Beranda Highlight Hati-hati dengan Ucapan "Selamat yang Mencelakakan"

Hati-hati dengan Ucapan “Selamat yang Mencelakakan”

 

Related Post: Fatwa MUI tentang Larangan Perayaan Natal Bersama

Oleh: Joko Prasetyo, Jurnalis/Pengasuh Rubrik Kristologi Tabloid Media Umat

PALONTARAQ.ID – Benarkah turut merayakan Natal atau setidaknya mengucapkan “Selamat Natal” merupakan bukti umat Islam itu toleran?

Bolehkan mengucapkan “selamat” dengan dalih, “Kita tidak menyembah sesembahan mereka kok, kita hanya mengucapkan selamat saja”?

Bagaimana kalau memakai atribut Natalnya, misal pakai topi Sinterklas, karena itu perintah atasan atau aturan perusahaan tempat kita bekerja?

https://www.tintasiyasi.com/2020/12/hati-hati-dengan-ucapan-selamat-yang.html

Hari Natal adalah hari yang diyakini kaum Nasrahi sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru selamat Anak Tuhan.

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Injil Lukas Pasal 2 Ayat 11).

Artinya, mereka meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih (Ar-Rahmaan) mempunyai anak! Naudzubillahi mindzalik!

Dengan berbagai dalih, umat Islam kerap diajak untuk turut merayakannya, mengenakan atributnya atau sekadar mengucapkan “selamat” kepada mereka yang tengah merayakannya.

Padahal dalam ajaran Islam jelas itu merupakan perbuatan haram. Banyak dalih yang mereka sampaikan, tiga di antaranya sebagai berikut.

Dalih pertama, turut merayakan Natal atau setidaknya mengucapkan “Selamat Natal” merupakan bukti umat Islam itu toleran.

Jawab: Islam memang mengajarkan toleransi dalam artian tidak memaksa pemeluk agama lain masuk Islam dan tidak mengganggu peribadatan mereka.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” (QS al-Baqarah: 256).

Sedangkan turut merayakan maupun mengucapkan selamat bukan toleransi melainkan partisipasi yang jelas-jelas diharamkan dalam ajaran Islam.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah:Hai orang-orang kafir, (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (2) Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. (3) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, (4) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. (5) Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (6)” (QS al-Kafirun: 1-6).

Related Post: Pendapat Ulama Imam Madzhab terkait Upacara Hari Raya Non-Muslim

Dalih kedua, kita tidak menyembah sesembahan mereka kok, kita hanya mengucapkan “selamat” saja.

Jawab: Ucapan itu ringan disebutkan tetapi besar dampaknya di hadapan Tuhan. Ucapan syahadat membedakan orang Islam dan orang kafir.

Ucapan akad nikah membedakan suami istri dengan orang berzina. Begitu juga dengan ucapan selamat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan “selamat” itu artinya: doa ucapan, pernyataan, dan lain sebagainya yang mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dan lain sebagainya).

Dan kata “selamat” tersebut diucapkan kepada orang yang sedang natalan (merayakan kelahiran Yesus sebagai anak Tuhan), tentu saja Allah SWT akan sangat murka kepada kita.

“Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendawakan Allah Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmaan) mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” (QS Maryam: 88-92).

Related Post: Menag sebut Ucapan Natal tak ganggu Aqidah?

Dalih ketiga, kita memakai atribut Natal, misal pakai topi Sinterklas, enggak apa-apa karena itu perintah atasan atau aturan perusahaan tempat kita bekerja.

Jawab: ini merupakan hasutan yang menyesatkan. Karena selain bertentangan dengan ajaran Islam, perintah atasan atau aturan perusahaan tersebut bertentangan pula dengan konstitusi negeri ini, yakni melanggar Undang-Undang Dasar tahun 1945 Pasal 28E UUD 1945 yang mengatur kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Wakil Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat itu Ustadz Tengku Zulkarnain meminta karyawan-karyawan Muslim aktif melapor jika ada perusahaan yang memaksa mereka mengenakan atribut Natal.

Laporan tersebut menurutnya bisa dilakukan langsung kepada aparat kepolisian, atau melalui organisasi buruh dan MUI. “Laporkan jika perusahaan memaksa,” katanya saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (14/12/2018).

Ia mengatakan, MUI tidak akan ragu-ragu untuk memidanakan perusahaan yang memaksa karyawannya memakai simbol-simbol agama kepada yang berlainan agama.

Apalagi, setelah setiap tahun MUI mengeluarkan himbauan tersebut, tapi tidak diindahkan oleh perusahaan-perusahaan.

Itulah beberapa tips menolak ajakan merayakan, mengucapkan atau pun menggunakan atribut Natal. Semoga bermanfaat adanya.[]

Lihat pula: Kontroversi KH. Ma’ruf Amin terkait Ucapan Selamat Natal

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT