Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Beberapa hari lalu, 4 Desember 2021, Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami awan panas guguran yang kemudian menjadi salah satu bencana gunung api paling mematikan di Indonesia pada tahun ini. Apa yang dapat kita pelajari dari bencana semeru ini?
Pertanyaan itu penting karena bencana bukan hanya peristiwa alam. Bencana terjadi ketika ancaman alam bertemu dengan manusia, permukiman, aktivitas ekonomi, infrastruktur, dan kerentanan sosial. Erupsi Gunung Semeru (4/12/2021) lalu mengakibatkan sejumlah korban luka dan meninggal. Posko Tanggap Darurat melaporkan perkembangan penanganan bencana dari erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur per 13 Desember 2021, tercatat ada 48 orang korban meninggal dunia.
Selain itu, 18 orang menderita luka berat akibat erupsi Gunung Semeru. Rata-rata korban mengalami luka bakar akibat terkena guguran lahar. Sementara itu, 12 orang menderita luka ringan. Berdasarkan data dari BNPB, tercatat ada 9.977 orang yang mengungsi karena erupsi Gunung Semeru. Para pengungsi ini tersebar di 148 titik pengungsian di Kabupaten Lumajang.
Selain itu, lebih dari 2.900 Keluarga korban erupsi Gunung Semeru akan direlokasi. Relokasi jadi salah satu penanganan yang harus diprioritaskan, karena warga yang terdampak tidak bisa selamanya tinggal di posko pengungsian. Relokasi akan dilakukan di lahan Perhutani. Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengatakan pihaknya telah mengirim surat ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dan Perhutani.
“Relokasi sudah diputuskan di Desa Sumber Mujur dan Oro-Oro Ombo. Dua desa ini yang kami usulkan ke Menteri LHK dan Perhutani,” ungkap Thoriq kepada Pers di Surabaya, Selasa (14/12/2021). Operasi pencarian korban hilang erupsi Semeru terus dilakukan untuk menemukan dan mengevakuasi korban yang masih belum ditemukan di daerah daerah yang diindikasikan masih terdapat korban hilang akibat erupsi gunung Semeru.
Dalam operasi pencarian tersebut, ratusan personel tim SAR gabungan yang terbagi menjadi 3 search rescue unit (SRU) telah melakukan pencarian korban hilang di 5 titik lokasi, yaitu Kawasan Kajar Kuning, Sungai Curah Kobokan, Kawasan Kebondeli utara, Kampung Renteng, dan Lokasi pertambangan pasir.
Relawan erupsi Gunung Semeru dari luar kota dan kurang berkepentingan diminta untuk pulang. Tujuannya adalah agar tidak terjadi crowded seperti pada hari-hari sebelumnya.
“Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada relawan yang ikut membantu. Namun mengingat banyaknya relawan yang tidak terdaftar dan khawatir terjadi yang tidak kita inginkan, maka Satgas Bencana Erupsi Gunung Semeru melakukan pengurangan relawan yang tidak terkoordinir dengan Basarnas,” ujar Kabag Ops Polres Lumajang Kompol Ariyanto Agus kepada detikcom, Rabu (15/12/2021).
Selain itu, untuk relawan yang ada di rumah-rumah warga, agar bisa berkoordinasi dan sebaiknya bergabung di tenda Basarnas di lapangan Kecamatan Candipuro. Pengurangan relawan oleh Satgas Bencana Alam Erupsi Gunung Semeru sudah dilakukan 2 kali.
Gunung Semeru merupakan gunung api tipe strato dengan puncak Mahameru setinggi sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut, secara administratif berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Aktivitasnya berlangsung di Kawah Jonggring Seloko, di sebelah tenggara puncak Mahameru. Karakter erupsinya antara lain berkaitan dengan penghancuran kubah atau lidah lava yang dapat menghasilkan awan panas guguran.
Peristiwa 4 Desember 2021 sebenarnya tidak muncul tanpa tanda-tanda. Pada 1 Desember 2021, telah terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 1,7 kilometer dari puncak. Bahkan, sebelum kejadian besar 4 Desember, aktivitas tersebut telah menjadi perhatian pemantauan gunung api. Badan Geologi juga menyampaikan informasi mengenai perkembangan aktivitas Semeru kepada pemangku kepentingan daerah pada 1 dan 2 Desember.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami: peringatan tentang aktivitas gunung api tidak selalu berarti masyarakat dapat mengetahui secara tepat kapan dan seberapa jauh suatu awan panas akan meluncur. Inilah salah satu kompleksitas mitigasi bencana gunung api.
Pada Sabtu siang itu (4/12/2021), aktivitas Semeru mengalami perubahan signifikan. Menurut catatan Badan Geologi, sejak sekitar pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir. Sekitar pukul 14.50 WIB, awan panas guguran teramati meluncur ke arah tenggara melalui jalur Besuk Kobokan. BNPB kemudian mencatat aktivitas awan panas guguran yang berdampak ke wilayah masyarakat sekitar pada sore hari.
Peristiwa tersebut kemudian bergerak jauh melampaui gambaran awal yang tersedia. Awan panas menyusuri lembah dan alur sungai. Material vulkanik bergerak cepat dan menghantam wilayah yang berada di jalurnya. Dalam beberapa tempat, suasana berubah menjadi gelap akibat abu dan material vulkanik.
Yang membuat awan panas sangat berbahaya adalah kombinasi kecepatan, suhu tinggi, material vulkanik, dan jalur luncur yang mengikuti topografi. Ia bukan sekadar “asap panas” dari gunung. Awan panas merupakan campuran gas vulkanik panas dan material padat yang dapat bergerak cepat mengikuti lereng atau lembah.
Dalam perkembangan pemeriksaan lapangan setelah kejadian, PVMBG mencatat landaan awan panas mencapai sekitar 11 kilometer, sementara aliran lahar mencapai sekitar 16 kilometer dari puncak pada jalur Besuk Kobokan. Material bahkan meluber keluar dari jalur sungai karena endapan telah memenuhi alur tersebut.
Hari-hari setelah 4 Desember memperlihatkan skala tragedi yang sesungguhnya. Pada 6 Desember, BNPB mencatat 15 orang meninggal dunia, 27 orang hilang, dan 5.205 orang terdampak. Saat itu, lebih dari 1.700 orang telah mengungsi. Rumah yang terdampak sementara tercatat sekitar 2.970 unit, 38 fasilitas pendidikan terdampak langsung, dan Jembatan Gladak Perak putus.
Angka korban kemudian terus diperbarui seiring proses pencarian dan identifikasi. Pada 21 Desember, korban meninggal yang tercatat mencapai 51 orang, sementara 10.395 warga mengungsi di 410 titik pengungsian. Sebagian korban yang selamat mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan.
Angka-angka itu penting, tetapi angka tidak pernah sepenuhnya mampu menggambarkan penderitaan manusia. Di balik satu angka korban jiwa ada sebuah keluarga. Di balik satu rumah rusak terdapat ruang hidup yang mungkin dibangun bertahun-tahun. Di balik satu sekolah terdampak terdapat proses belajar anak-anak yang tiba-tiba harus berpindah tempat.
Bencana juga memutus rutinitas. Orang tidak hanya kehilangan rumah. Mereka kehilangan tempat bekerja, akses jalan, kebun, ternak, fasilitas pendidikan, fasilitas umum, dan jaringan sosial yang selama ini membentuk kehidupan sehari-hari.
Pantauan udara BNPB memperlihatkan kawasan sepanjang aliran lahar di Curah Kobokan tertutup material vulkanik. Vegetasi mengalami kerusakan, banyak pohon tumbang dan mati, sementara Jembatan Gladak Perak mengalami kerusakan sehingga jalur darat Lumajang–Malang terputus.
***
Salah satu pelajaran penting dari Semeru adalah bahwa berakhirnya kejadian utama tidak berarti berakhirnya ancaman. Setelah erupsi, material vulkanik yang menumpuk di lereng dan alur sungai dapat menjadi sumber bahaya baru. Ketika hujan turun, material tersebut dapat terbawa menjadi lahar.
Karena itu, setelah 4 Desember masyarakat tidak hanya menghadapi ancaman awan panas dan guguran lava, tetapi juga potensi lahar. Badan Geologi memperingatkan potensi tersebut terutama di sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru. Pada 16 Desember 2021 pukul 23.00 WIB, status aktivitas Gunung Semeru kemudian dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) karena aktivitas gunung api masih tinggi dan terdapat peningkatan jarak luncur awan panas serta aliran lava.
Dengan demikian, Desember 2021 bukanlah satu hari bencana. Ia adalah rangkaian krisis yang berlangsung selama berminggu-minggu: erupsi, pencarian korban, pengungsian, ancaman susulan, kerusakan infrastruktur, kebutuhan dasar, relokasi, hingga pemulihan.
Menjelang akhir Desember 2021, penanganan mulai memasuki masa transisi menuju pemulihan. Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan masa transisi darurat selama 90 hari. Salah satu agenda pentingnya adalah penyediaan hunian sementara dan persiapan relokasi warga terdampak.
Pada 21 Desember, BNPB mencatat dua lokasi relokasi telah dipilih di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, dan Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, dengan total area sekitar 90,98 hektare. Relokasi adalah solusi penting, tetapi relokasi bukan sekadar memindahkan rumah.
Manusia memiliki hubungan dengan ruang hidupnya. Inilah dimensi sosial dari mitigasi bencana yang terkadang kurang terlihat dalam pemberitaan. Apa yang Kita Pelajari? Pertama, literasi kebencanaan harus menjadi budaya. BNPB sendiri dalam refleksi kebencanaan 2021 menekankan pentingnya literasi kebencanaan. Sepanjang 2021 tercatat 3.092 kejadian bencana di Indonesia, dengan banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor sebagai kejadian yang dominan.
Artinya, pengetahuan tentang bencana tidak boleh hanya muncul ketika bencana terjadi. Anak-anak sekolah perlu tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa. Masyarakat di sekitar gunung api perlu mengenali jalur evakuasi. Warga di sekitar sungai yang berhulu di gunung api perlu memahami risiko lahar. Literasi kebencanaan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kedua, peringatan dini harus sampai menjadi tindakan. Teknologi pemantauan gunung api sangat penting. Tetapi informasi yang berhenti pada layar monitor belum menjadi keselamatan. Informasi harus dapat dipahami masyarakat. Lebih jauh lagi, masyarakat harus tahu kapan harus berhenti bekerja, ke mana harus pergi, jalur mana yang aman, dan siapa yang harus dihubungi. Peringatan dini yang baik pada akhirnya harus berujung pada tindakan dini.
Ketiga, jangan mengabaikan sungai sebagai jalur bahaya. Dalam kasus Semeru, Besuk Kobokan menjadi salah satu jalur penting pergerakan material vulkanik. Pemerintah dan Badan Geologi kemudian terus memperbarui peta kawasan rawan bencana serta memperkuat pemantauan. Ini memberikan pelajaran sederhana: masyarakat perlu memahami bahwa lembah dan sungai yang tampak biasa dapat menjadi jalur bencana ketika berada di bawah gunung api aktif.
Keempat, pembangunan harus mengikuti peta risiko. Bencana sering kali bukan hanya soal “alam yang berbahaya”, tetapi juga tentang di mana manusia membangun kehidupan. Karena itu, peta kawasan rawan bencana harus menjadi bagian penting dalam tata ruang, pembangunan permukiman, infrastruktur, sekolah, dan fasilitas publik. Rumah yang dibangun di tempat aman merupakan salah satu bentuk mitigasi.
Kelima, pemulihan harus memulihkan manusia, bukan hanya bangunan. Rumah dapat dihitung. Jembatan dapat dihitung. Sekolah dapat dihitung. Tetapi trauma, kehilangan, rasa takut, dan putusnya jaringan sosial tidak selalu mudah masuk ke dalam tabel statistik. Karena itu, pemulihan pascabencana membutuhkan pendekatan yang lebih luas: ekonomi, pendidikan, kesehatan, psikososial, sosial, budaya, dan lingkungan.
Semeru mungkin tetap bergemuruh. Tetapi semestinya manusia yang tinggal di sekitarnya kini memiliki pengetahuan, kesiapsiagaan, dan sistem perlindungan yang lebih kuat daripada sebelum 4 Desember 2021. Sebab pada akhirnya, pelajaran terbesar dari sebuah bencana bukanlah seberapa besar kehancuran yang ditimbulkannya, melainkan seberapa serius manusia belajar agar kehancuran serupa tidak berubah menjadi tragedi yang sama. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Blogger dan Jurnalis Independen


