berada di pinggiran Sungai Limbangan, Desa Kanaungan.

Para Relawan Pendidikan saat menyusuri Sungai Limbangan. (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para Relawan Pendidikan saat menyusuri Sungai Limbangan. (foto: dok.RPI/palontaraq)

Para Relawan Pendidikan di samping lokasi SDN 38 ButtuE, Desa Kanaungan, Labakkang. (foto: dol.RPI/palontaraq)
Para Relawan Pendidikan di samping lokasi SDN 38 ButtuE, Desa Kanaungan, Labakkang. (foto: dol.RPI/palontaraq)

Para Murid SDN 38 ButtuE yang akan menyeberangi Sungai Limbangan dengan perahu seadanya. Kala arus sungai deras, disitulah mereka terkadang bertaruh nyawa demi merebut pendidikan demi masa depannya. (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para Murid SDN 38 ButtuE yang akan menyeberangi Sungai Limbangan dengan perahu seadanya. Kala arus sungai deras, disitulah mereka terkadang bertaruh nyawa demi merebut pendidikan demi masa depannya. (foto: dok.RPI/palontaraq)

Sepintas dari pinggiran Sungai Limbangan, tampak bangunan kayu, yang sebetulnya adalah bangunan sekolah dasar (SD) diantara perumahan nelayan dan petani tambak. Mereka yang memilih hidup diantara arus sungai yang deras dan hamparan kehidupan diantara tambak yang dikelola dari tuannya, itulah yang menyekolahkan anaknya di pinggir sungai Limbangan tersebut.

Bangunan sekolah itu hanya terdiri dari satu bangunan, 23 muridnya yang disatukan dari kelas 1 sampai kelas 6 SD, meski kadang dibuat dua lokal (kelas), tetap saja hanya kadang digunakan satu kelas, karena jumlah murid yang terbatas.

Para Relawan Pendidikan saat menyusuri Sungai Limbangan. (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para Relawan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE.  (foto: dok.RPI/palontaraq)

Para Relawan Pendidikan saat menyusuri Sungai Limbangan. (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para Relawan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE.  (foto: dok.RPI/palontaraq)

Para Relawan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE.  (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para Relawan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE.  (foto: dok.RPI/palontaraq)

Sekolah ini, yang awalnya adalah kelas jauh dari SDN 12/30 Kampung Buttue, Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang, kini berdiri sendiri dengan sebutan SDN 38 Buttue. Tetap di lokasi yang sama, potret yang sama, kondisi yang sama, dahulunya hanya seorang guru yang merintis dan mengajar, Herlina, yang akrab dipanggil Guru Lina.

Kini, setelah 7 tahun berlalu tak banyak yang berubah, termasuk kondisi sekolah yang tetap saja memprihatinkan. Yang berubah hanya jumlah gurunya yang sekarang berjumlah tiga, seorang diantaranya diamanahi sebagai Kepala Sekolah.

Guru dan murid-murid SD yang ada didalamnya bukanlah potret yang biasa dari kelayakan pendidikan. Sejauh mata memandang sekeliling bangunan sekolah, yang tampak hanya sungai dan pepohonan bakau di sebelah utara bangunan sekolah, sedang di sebelah selatannya adalah hamparan tambak sejauh mata memandang.

Para Relawan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE.  (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para Relawan Pendidikan di tempat tambatan perahu Pinggir Sungai Limbangan, SDN 38 ButtuE.  (foto: dok.RPI/palontaraq)

Para Relawan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE.  (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para Relawan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE.  (foto: dok.RPI/palontaraq)

Di sekolah ini, tak ada tempat upacara, tak ada tiang bendera, tak ada lapangan bermain, tak ada kantin atau warung, tak ada bel tanda masuk kelas. Para murid berbekal makanan dari rumah, bekal seadanya, selain bekal keberanian menyeberangi sungai sendiri dengan perahu seadanya.

Setiap hari yang terdengar bunyi kletak-kletok perahu katinting yang melewati sungai, menenggelamkan suara murid dan guru yang memeluk pendidikan. Kadang suara mereka benar-benar tak terdengar diantara desiran angin pesisir dan hujan deras yang membasuh peluh mereka menjangkau pendidikan saat bertarung nyawa menyeberangi sungai.

Para relawan pendidikan. (foto: dok.RI/palontaraq)
Para relawan pendidikan. (foto: dok.RI/palontaraq)

Para relawan pendidikan. (foto: dok.RI/palontaraq)
Para relawan pendidikan. (foto: dok.RI/palontaraq)

Kami, para relawan jadi tahu potret pendidikan yang tak biasa ini. Mereka yang memilih mengabdi di Sekolah seperti SDN 38 Buttue adalah pejuang yang setiap saat memeluk takdirnya, merajut satu demi satu impian bersama muridnya, dalam bangunan rumah panggung kayu, merebut pendidikan.

Saat jam pelajaran, kadang kita mendapati muridnya lengkap berjumlah 23, namun pada saat yang lain, hanya mendapati ruang kelasnya kosong di karenakan anak-anak tak dapat ke sekolah karena hujan atau karena perahu lagi dipakai orangtua mereka mencari nafkah.

