Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Perkembangan Islam di Asia Tengah
PALONTARAQ.ID – Membincang Perkembangan Islam di Asia Tengah, maka kita akan menemukan satu sosok sang penakluk, yaitu Qutaybah bin Muslim (705-715 M) dibawah Dinasti Umayyah, namun perlu dilihat secara jelas dan dipertanyakan: Ada Apa dibalik Penaklukan Asia Tengah tersebut, pada tingkat inilah bermain dialektika Penaklukan Militer vs Konsolidasi Politik.
Diskusi mengenai sejarah peradaban Islam di Asia Tengah tidak boleh sekadar berputar pada kronologi politik “kapan dan siapa”. Analisis harus ditekankan pada aspek kausalitas, dialektika sosial-politik, transformasi kultural, dan pergeseran epistemologis. Sebagai salah satu upaya untuk memahami dinamika perkembangan Islam di kawasan ini, maka penulis berupaya memberikan jawaban atau tanggapan, terkait mengapa wilayah ini begitu rentan terhadap pemberontakan lokal dan membutuhkan waktu hampir setengah abad pasca-Qutaybah untuk benar-benar stabil secara politik? Faktor struktural apa yang luput dari strategi awal penaklukan Umayyah?
Kerentanan politik pasca-penaklukan Qutaybah berakar pada dua faktor utama sebenarnya, yaitu: struktur sosio-politik lokal Asia Tengah dan kebijakan fiskal Umayyah.Β Pertama, Asia Tengah saat itu bukanlah imperium tunggal yang terpusat, melainkan konfederasi kota-negara (city-states) otonom seperti Bukhara, Samarkand, dan Khwarazm yang dipimpin oleh para dehqan (tuan tanah feodal). Pola penaklukan Qutaybah yang mengandalkan perjanjian upeti (jizyah) individual dengan para dehqan terbukti rapuh; begitu pasukan Arab mundur, penguasa lokal kerap membatalkan perjanjian tersebut atau bersekutu dengan Kekhanan Turki Turgash.
Kedua, faktor adanya diskriminasi sistematis terhadap kelompok Mawali (non-Arab yang masuk Islam) menjadi salah satu penyebab. Ketakutan para gubernur Umayyah akan hilangnya pendapatan pajak jizyah membuat mereka menolak menghapuskan pajak tersebut bagi warga lokal yang telah berislam. Ketimpangan sosiopolitik ini memicu ketidakpuasan mendalam, yang puncaknya dimanfaatkan oleh gerakan propaganda Abbasiyah (melalui Abu Muslim al-Khurasani) untuk menggulingkan Umayyah pada 750 M.
Mari berdiskusi soal ini, paling tidak pada sumber historiografi karya Gibb, H. A. R. (1923). The Arab Conquests in Central Asia. London: The Royal Asiatic Society danΒ Blankinship, Khalid Yahya. (1994). The End of the JihΓ’d State: The Reign of HishΔm ibn βAbd al-Malik and the Collapse of the Umayyads. Albany: SUNY Press.
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


