Kesehatan Sekolah buka lagi?

Sekolah buka lagi?

-

- Advertisment -

Oleh: Ahmad Hadiwijaya, Dokter Anak/Korlap Relawan Covid-19 ALPUKAT

PALONTARAQ.ID – Satu persatu fasilitas umum dibuka dan diaktifkan. Diawali dengan pembukaan bandara yang langsung dipadati pemudik, mall dan tempat belanja kaum menengah keatas yang langsung diserbu mereka yang berduit.

Semuanya dengan alasan ‘new normal’. New normal yang dilakukan dalam waktu yang tidak tepat.

New normal layaknya dilakukan pada keadaan dimana infeksi telah dikendalikan, tidak terdapat lagi pertambahan kasus berarti, fasilitas kesehatan sudah begitu rapi dalam pencegahan hingga penanganan kasus Covid-19, dan masyarakat tidak lagi memperlihatkan muka masam ketika dianjurkan untuk jaga jarak, cuci tangan dan memakai masker.

Itulah saat yang tepat buat new normal, fase dimana berjalan biasa walaupun virus masih ada tapi dalam kendali kita.

Kini, wacana pembukaaan sekolah juga mulai dibicarakan. Apakah sudah waktunya?

Apresiasi yang sebesar besarnya kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang telah mengarahkan seluruh jajarannya untuk mengubah konsep sekolah tatap muka menjadi sekolah jarak jauh (daring), perubahan yang sangat berarti, cepat, dan sangat bermanfaat dalam pengendalian Covid-19.

Tidak ditemukan kesulitan berarti dalam sistem belajar daring ini, kecuali sedikit kegalauan dan kerepotan orang tua karena harus menjadi pendamping dan pengarah bahkan kadang kadang jadi pengajar juga. Sesuatu yang sangat wajar.

Semua sekolah dan pengajar memodifikasi sistem mengajar agar bisa bermanfaat, sebermanfaat waktu masih tatap muka. Semuanya berjalan, sejalan dengan “zaman online” yang ada saat ini.

Salut dan apresiasi sebesar besarnya buat para pengajar, guru dan dosen. Mereka tetap menjadi ujung tombak pencerdasan bangsa di tengah badai pandemi.

Kembali ke wacana pembukaan sekolah, agar dapat dipertimbangkan kembali dan sebaiknya tidak dilakukan.

Jumlah kasus covid-19 masih terus meningkat menuju puncak pandemi terlebih setelah pelonggaran PSBB dimana-mana.

Dua negara (Perancis dan Finlandia), telah memperlihatkan contoh yang nyata penambahan kasus positif Covid-19 dari murid dan guru setelah pembukaan sekolah disaat kasus Covid-19 belum terkendali di negara itu.

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menunjukkan hingga tanggal 18 mei 2020, tercatat 3.324 anak PDP, 129 anak berstatus PDP meninggal, 584 anak terkonfirmasi positif Covid-19, dan 14 anak meninggal karena Covid-19.

Data tersebut menunjukkan angka kesakitan dan kematian anak akibat Covid-19 tinggi di Indonesia dan tidak benar bahwa anak tidak rentan menderita Covid-19 atau hanya menderita sakit ringan saja.

Keadaan-keadaan tersebut diatas tidak ada yang mendukung untuk mulai dibukanya sekolah dan dimulainya pembelajaran tatap muka. Tetaplah belajar jarak jauh.

Memodifikasi sistem belajar agar tetap dalam protokol pencegahan Covid-19 akan sangat tidak efektif dan masih rentan celah penularan. Transmisi virus akan sulit dikendalikan dalam satu kerumunan.

Menganjurkan memakai masker dan face shield selama proses belajar mustahil dapat dilakukan maksimal oleh anak anak kita yang masih usia PAUD, TK dan SD.

Usia SMP dan SMA pun pasti masih sulit betah dalam masker dan face shield, demikian juga dengan menganjurkan sesering mungkin cuci tangan pasti akan menghadapi masalah yang sama.

Meminimalkan waktu belajar juga buka solusi yang tepat, virus tak butuh waktu berjam jam untuk menginfeksi anak anak kita. Bahkan hanya dalam hitungan detik virus itu bisa berpindah.

Mereka adalah anak anak kita, yang akan menjadi penentu masa depan bangsa ini. Akankah kita memotong satu generasi?

Biarlah anak anak kita tetap dirumah, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, pakai masker kemanapun, stimulasi sesuai tingkatan usia dan dampingi remaja kita dalam pendidikan dan akhlak yang sesuai dengan anjuran agama.

Semoga wabah ini cepat berlalu dan kita semua dalam lindungan Allah. Aamiin yaa rabbal aalamiin. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you