Oleh: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – Kesultanan Pajang adalah pelanjut Kesultanan Demak yang berpusat di Jawa Tengah. Jejak kekuasaannya dalam bentuk kompleks keratonnya saat ini hanya tersisa batas-batas fondasi di perbatasan Pajang – Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.
Nama “Pajang” sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Dalam Kitab “Nagarakretagama” (1365), disebutkan bahwa adik perempuan Hayam Wuruk, Raja Majapahit ketika itu, bernama asli Dyah Nertaja adalah Penguasa Negeri Pajang.
Ratu Dyah Nertaja ini digelari “Bhatara i Pajang” atau disingkat “Bhre Pajang”, merupakan ibu dari Wikramawardhana (Raja Majapahit selanjutnya).
Berdasar Naskah-naskah babad, disebut pula bahwa Negeri Pengging adalah cikal bakal Pajang.
Dalam Cerita Rakyat disebutkan bahwa Pengging adalah Kerajaan Kuna yang pernah dipimpin Prabu Angling Driya, musuh bebuyutan Prabu Baka Raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan berdirinya Candi Prambanan.
Ketika Majapahit dibawah kekuasaan Raja Brawijaya (Raja terakhir versi naskah babad), nama Pengging itu muncul kembali.
Dikisahkan bahwa putri Brawijaya, Retno Ayu Pembayun diculik Menak Daliputih Raja Blambangan putra Menak Jingga. Muncul seorang pahlawan, Jaka Sengara yang berhasil merebut kembali sang putri dan membunuh penculiknya.
Atas jasanya itu, Jaka Sengara diangkat oleh Raja Brawijaya sebagai Bupati Pengging dan dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Andayaningrat.
Pajang diyakini sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya Kerajaan Islam di daerah Pasisir.
Islam yang semula berpusat di pesisir utara Jawa (Demak) dipindahkan ke pedalaman membawa pengaruh yang besar dalam penyebarannya. Selain Islam yang mengalami perkembangan, politik juga mengalami perkembangan.
Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat Perang Majapahit melawan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging.
Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak. Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya, Jaka Tingkir, setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.
Prestasi Jaka Tingkir yang gemilang keprajuritan membuatnya diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi Bupati Pajang bergelar Hadiwijaya.
Pada masanya, Jaka Tingkir memperluas kekuasaannya ke arah timur hingga Madiun di area pedalaman tepi aliran sungai Bengaawan Solo. Pada tahun 1554 Jaka Tingkir mampu menduduki Blora dan Kediri pada 1577.
Karena Kerajaan Pajang dengan raja-raja di Jawa Timur sudah bersahabat, pada tahun 1581 Jaka Tingkir mendapat pengakuan sebagai sultan Islam oleh raja-raja penting di Jawa Timur.
Wilayah Pajang saat itu meliputi Daerah Pengging (Kini, mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (Daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.
Sepeninggal Trenggana dalam Tahun 1546, selanjutnya Sunan Prawoto naik takhta. Prawoto tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang Bupati Jipang dalam Tahun 1547.
Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal. Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (Bupati Jepara dan putri Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang.
Hadiwijaya selanjutnya merebut takhta Demak lalu mendirikan Kerajaan Pajang. Pada awal berdirinya (1568), bahwa wilayah Pajang yang terikat eksistensi Demak pada masa sebelumnya, hanya meliputi sebagian Jawa Tengah.
Hal ini disebabkan karena Negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri sejak kematian Sultan Trenggana.
Pada tahun 1568 Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas Negeri-negeri Jawa Timur.
Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur) dinikahkan dengan putri Hadiwijaya.
Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya, Raden Pratanu atau yang dikenal dengan nama Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil menantu Hadiwijaya.
Pada masa Kesultanan Demak, majelis ulama Wali Songo berperan penting, bahkan ikut mendirikan kerajaan. Majelis ini bersidang secara rutin selama periode tertentu dan ikut menentukan kebijakan politik Demak.
Sepeninggal Trenggana, peran Wali Songo mulai menurun. Sunan Kudus bahkan dituduh terlibat pembunuhan Sunan Prawoto, raja baru pengganti Trenggana.
Meskipun tidak lagi bersidang secara aktif, para wali masih ikut berperan dalam pengambilan kebijakan politik Pajang.
Misalnya, Sunan Prapen bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai raja, juga mediator pertemuan Hadiwijaya dengan para adipati Jawa Timur Tahun 1568.
Sementara itu, Sunan Kalijaga juga pernah membantu Ki Ageng Pemanahan meminta haknya pada Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara membunuh Arya Penangsang.
Wali lain yang masih berperan menurut naskah babad adalah Sunan Kudus. Sepeninggal Hadiwijaya Tahun 1582, berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dari jabatan putra mahkota, dan menggantinya dengan Arya Pangiri.
Sunan Kudus dalam naskah babad adalah Panembahan Kudus, sementara Sunan Kudus sejatinya telah meninggal tahun 1550.
Tanah Mataram dan Pati adalah dua hadiah Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas Arya Penangsang Tahun 1549. Menurut sumber babad, Arya Penangsang tewas dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi.
Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak Tahun 1549, sedang Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya Tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga.
Hal ini disebabkan karena Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar daripada Pajang.
Ramalan tersebut jadi kenyataan saat Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak Tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang.
Mataram dibawah kekuasaan Sutawijaya berkembang pesat. Pada Tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram disebabkan Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang terkait hukum buang ke Semarang oleh Hadiwijaya.
Perang tersebut dimenangkan pihak Mataram, meskipun pasukan Pajang berjumlah lebih besar.
Sepeninggal Hadiwijaya, terjadilah persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai pelanjut dinasti. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta Tahun 1583.
Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang menjadi terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.
Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada Tahun 1582 Sutawijaya memerangi Hadiwijaya, tetapi Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.
Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi Raja Pajang ketiga.
Kekuasaan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587 tanpa putra mahkota yang menggantikannya. Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.
Sutawijaya sendiri mendirikan Kerajaan Mataram, sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.
Kepustakaan:
Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu.
Babad Majapahit dan Para Wali Jilid 3. 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi.
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu.
Ricklefs, M. C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, Palgrave MacMillan, New York, 2008 (terbitan ke-4), ISBN 978-0-230-54686-8
Tentang Penulis:
Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)


