Highlight Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

-

- Advertisment -

 

Laporan: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Patung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin yang sosok dan karakter wajahnya berbeda-beda bertebaran di beberapa titik Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.

Patung Sultan Hasanuddin yang terbaru adalah Patung setengah badannya yang terdapat di Kompleks Makam Raja-raja Gowa, berada di Kecamatan Sombaopu dan diresmikan pada Tanggal 16 Juli 2019 lalu.

Peresmian revitalisasi makam Sultan Hasanuddin. (foto: ist/palontaraq)
Peresmian revitalisasi makam Sultan Hasanuddin. (foto: ist/palontaraq)

Tampak Wajah Sultan Hasanuddin ini berbeda dari Patung Sultan Hasanuddin yang sudah ada sebelumnya. Patung yang ini menggambarkan wajah Sultan Hasanuddin dihiasi kumis yang bersambung dengan janggut lebat.

Penampakan sosok dan karakter tampang Sultan Hasanuddin tersebut praktis menjadi perbincangan dan dipertanyakan oleh kalangan pelajar/santri yang mengikuti Studi Wisata Sejarah Komunitas Palontaraq beberapa bulan lalu sebelum adanya Pandemi Covid-19.

Penulis disamping Patung Sultan Hasanuddin terbaru
Penulis disamping Patung Sultan Hasanuddin terbaru. (foto: ist/palontaraq)

Menurut Perupa, Ahmad Anshari, bahwa karya patung itu lebih disebabkan ego senimannya yang dominan sehingga mengalirlah gambaran wajah itu ke karyanya.

“Setiap kali seniman berkarya, siapapun itu selalu ingin menghadirkan jiwa dan raganya melalui olah rasanya pada karyanya, itulah sebabnya karakter wajah pada karya seni rupa pada setiap daerah lain karakternya, karena menyesuaikan karakter senimannya,” ujarnya.

“Jadi, kalau menurut saya, nikmati saja karya itu, yang penting tidak berbeda penamaannya. Kalau wajahnya yang berbeda tak mengapa. Karena itupun juga cuma prediksi wajah,” tambahnya.

Gazebo Sultan Hasanuddin ditengah Kompleks Makam Raja-raja Gowa-Tallo. (foto: ettaadil/palontaraq)
Gazebo Sultan Hasanuddin ditengah Kompleks Makam Raja-raja Gowa-Tallo. (foto: ettaadil/palontaraq)

Sementara itu, perupa lainnya, Nurdin Abu mengungkapkan bahwa sejatinya dalam pembuatan patung, khususnya patung pahlawan atau tokoh, yang ditekankan adalah nilai historisnya atau simbol kepahlawanannya, bukan bentuk fisiknya.

“Yang paling penting itu adalah tergambar karakter historisnya, bukan semata bentuk fisiknya,” imbuhnya.

Demikianlah menurut Ahmad Anshari dan Nurdin Abu, dua perupa ini selain dikenal sebagai seniman dan penyair, juga dikenal sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pangkajene dan SMA Negeri 1 Pangkajene. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you