Kunjungan RPI, KPAY FM dan disupport oleh IDE BERBAGI dalam rangka melihat sisi lain potret pendidikan terpendil di Kabupaten Pangkep, khususnya di wilayah pesisirnya, merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Kabupaten Pangkep disebut-sebut sebagai Kabupaten Termiskin kedua di Sulawesi selatan, salah satunya disebabkan karena luas wilayah pesisir dan pulau-pulaunya, berbatasan dengan perairan Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan Kalimantan Selatan.
Para relawan pendidikan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE. (foto: dok.RPI/palontaraq)

WhatsApp Image 2020-02-24 at 17.59.37 (1)
Para relawan pendidikan saat mengajar di SDN 38 ButtuE. (foto: dok.RPI/palontaraq)

“Kehadiran RPI yang berkolaborasi dengan KPAY FM di SDN 38 Buttue Panglep diharapkan memotivasi Adik-adik untuk semangat belajar dan kelak saat mereka besar, mereka kembali membangun daerahnya”, ujar Rahmat yang juga Ketua Panitia Touring pendidikan VIII Peduli Pesisir Pangkep.

Tak hanya memotivasi dan mengajar adik-adik SDN 38 Buttue, Relawan RPI, KPAY FM dan Ide Berbagi juga melakukan sosialisasi pentingnya pendidikan kepada masyarakat setempat yang notabenenya berprofesi sebagai nelayan dan penambak.

“Tiga hari Relawan berada di Lokasi, selain mengajar juga Relawan melakukan perbaikan sekolah, pembuatan Rak buku, Pembagian ATK, dan penyaluran Donasi berupa paket makanan sehat,” ungkap Adnan, yang juga Korlap Kegiatan Touring VIIU Pendidikan Peduli pendidikan Pesisir.

Walaupun tak banyak yang bisa Relawan lakukan, Relawan datang dan kembali dengan penuh harapan majunya pendidikan di Kabupaten Pangkep khususnya di Lokasi kegiatan, di SDN 38 ButtuE, Desa Kanaungan, Labakkang.

Para relawan pendidikan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE. (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para relawan pendidikan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE. (foto: dok.RPI/palontaraq)

Para relawan pendidikan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE. (foto: dok.RPI/palontaraq)
Foto bersama para relawan pendidikan dengan Anak-anak SDN 38 ButtuE. (foto: dok.RPI/palontaraq)

Walau hanya tiga hari namun saat Relawan hendak meninggalkan lokasi, isak Tangis Adik-adik SDN 38 Buttue tumpah ruah, seakan tak ingin berpisah, Wargapun melambaikan tangan dengan tatapan penuh harap kami kembali saat perjalanan pulang.

RPI yang awalnya adalah sinergitas 40 Komunitas, diharapkan dapat bersinergi dengan komunitas di setiap kegiatan, “Alhamdulillah kegiatan Touring pendidikan Ke VIII Kali ini bersinergi dengan KPAY FM dengan menerjunkan Langsung Relawan Traveling ad sedekah ke lokasi dan sedekah berupa paket ATK, bahkan Komunitas IDE Berbagi yang kantor pusat berada di NTB mensuport kegiatan berupa ATK dan paket Makanan Sehat,” ujar Ahmad Yani dzu Himmah S.S., M.Pd yang juga Ketua Umum RPI.

Senada dengan itu, Hamka yang merupakan Ketua KPAY FM berharap, “Kita masih banyak pekerjaan besar, bahwa waktunya sekarang Komunitas Berkolaborasi dan bersinergi bukan berkompetisi untuk melihat lebih banyak potret pendidikan yang memprihatinkan. Disitu kita akan melihat, disitu pula kita akan berbagi dan peduli.”

Para relawan pendidikan saat mendampingi belajar Anak-anak SDN 38 ButtuE. (foto: dok.RPI/palontaraq)
Para relawan pendidikan di Pinggir Sungai Limbangan, ButtuE, Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang, Pangkep. (foto: dok.RPI/palontaraq)

Pemerhati Sosial Pendidikan di Pangkep, M. Farid W Makkulau mengungkapkan rasa terima kasih dan bangganya kepada semua relawan yang terlibat dalam Touring Pendidikan Pesisir Pangkep. “Saya menyampaikan terima kasih dan turut berbangga melihat kepedulian para relawan pendidikan, dari RPI, KPAY FM, dan Ide Berbagi. Tak banyak orang yang bisa diajak peduli dan melihat dari dekat salah satu potret pendidikan memprihatinkan di negeri ini”, imbuhnya.

“Kabupaten Pangkep saat ini menurut Data BPS disebut-sebut sebagai Kabupaten Termiskin kedua setelah Kabupaten Jeneponto di Sulawesi Selatan. Mengurai benang kusut permasalahan pendidikan di Kabupaten Pangkep haruslah dilihat dari berbagai sisi, bukan hanya masalah anggaran pendidikan, tetapi ketersediaan sumber daya guru dan keterpencilan wilayah. Banyak kemudian guru yang memilih ‘melarikan diri’ karena tak tahan ditempatkan di wilayah pesisir dan pulau tanpa fasilitas dan gaji seadanya. Itulah sebabnya banyak potret pendidikan yang lebih menyedihkan dari SDN 38 ButtuE, khususnya di wilayah kepulauan yang jauh, seperti Liukang Kalmas dan Liukang Tangaya. Pangkep merupakan kabupaten yang 90 persen wilayahnya adalah pulau dan laut, dengan 114 pulau berpenghuni,  berbatasan dengan perairan Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan Kalimantan Selatan. Kesemuannya merupakan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, khususnya bagi Pemerintah Kabupaten setempat,” ungkap M. Farid W Makkulau.

“Semoga dengan peran peduli dan berbagi dari Relawan Pendidikan Indonesia, bersama KPAY FM dan Ide Berbagi ini, di SDN 38 Buttue ini, juga menjadi spirit bagi Pemkab setempat, untuk memupuk kesadaran dan kebijakan berkeadilan bagi dunia pendidikan di wilayah pesisir dan pulau,” harapnya.

Jayalah Pendidikan Indonesia, Sinergi Pendidikan untuk Negeri. ❤

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT