BerandaSejarahResensi Buku: "Bung Karno - Penyambung Lidah Rakyat Indonesia"

Resensi Buku: “Bung Karno – Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Menemukan Foto Soekarno dalam Buku Tiongkok 1957

PALONTARAQ.ID – Alhamdulillah, hari ini, Rabu (9/9/2020) menyempatkan singgah jalan-jalan ke Makassar Town Square (MTos), Makassar dan salah satu pencarian saya kalau ke Mall yang berada di bilangan Jalan Urip Sumorhardjo tersebut, adalah keharusan memasuki Toko Buku Grahamedia. Salah satu buku yang penulis beli adalah Buku “Bung Karno – Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, edisi revisi, cetakan ke-4, 2014 yang mana diterbitkan oleh Penerbit Media Pressindo bekerjasama dengan Yayasan Bung Karno.

Identitas Buku:

Judul Buku: Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Penulis: Cindy Adams

Penerjemah: Syamsu Hadi

Judul Asli: Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams

Penerbit Asli: The Bobbs-Merrill Company Inc, New York, 1965

Penerbit: Media Pressindo (dan beberapa penerbit lain untuk cetakan ulang)

Tebal: 432 hlm; 16×24 cm.

Mengapa penulis membeli buku ini? Buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” bukanlah sekadar biografi biasa. Buku ini adalah sebuah otobiografi—disampaikan langsung oleh Soekarno sendiri kepada seorang jurnalis Amerika, Cindy Adams. Posisi unik inilah yang menjadikan buku ini sebuah mahakarya yang fundamental bagi siapa pun yang ingin memahami tidak hanya alur sejarah perjuangan Indonesia, tetapi juga jiwa, pemikiran, dan gejolak batin dari sang Proklamator.

Cindy Adams berhasil menjalankan perannya bukan sebagai penulis, melainkan sebagai “penyambung lidah” itu sendiri, menyalurkan suara, karisma, dan semangat Soekarno ke dalam lembaran-lembaran kertas.

Buku ini mengalir laksana Soekarno sedang duduk di hadapan kita dan bercerita. Dengan gaya tutur “aku”, pembaca diajak menyusuri perjalanan hidupnya yang luar biasa, dimulai dari kelahirannya yang ditandai fajar menyingsing, masa kecilnya di Tulungagung dan Mojokerto, hingga pertemuannya dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti H.O.S. Tjokroaminoto yang membentuk kesadaran politiknya.

Narasi berlanjut ke masa studinya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), di mana ia mengasah pemikiran-pemikiran revolusionernya dan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Soekarno dengan gamblang menceritakan masa-masa pembuangannya yang penuh penderitaan di Ende dan Bengkulu, hingga momen-momen krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Lebih dari sekadar catatan politik, buku ini menyelami sisi-sisi personal Soekarno: kecintaannya pada seni, kekagumannya pada wanita, keyakinan spiritualnya yang mendalam, serta hubungan emosionalnya dengan sang ibu. Pembaca akan menemukan penjelasan langsung dari Soekarno mengenai konsep Marhaenisme, Pancasila, dan visinya tentang Indonesia sebagai bangsa yang besar dan berdaulat.

Kelebihan Buku

  1. Gaya Penceritaan yang Personal dan Hidup. Dengan sudut pandang orang pertama, buku ini terasa sangat intim. Gaya bahasa yang digunakan begitu hidup, berapi-api, dan penuh karisma, merefleksikan kepribadian Soekarno sebagai seorang orator ulung. Pembaca seolah-olah mendengar langsung suara Bung Karno.
  2. Sumber Sejarah Primer. Sebagai otobiografi, buku ini adalah sumber primer yang sangat berharga. Kita mendapatkan pemahaman tentang peristiwa-peristiwa besar dari perspektif pelaku utamanya. Alasan di balik keputusan-keputusan politiknya diungkapkan secara langsung.
  3. Mengungkap Sisi Manusiawi. Buku ini berhasil menampilkan Soekarno sebagai manusia seutuhnya. Tidak hanya sebagai seorang pemimpin besar, tetapi juga sebagai anak, suami, dan individu yang memiliki ketakutan, harapan, dan impian. Ini membuat sosoknya lebih mudah dijangkau dan dipahami.
  4. Konteks Sejarah yang Kaya. Melalui cerita hidup Soekarno, pembaca secara otomatis mempelajari sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, lengkap dengan dinamika politik, sosial, dan budayanya.

Kekurangan Buku

  1. Subjektivitas yang Tinggi: Sebagai otobiografi, kelemahan utamanya adalah subjektivitas. Narasi yang disajikan adalah versi kebenaran menurut Soekarno sendiri. Peristiwa atau tokoh lain mungkin digambarkan berdasarkan persepsi pribadinya, sehingga untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan objektif, pembaca perlu membandingkannya dengan sumber-sumber sejarah lainnya.
  2. Potensi Glorifikasi Diri: Wajar jika dalam menceritakan kisahnya sendiri, seorang tokoh akan lebih menonjolkan keberhasilan dan pembenaran atas tindakannya. Beberapa bagian mungkin terasa sebagai upaya untuk membangun citra atau warisan yang ingin ia tinggalkan.

Penutup dan Rekomendasi

Buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” adalah buku wajib bagi setiap warga negara Indonesia. Ia bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah percakapan panjang dengan Bapak Bangsa. Kekuatan terbesarnya terletak pada kemampuannya untuk menginspirasi dan menyalakan kembali api nasionalisme melalui cerita yang personal dan penuh gairah.

Meskipun subjektif, nilai buku ini sebagai jendela untuk memahami alam pikir, visi, dan semangat Soekarno tidak ternilai harganya. Sangat direkomendasikan untuk para pelajar, mahasiswa, penggiat sejarah, calon pemimpin, dan siapa saja yang ingin mengenal lebih dalam sosok di balik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Membaca buku ini adalah sebuah pengalaman untuk diselami, bukan sekadar untuk diketahui.

Semoga catatan resensi ini bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Peresensi Buku Bermutu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT