BerandaHumanioraProgram Internasional LKLB kuatkan Kompetensi Pribadi, Komparatif dan Kolaboratif Guru Madrasah

Program Internasional LKLB kuatkan Kompetensi Pribadi, Komparatif dan Kolaboratif Guru Madrasah

Laporan: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Program Internasional Peningkatan Kapasitas Guru Madrasah dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diselenggarakan dari Tanggal 10-14 Januari 2022 oleh Institut Leimena bekerjasama dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI) berhasil melakukan penguatan terhadap 163 peserta guru dari berbagai Madrasah di Sulawesi Selatan.

Sebagaimana diketahui bahwa Penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB tersebut) mengasah dan menguatkan tiga kompetensi peserta, yaitu kompetensi pribadi, komparatif dan kolaboratif.

Tujuan LKLB. (foto: ist/*)
Tujuan LKLB. (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)

(1) Memiliki “kompetensi pribadi” itu artinya memahami kerangka moral, epistemologi, dan spiritual diri sendiri, dengan cara memahami teks kitab suci dan tradisi lisan dari agama sendiri, dan juga memperhatikan apa yang dituliskan terkait partisipasi dengan agama lain. Hal ini juga termasuk memahami kenapa dan bagaimana karakter diri itu berkembang dan mendalam.

Seperti dikatakan sebelumnya, literatur literasi keagamaan yang lama sering kali kurang menekankan peran ‘diri’ sebagai titik awal, bahkan terkadang perihal ‘diri’ tidak disebut sama sekali. Lenn Goodman (2014: 1,3) menemukan bahwa pemahaman terhadap diri sendiri itu sangat penting untuk dialog serta partisipasi yang sahih dan autentik.

Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)

Dialog yang sukses memerlukan kita untuk pengetahuan dan pemahaman diri sendiri, tentang apa yang dipercayai dan dipedulikan, dan bahwa yang disebut orang lain itu memang orang yang lain (berbeda dari kita). Tanpa disiplin atas pengetahuan tentang diri untuk melengkapi keingintahuan kita, minat kita runtuh menjadi perkiraan dan dugaan belaka.

Pengetahuan tentang diri yang diperlukan oleh pluralisme itu sulit dicapai. Hal ini berarti mencoba berdamai dengan diri sendiri, mempertemukan ide bahwa apa yang diwarisi dengan pandangan pribadi dan wawasan keberadaan, dan mengintegrasikan diri dalam sebuah komunitas bahkan ketika seseorang membedakan dirinya dari komunitas itu.

Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)

Dalam setiap masyarakat yang sehat, pluralisme setidaknya membutuhkan toleransi. Toleransi beragama tidak berarti menyamakan semua hal. Pluralisme melindungi perbedaan. Apa yang diperlukannya adalah respek atau penghargaan.

(2) Memiliki “kompetensi komparatif” berarti harus memahami kerangka moral, epistemologi, dan spiritual dari tetangga (agama lain), sebagaimana yang dipahaminya, dan apa yang dikatakan agama itu tentang hubungan antaragama. Dimensi literasi agama ini mencakup berbagai topik yang biasanya dibahas dalam mata kuliah perbandingan agama.

Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)

Disisi lain, perlu penekanan pemahaman tentang agama yang terikat kerjasama sosial dengan umat beragama lain, di tempat tertentu. Dengan kata lain, apa ambang batas dalam kerangka moral orang lain yang memungkinkan seseorang menjadi bagian dari kelompok dan atau tempat tertentu? Pun memperhatikan hal-hal yang berarti dalam jalan iman seseorang, terkait doktrin resmi agama tersebut.

(3) “Kompetensi kolaboratif” mengacu pada pengetahuan mengenai suatu tempat tertentu dimana dua atau lebih kerangka moral yang berbeda, biasanya dari agama yang berbeda, bertemu sebagai dua individu/institusi yang sama-sama bertujuan untuk memenuhi suatu tujuan.

Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)

Kompetensi kolaboratif artinya memahami budaya spiritual, etnis, dan atau budaya organisasi yang relevan untuk pengembangan dan penerapan proyek/program bersama. Kompetensi kolaboratif terjadi ketika individu/institusi yang berbeda-beda bergerak dari toleransi berdampingan (diversitas), kepada kesadaran diri sendiri dan orang lain sampai pada tahap partisipasi timbal balik yang merupakan jantung dari pluralisme sehat.

Ketika menyeberang masuk ke dalam konteks orang lain, harus menghormati realitas hidup di satu tempat tertentu, juga menempatkan kerjasama dan proyek yang dihasilkan dalam kebudayaan dan organisasi, sembari mengakui dinamika kekuatan yang ada. Hal ini diaplikasikan pada saat melakukan gerakan yang sudah dipersiapkan terhadap kelompok orang lain.

Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)

Momen ketika menyeberang mendatangi orang lain itu bukanlah sekedar keterlibatan, tapi juga kepemimpinan, karena kedua pihak harus membentuk tujuan bersama yang dapat menyelesaikan tugas yang ada, juga berbicara dengan berbagai pejabat pemerintah dan masyarakat sipil (beberapa, atau bahkan kebanyakan dari mereka tidak religius).

Program pelatihan LKLB ini bertujuan untuk menguatkan eksistensi dan kolaborasi damai ataragama di Indonesia dengan meningkatkan kapasitas guru madrasah dalam literasi keagamaan lintas budaya. Dengan demikian, guru madrasah terdorong untuk mengintegrasikan prinsip Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam pengajarannya di kelas.

Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Penguatan Kompetensi Pribadi Islam (foto: ist/*)
Peran Guru dalam LKLB. (foto: ist/*)
Peran Guru dalam LKLB. (foto: ist/*)

Para peserta pelatihan disajikan materi 27 jam pelajaran (JP), yaitu dalam bentuk Asinkronus (10) dan Sinkronus (17 JP). Ceramah kunci dibawakan oleh Prof Dr Ir H. Muhammad Hattah Fattah, MS dan Pengantar LKLB dibawakan oleh Dr. Chris Seiple.

Penguatan Kompetensi Pribadi dibawakan oleh Prof Dr H. Mansyur Ramli, SE.,M.Si., Prof Dr. Alwi Shihab, dan Prof Dr. M. Amin Abdullah, Penguatan Kompetensi Komparatif: Yudaisme) dibawakan oleh Dr.Ari Gordon, Dr. David Rosen, dan Dr David Saperstein, Penguatan Kompetensi Komparatif: Kekristenan) dibawakan oleh Pdt Dr. Ir henriette T. Hutabarat-Lebang dan Dr. Chris Seiple, dan Penguatan Kompetensi Kolaboratif (Kolaborasi bagi Kemanusiaan) dibawakan oleh Prof Dr Ir H. Muhammad Hattah Fattah, MS dan Dr. Chris Seiple. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Salah satu peserta Program Internasional LKLB/Guru Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT