Sorry, you have Javascript Disabled! To see this page as it is meant to appear, please enable your Javascript!
Beranda Highlight Belajarlah dari Muhammadiyah

Belajarlah dari Muhammadiyah

Oleh: Mustofa Djufri, Tokoh Muda NU 

PALONTARAQ.ID – JADILAH seperti Muhammadiyah, mandiri dalam segala bidang. Karenanya, sikap-sikap politik dan kenegaraan mereka pun mandiri.

Tidak banyak mudahanah, cari-cari muka, apalagi menjilat penguasa, tidak pernah mengaku paling NKRI, tidak mengaku paling Pancasilais, pengakuan mereka tidak diperlukan sebab tindakan mereka lebih dari cukup untuk menjadi bukti.

Muhammadiyah selalu bisa diharapkan, bahkan saat Revolusi Jilbab di era orde baru, saat siswa-siswa berjilbab begitu didiskriminasikan, sekolah-sekolah Muhammadiyah lah yang menampung mereka. Kasus Suyono Klaten yang dizholimi Densus 88.

Muhammadiyah pula yang advokasi. Kasus penistaan agama oleh Ahok, Muhammadiyah pula yang menempuh jalur hukum beserta elemen lainnya. Muhammadiyah pun banyak mengajukan judicial review atas undang-undang yang merugikan rakyat.

Ketika liberalisme agama menyerang Pemuda-pemuda dan Umat Islam, Pemuda-pemuda Muhammadiyah-lah yang terang-terangan menolaknya.

Berbeda dengan Ormas-ormas yang malahan ikut larut menyatu dengan kemunkaran dengan alasan toleransi dan kebhinekaan yang kebablasan!

Warga Muhammadiyah tak begitu tertarik menjual agama demi uang, sebab perut mereka sudah cukup, mereka mandiri, mereka pun banyak memberi.

Bukan seperti ormas yang menerima hibah tanah hektaran dan bantuan besar setelah mampu menjadi stempel menyetujui Perppu No.2 tahun 2017 (Perppu panik) yang menzholimi umat Islam lainnya.

Lihat pula: Dahsyatnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Saya dengar salah satu kisah dari sesepuh kami, gerakan Misionaris di salah satu kampung kewalahan bersaing dengan Muhammadiyah.

Jadi bukan malah membiarkan dan membantu kristenisasi dgn alasan toleransi dan kebersamaan.

Mereka memberi beras, Muhammadiyah juga memberi beras, mereka buat TK, Muhammadiyah juga buat TK, mereka bagikan permen, Muhammadiyah pun bagikan permen.

Akhirnya, umat lapar itu lebih memilih ngaji ke TK Muhammadiyah, Sama-sama Islam, sama-sama dapat beras.

Saya yakin, semua keberkahan ini berawal dari kata-kata KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dari Muhammadiyah”.

Salam hormat untuk saudaraku keluarga besar Muhammadiyah. Mari kita belajar dari Muhammadiyah. (*)

Lihat pula: PP Muhammadiyah Vs The Wall Street Journal. Siapa yang Berbohong?

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -