BerandaNarasi SejarahBerziarah ke Makam Arung Palakka

Berziarah ke Makam Arung Palakka

Oleh: M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak kenal Arung Palakka dalam Sejarah Sulawesi Selatan? Sejarah hidup dan perjuangannya menyerang Pasukan Sultan Hasanuddin, bekerjasama dengan Cornelis Speelman (Belanda) seringkali disalah-tafsirkan, hingga dalam Sejarah dicap sebagai ‘Pengkhianat’.

Dalam konteks kesejarahan Abad XVI-XVII, Nama “Indonesia” sebagai suatu bangsa dan negara belumlah dikenal, karena itu tak pantas menyebut Arung Palakka sebagai ‘pengkhianat’.

Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa di jazirah Sulawesi adalah dua kerajaan yang berdaulat yang harusnya saling menghormati dan mengakui kedaulatan masing-masing, namun pengerahan tenaga kerja paksa sebanyak 40.000 Orang Bugis Bone-Soppeng membangun Benteng-benteng Makassar setelah Kerajaan Bone ditaklukkan adalah hal yang paling menyakitkan bagi Arung Palakka dan Orang Bugis Bone-Soppeng.

Sejarah harus diletakkan pada kenyataan dan konteksnya ketika peristiwa itu terjadi.  Tak perlu lagi saling menyalahkan siapa yang paling benar dan siapa yang mesti disalahkan atas peristiwa yang menurut banyak sumber—seharusnya tak perlu terjadi—atas hubungan Gowa-Bone di masa lalu.

Seperti itulah takdir sejarah, cukup menjadi pembelajaran sejarah bagi generasi masa kini dan di masa yang akan datang.

Saatnya menatap masa depan yang lebih baik, dengan sejarah yang lebih mengangkat Peradaban Bugis Makassar sebagai satu kesatuan, tanpa ada dikotomi disana Bugis – disini Makassar, atau sebaliknya.

Lihat pula: Nama-nama Arung Palakka

Berziarah ke Makam Arung Palakka

Arung Palakka meninggal di Bontoala, sebuah desa di Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, pada 6 April 1696.

La Tenri Tatta Arung Palakka, Petta Malampe’ Gemmekna, Koning der Bougies, begitulah sebutan bagi sebagian namanya, “Raja Bugis” ini dimakamkan di Jalan Bonto Biraeng, Katangka, Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Kompleks Makam Arung Palakka masih berada di kecamatan yang sama dengan Kompleks Makam Sultan Hasanudddin dan Raja-raja Gowa lainnya, yaitu di Sombaopu.

Gerbang masuk Kompleks Makam Arung Palakka selalu terkunci. Nanti ada peziarah atau rombongan peziarah yang datang, baru kemudian penjaganya datang membukakan pintu.

Sepintas Cungkup Makam Arung Palakka ada di baris paling depan, menandai posisinya yang penting diantara makam raja dan bangsawan lainnya dalam kompleks pemakaman tersebut.

Bentuk bangunan Makam Arung Palakka juga berbeda dari makam yang lainnya. Entah dengan alasan apa, yang jelas perbedaannya mencolok karena tidak berbentuk cungkup makam Raja sebagaimana cungkup Makam Raja-raja Gowa.

Lihat pula: Riwayat Raja Bone (15): La Tenritatta Arung Palakka

Mencari Bantuan untuk Memerangi Makassar

Arung Palakka dalam perjalanan hidupnya, menghabiskan masa remajanya di Gowa dan pernah berada dibawah ‘pengasuhan’ Karaeng Pattingaloang, Raja Tallo dan Pabbicara butta Kerajaan Gowa (Kerajaan Makassar).

Petta Malempeq Gemmekna Arung Palakka juga lama berpetualang  dan menjadi seorang jagoan yang ditakuti dan malang melintang di Batavia sejak tahun 1660-an.

Sebelumnya, ia bersama pengikutnya melarikan diri dari kerja paksa Gowa, terus lari ke Buton sebelum ke Batavia dari kejaran kekuasaan Raja Makassar.

Oleh VOC, Arung Palakka diberi daerah kekuasaan di pinggiran Kali Angke, hingga ia disebut To Angke atau Ugi’ To Angke (Orang Bugis Angke) saat dalam pengasingan.

Ketika tinggal di Batavia itu ia kemudian membangun persekutuan rahasia dengan Cornelis Janszoon Speelman dan seorang pria yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon, bernama Kapiten Jonker.

Secara bersama-sama mereka berhasil memegang kendali atas VOC, termasuk memegang monopoli perdagangan emas serta hasil bumi.

Lihat pula: Arung Palakka, Inspirasi Perjuangan Rakyat Bone

Salah satu sisi perjalanan hidup Arung Palakka yang mengundang perdebatan dalam ranah sejarah, adalah keterlibatannya dalam Perang Pariaman di Sumatera, sebagai syarat VOC yang dibebankan kepadanya untuk dibantu memerangi Kerajaan Makassar.

Kisahnya berawal dalam Tahun 1662, ketika dibuat Perjanjian Painan antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang yang bertujuan memonopoli perdagangan di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido.

Namun rakyat Minangkabau marah dan mengamuk pada tahun 1666, menewaskan Jacob Gruys, perwakilan VOC di Padang.

Arung Palakka pun dikirim VOC ke Pariaman, Minangkabau, dan bersama pasukannya ia berhasil mematahkan perlawanan rakyat Minangkabau dan menaklukkan seluruh pantai barat Sumatera, serta disebut-sebut sukses memutus hubungan antara Minangkabau dengan Aceh. (*)

 

(* M. Farid W Makkulau, Peneliti Sejarah Sulawesi Selatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT