Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Artikel ini tidak sedang menyebarkan “Paham” suatu ajaran atau menjelaskan tata cara “Ber ibadah” ajaran tertentu, Apalagi menistakan atau melecehkan
Pengertian Ritual: “Ritual”….mengandung makna pengulangan sebagaimana dilakukan dengan cara yang serupa pada zaman atau era sebelumnya….
Artinya, ritual tidaklah dikarang oleh para pelaku atau kelompok pelaku menurut asumsi pengertian subjektif perorangan atau kumpulan orang orang di suatu tempat dan pada waktu tertentu
“Suci” atau praktika suci di sebut tindakan religius mempunyai arti makna sebagai berikut
“Tindakan Religius” merupakan upaya untuk mencari jalan keselamatan jiwa melalui pola peribadatan dengan tujuan menjalin komunikasi antar sesama juga dengan alam transenden….
Di antara aplikasi dari “Tindakan Religius” adalah “Gerakan Berputar pada Poros”
Ritual ini, tidaklah dikarang oleh pelaku per orangan seorang individu manusia atau kelompok pelaku yang menurut asumsi pengertian subjektif perorangan atau kumpulan orang orang di suatu tempat dan pada waktu tertentu
Gerakan berputar mengelilingi objek juga terjadi di alam raya, sebagai gerakan pasti dan alami dalam konstanta yang sempurna di jagat raya
“Nebula” berputar ke arah kiri berlawanan dengan arah jarum jam atau “Counterclockwise”dari porosnya
Terjadi nya “Materi” dalam kejadian “Big Bang” akibat ada putaran yang berlawanan, istilah fisika kimia ini disebut daya inversitas atau “Pembalikan”
Obyek yang terinversikan akan berbelah menjadi lawan yang akhirnya dengan ini terjadilah “Materi” dan “Anti Materi”,Kemudian Bumi “Berputar” mengelilingi matahari
Kaidah “Tangan Kanan” dalam fisika
Jika sebatang konduktor atau logam dikelilingi oleh listrik yang bergerak berlawanan dengan jarum jam, maka di konduktor itu akan muncul medan gelombang elektromagnetik yang mengarah ke atas yaitu arah ibu jari menunjukkan arah arus listrik dan arah lipatan jari yang lain menunjukkan arah medan magnet
Tanaman merambat berjenis lunak akan merambat melingkari tanaman kayu keras induk berputar berlawanan arah jarum jam
Karena tanaman induk kayu bersuhu lebih panas dari yang merambati dan jika tanaman merambat sesama jenis lunak, ia saling membelit melingkar se arah jarum jam untuk kemudian terpisah atau melompat merambat pada pohon kayu jenis keras dan “Berubah arah” melingkarinya berlawanan arah jarum jam
Artinya…
Gerak berputar ke arah “Kiri” berlawanan dengan arah jarum jam “Counterclockwise” juga putaran ke “Kanan” “Clockwise” arah jarum jam,ini adalah gerak alamiah sebagai sikap “Komunikasi”terhadap alam, tidak di tafsirkan “Baik” atau “Buruk”
Ritual ini, tidaklah dikarang oleh pelaku per orangan seorang individu manusia atau kelompok pelaku yang menurut asumsi pengertian subjektif perorangan atau kumpulan orang orang di suatu tempat dan pada waktu tertentu
Gerakan berputar mengelilingi objek ini tercatat dalam beberapa kitab suci antara lain :
Al quran,al-Hajj : 29 “… dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu ” ..
Mazmur 26:6 (TB) Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah, lalu berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya TUHAN
Dalam Alkitab ,Raja Daud sudah bertawaf memutari mesbah suci,rumah Allah/baitallah,Jauh Sebelum nabi Muhammad lahir,
Ajaran “Dharmic” : Purwadaksina (Pradaksina) dan Prasawiya (Utarayana), yang artinya berputar ke kanan (searah jarum jam) dan berputar ke kiri (berlawanan arah jarum jam), dipahami sebagai peningkatan status atau menuju Swahloka-Utama (untuk Purwadaksina)
Dalam tradisi “Theravada”, Ritual Pradaksina dimaknai sebagai bentuk penghormatan yang ditunjukkan pada Triratna, penerapan “Dharma’ di kehidupan sehari-hari.Dalam tradisi “Mahayana”, Ritual Pradaksina dimaknai sebagai meditasi, melatih konsentrasi dan kesadaran pada umat yang menjalankan dengan cara berjalan yang termasuk dalam praktik meditasi
Yang Arya Maha Kassapa melakukan penghormatan terakhir untuk Buddha Gautama dengan membaca parrita-parrita (mantra yang berkaitan dengan ajaran Dhamma) disertai dengan mengelilingi tubuh Buddha sebanyak 3 kali putaran searah jarum jam seperti yang
dilakukan oleh Brahma Sahampati
Warga Tibetan, Melakukan ritual ‘’Kowtow’’ ritual jalan kaki memutari tempat suci, Ritual dilakukan dengan cara berhenti di setiap tiga langkah kaki, lalu mengatupkan kedua tangan ke atas kepala, menurunkan tangan di depan mulut dan di depan dada,memutar searah jarum jam
Telaah kajian pada literasi catatan sejarah :
Asal-usul Agama di lndia dimulai masuknya Bangsa Arya/ Cakya /Saka yang membawa perubahan yang sangat besar dalam tata kehidupan masyarakat India sejak 3.102 SM sampai 1.300 SM yang kemudian menulis Veda di daratan india saat ini
Leluhur bangsa Indonesia terdahulu para “Brahman” disebut oleh sejarawan eropa sebagai “Brahmanism” sebelum “Veda” di tuliskan mereka adalah kaum Saka para Aryan membawa ajaran nya “Dharmic Original” ke luar Nusantara mendasari lahirnya Buddhism, Hinduism dan Jainsm jauh sebelum nama nama yang tercatat di bawah ini yaitu :
Dharmadasa 700-620 SM
Dharmapala 670-580 SM
Sañjaya Belaṭṭhaputta 6 SM
Sariputra 568-484 SM
Svarnadvipa Dharmakirti 610 SM – 520 SM ( ada 2 nama pada masa berbeda)
Kumarila Bhatta I 618-540 SM
Adi Sankara 569-537 SM
Çhri Janaýasã – Dhapunta Hyam 671–702 M
Rshi Mārkaṇḍeya,abad ke 9 M,
Ajaran Brahmana “Dharmic” yang di bawa kaum “Arya/Cakya/Saka” adalah leluhur kita jauh sebelum nya dan di kemudian hari menjadikan munculnya penafsiran terhadap kitab suci Catur Veda yang melahirkan, Aranyaka dan upanizad,”Veda” dipelajari dan ditafsirkan dengan bebas, Kebebasan ini menyebabkan timbulnya beberapa ajaran dan aliran yang berbeda-beda :
Pada tahun 563–483 SM,Lahir Sidharta Gautama tokoh “Buddhism”
Pada tahun 549–477 SM, Lahir Mahavira tokoh “Jainsm”
Pada abad 9 M, Era Inggris di india lahir agama yang tidak berasal dari seorang pendiri atau satu titik waktu sebagaimana agama lain untuk membedakan tidak keduanya terdahulu juga tidak Islam
Di Svarnadvipa Indonesia pada masa yang lebih tua lagi….jauh sebelum zaman Veda 6.500 SM telah ada ajaran yang di anut yaitu “Dharma”….ajaran asli Nusantara kaum Saka nenek moyang kita,disinilah sumber dasar utama ajaran “Dharmic Original”…..
Kemudian pada era setelah nya tercatat para tokoh pelopor nya yaitu mereka tokoh pelopor “Dharmic” yang tercatat pada saat timbulnya beberapa pemahaman ajaran yang berbeda-beda diluar nusantara setelah veda di tuliskan di India
Nusantara Indonesia terdahulu adalah lokasi dimana ajaran “Dharma” ber mula dan berasal, mari kita simak data literasi diantaranya :
Dalam teks pasca-Veda, Mahabharata Udyoga Parva (108) : “Timur” digambarkan sebagai tanah air asal budaya “Veda”, di mana “Pencipta” alam semesta pertama kali menyanyikan “Veda”…..
….”Timur” adalah Nusantara Indonesia terdahulu, lokasi dimana “Ajaran” awal sebelum “Veda” di tuliskan di India…disini sumbernya
Ritual suci berputar mengelilingi objek tercatat oleh para peziarah tiongkok dan Archeolog Belanda catatan peziarah Tiongkok yang lain yang belajar ke Nusantara
Berdasar studi data literasi pada catatan perjalanan Xuanzang/ Hieun – Tsang 602 – 664 M oleh Samuel Beal tahun 1884 ISBN-10:8120811070
Pada tahun 399-414 M Fa-Hien dalam perjalanan di svarnadvipa mencatat sbb …….mengikuti sungai Po-Nai (ini adalah sungai Pana’i, kampar)…di tempat “di mana para pelajar pernah tinggal di situ dan melakukan gerakan… “berjalan berputar”… mengelilingi “Tope”/Stupa juga 4 guru duduk di 4 sudut, di tempat ini “Menara”…telah didirikan
Yang di lihat dan di catat Fa-Hien adalah ia menyaksikan para Brahmana melakukan gerakan “Berputar” mengelilingi situs muaratakus
Pada tahun 602 – 664 M,Hieun-Tsang, mencatat apa yang di lihat nya di svarnadvipa….di sampingnya ada stupa yang dibangun oleh rāja, sekitar 200 kaki tingginya…di dekat ini ada bekas tanda di mana Tathāgata berjalan ke sana kemari….
Yang di lihat dan di catat Hieun-Tsang adalah ia menyaksikan para Brahmana melakukan gerakan “Berputar” mengelilingi situs muaratakus
Pada tahun1935, F.M.Schnitger,ilmuwan Belanda mengeksplorasi hutan Muara Takus, di tepi sungai Kampar Kanan, menyaksikan fenomena….ketika bulan purnama menyinari, sekumpulan gajah menyeberangi sungai dan pergi ke kuil suci,mereka berkumpul melingkari & berkeliling …memutari menara tinggi …
Yang di lihat dan di catat F.M.Schnitger adalah ia menyaksikan sekelompok hewan gajah melakukan gerakan “Berputar” mengelilingi situs muaratakus
Artinya …
Gerakan suci berputar mengelilingi objek “Sudah” pernah di lakukan jauh sebelum para peziarah Tiongkok datang ke Nusantara Indonesia terdahulu, Juga sebelum lahirnya ajaran Buddha, Hindu dan Jaina di India
Tahap lanjut dalam upaya menyeimbangkan “Daya” yang ada di sekitar diri kita dan yang ada di dalam diri kita adalah dengan menggerakkannya atau disebut juga “Pemutaran”, dibutuhkan pemutaran ke arah kanan atau Timur ke Selatan di sebut Pradaksina (PurwaàDaksina), Pemutaran ke kiri arah Timur ke Utara atau Prasawiya (PurwaàUttara)
Kedua jenis putaran ini bukan tentang mana yang baik atau mana yang buruk, masing-masing putaran mempunyai kegunaan dan hasil yang berbeda
Pandangan konsep filosofi Pradaksina ini telah dibawa oleh Bangsa Aria kaum Saka leluhur bangsa Indonesia terdahulu dengan simbol pergerakan matahari sebagai simbol “Swastika”…
Swastika ini adalah keberuntungan yang mengandung makna “Dharma” keharmonisan universal serta keseimbangan, Makna dan simbol itu hingga kini masih tersimpan sempurna pada budaya Bali
Prinsip berbusana adat Bali memenuhi Triangga, Wesa, Nyasa, Purwadaksina dan Prasawiya” ini bukan tatacara “Hindu” india
Kesimpulan :
Pandangan konsep filosofi ….”Gerakan berputar pada poros” adalah pengulangan sebagaimana dilakukan dengan cara yang serupa pada zaman atau era sebelumnya…
Ritual suci ini telah dibawa oleh Bangsa Aria/Cakya/Saka leluhur bangsa Nusantara yang mengambil pergerakan matahari sebagai simbol “Swastika” Bali menyimpan sempurna makna ini dalam kesehariannya dan pada proses pelaksanaan nya di kemudian hari menjadi bernama : Pradaksina, Kowtow, Purwadaksina, Prasawiya, Tawaf…..
Gerakan suci berputar mengelilingi objek “Sudah” pernah di lakukan jauh, sebelum lahirnya ajaran Buddha, Hindu dan Jaina di India
Nusantara Indonesia terdahulu adalah lokasi dimana ajaran “Dharma” ber mula dan berasal, yang menjadi cikal bakal terlahirnya 3 Ajaran baru di india
….dan kini “Dua” diantara ajaran itu di “labelkan” di Borobudur sejak negara mengadakan upacara “Tri Suci Waisak” secara nasional di Borobudur pada 22 Mei 1953, Juga Prambanan….ini harus di klarifikasi. (*)
(* Santo Saba Piliang, Revicionist History dan Penggagas Exploration & Research – INDONËSIARYĀ – True Back History of Indonesia.


