Khazanah Istighfar ala Sari al-Saqthi

Istighfar ala Sari al-Saqthi

-

- Advertisment -

Kekuatan istighfar. (foto: ist/palontaraq)
Kekuatan istighfar. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – Sari al-Saqthi adalah sufi besar yang hidup di Baghdad, meninggal pada 251 H.  Beliau adalah paman dan sekaligus guru dari sufi besar lain bernama Imam al-Junaid. Dia juga murid dari sufi agung, Ma’ruf Karkhi.

Sari al-Saqthi bernama lengkap Sariyyuddin ibn al-Mughallas al-Saqthi. Nama ini mempunyai makna yang menarik: “sariyyuddin”, orang yang menjadi tawanan agama, “taken hostage to religion”. Tentu saja, kata “tawanan” di sini dalam pengertian yang positif: seperti ungkapan, “ditawan oleh Cinta”.

Sari al-Saqthi dulunya adalah seorang pedagang kain yang sukses. “Dukkan” atau tokonya terletak di sebuah pasar di tengah kota Baghdad. Tetapi kemudian dia meninggalkan profesinya itu gara-gara peristiwa “rohani” yang terjadi di tokonya.

Suatu hari Sufi agung, Ma’ruf al-Karkhi, mampir di tokonya dengan membawa seorang anak kecil. “Tolong beri baju anak ini,” kata tamu asing ini. Entah tersihir oleh apa, al-Saqthi segera menuruti permintaan tamu asing itu, dan memberi baju kepada anak tersebut.

Sejurus kemudian Ma’ruf al-Karkhi berlalu sambil mengucapkan doa, “Semoga Tuhan membuatmu benci pada dunia dan membebaskanmu dari profesi kamu ini.”

Doa al-Karkhi itu ternyata membawa pengaruh mendalam pada diri al-Saqthi. Dia merenungi beberapa saat do’a al-Karkhi itu, dan sejurus kemudian seperti mengalami “aha moment”, kasyaf, ketersingkapan batin.

Tak berselang lama, al-Saqthi kemudian menutup tokonya “for good”, untuk selamanya, dan mendedikasikan dirinya untuk kehidupan rohani, kepada “laku spiritual”, dan berguru kepada Ma’ruf al-Karkhi.

Belakangan, dia menjadi seorang sufi agung yang dicatat oleh Buku-buku sejarah. Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali, kita jumpai banyak sekali kisah dan kutipan dari Kebijaksanaan Al-Saqthi.

Suatu hari, saat al-Saqthi masih berprofesi sebagai pedagang, datang dengan tergopoh-gopoh seorang koleganya, mengabarkan bahwa telah terjadi kebakaran besar di Pasar Kota.

“Tetapi tokomu selamat, kawan,” kata sahabatnya itu. Dengan spontan al-Saqthi mengucapkan alhamdulillah, karena tokonya selamat.

Sejurus kemudian, al-Saqthi sadar, bahwa dia telah melakukan “dosa rohani” yang besar, yaitu gembira atas kemalangan orang lain. Untuk menebus dosanya itu, al-Saqthi lalu mengucap istighfar, memohon ampun kepada Tuhan.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa al-Saqthi membaca “Astaghfirullah” selama 30 tahun, hanya untuk dosa yang satu itu.

Kisah ini, di mata sebagian orang sekarang, mungkin tampak aneh, “non-sense”, atau lebay. Tapi, jika disimak lebih dalam lagi, ini satu satu contoh  kisah agung yang mengharukan. Kisah yang menandakan betapa mendalamnya kesadaran moral seseorang yang memiliki ketajaman mata rohani, “an acute moral awareness”.

Kesalahan yang mungkin tampak sepele dalam standar ilmu syariat lahir, di mata seorang pejalan rohani bisa memiliki dampak destruktif secara spiritual, dan karena itu harus di-istighfar-i dengan sungguh-sungguh.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan, Lc إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ...

Berpisah dengan Ramadan

  Oleh: Habib Quraisy Baharun Related Post: Doa Rasulullah SAW ketika Berpisah dengan Ramadan PALONTARAQ.ID - Akhirnya sampailah kita dipenghujung Ramadhan 1441...

Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19

  Laporan: Etta Adil  Related Post: Khutbah Idul Fitri 1440 H: Madrasah Ramadan, Membentuk Pribadi yang Tunduk Syariat Allah PALONTARAQ.ID - Ditengah...

Do’a Puasa Ramadan Hari Ke-30

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Do'a Puasa Ramadan Hari Ke-29 PALONTARAQ.ID - Entah harus bersyukur, antara bahagia dan sedih. Kita...

Malam Terakhir Ramadan

  Oleh: Prof dr. Veni Hadju, Ph.D PALONTARAQ.ID - Inilah malam terakhirku bersama Ramadhan di tahun ini. Kubaca doa terkahir di malam...

Pemerintah tidak Boleh Menyerah!

  Oleh: Andi Lutfi A. Mutty PALONTARAQ.ID - Saya terperangah membaca berita yg beredar di media. Ketua Gugus Tugas Covid 19...

Must read

Do’a Puasa Ramadan Hari Ke-27

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Do'a Puasa Ramadan Hari...

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan, Lc إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you