BerandaPesantrenSeri Khalifah Daulah Bani Umayyah (5): Abdul Malik bin Marwan

Seri Khalifah Daulah Bani Umayyah (5): Abdul Malik bin Marwan

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – Setelah Khalifah Marwan bin al-Hakam wafat, timbullah kekacauan dalam Daulah Bani Umayyah, sehingga hampir saja Daulat itu pecah belah dan hancur oleh pemberontakan dan huru-hara dalam negeri.

Akan tetapi untunglah Khalifah yang menggantikannya Abdul Malik bin Marwan, yaitu putranya sendiri seorang yang bijaksana berhati baja, pandai dan cerdik mengurus segala urusan kerajaan. Ia termasuk seorang Khalifah yang besar yang bersejarah dalam Daulat Bani Umayyah.

Langkah pertama kepemimpinannya ialah memadamkan segala pemberontakan dan pembuat huru-hara. Peperangan melawan para pemberontak itu berjalan selama tujuh tahun lamanya, setelah itu pemerintahan berjalan normal dan kedudukan Khalifah menjadi kokoh kembali.

Kesulitan-kesulitan yang Dihadapi

1. Menghadapi perlawanan kelompok Syi’ah

Lantaran pembunuhan Husein bin Ali di Karbala, api kemarahan hati ummat Islam menyala atas keluarga Bani Umayyah. Syi’ah berusaha menyebarkan bibit-bibit kebencian ummat Islam yang ada Kufah terhadap Bani Umayyah, sehingga timbul penyesalah dan dendam yang sangat mendalam.

Orang-orang Kufah berangkat menuju ke ‘Ainul Wardah, satu tempat dekat sungai Euphrat. Mereka dapat menarik sebagian besar penduduk Basrah san Madain ke dalam barisam mereka. Mereka hendak memberontak.

Setelah Abdul Malik bin Marwan mendengar berita tersebut, ia segera mengerahkan pasukannya sebanyak 30.000 orang dibawah kepemimpinan panglima Ubaidillah bin Ziad. Pasukan ini berhasil mematahkan kaum pemberontak.

Namun sesaat setelah itu golongan Syi’ah yang lain dibawah pimpinan Mukhtar bin Abi Ubaid, sebagai wali Irak yang diangkat oleh Abdullah bin Zubair, menyatakan berdiri sendiri keluar dari kedua kekuasaan baik Bani Umayyah atau Abdullah bin Zubair.

Perlawanan Mukhtar ini memporak-porandakan pasukan Ibnu Ziad, bahkan Ibnu Ziadpun mati terbunuh.

2. Menghadapi Abdullah bin Zubair

Khalifah Abdullah bin Zubair mengangkat saudaranya Mash’ab menjadi gubernur di Irak. Dia diperintahkan oleh Abdullah merebut Irak kembali dari tangan Mukhtar, walinya yang mendurhakainya.

Pertempuran antara laskar Mukhtar dan laskar Mash’ab terjadi, Mash’ab memperoleh kemenangan, sedangkan Mukhtar beserta laskarnya yang berjumlah 7.000 mati terbunuh di medan perang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 67 H. (687 M.).

Setelah Mash’ab membersihkan Irak dari pengaruh partai Syi’ah yang dikepalai Mukhtar bin Ubaid, ia bersiap-siap hendak memerangi Abdul Malik bin Marwan.

Khalifah Abdul Malik bin Marwan dengan segera menyiapkan angkatan perangnya yang terdidi laskar Syam, Mesir dan Aljazair, maka terjadilah pertempuran yang dahsyat diantara kedua belah pihak.

Laskan Mash’ab mengalami kekalahan, Mash’ab sendiri terbunuh di medan pertempuran. Kekalahan ini besar terjadi karena penghianatan laskar asal Irak yang keluar dari barisan dan menggabungkan diri dengan pasukan Abdul Malik. Peristiwa ini terjadi pada tahun 72 H. (692 M.).

Setelah Abdul Malik mengalami kemenangan di Irak itu, ia mengerahkan laskarnya untuk memerangi Abdullah bin Zubair di Hijaz. Untuk melaksanakan niatnya ini Abdul Malik mengirimkan panglimanya al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Saqafi.

Panglima ini mengepung Kota Makkah sekuat tenaga, sehingga kota itu menyerah dan Abdullah bin Zubairpun dapat dibunuhnya pada Tahun 73 H. (693 M).

Setelah peristiwa itu Abdul Malik mengangkat al-Hajjaj menjadi wali atas Hijaz, Yaman dan Yamamah sampai tahun 75 H.

3. Menghadapi Kaum Khawarij

Sesudah Abdul Malik membersihkan Syam dan Palestina dari kaum pemberontak, ia tidak ragu lagi untuk mengarahkan pasukannya menghadapkan pasukannya ke daerah Masyrik (daerah-daerah di sebelah Timur).

Untuk ini panglima terkenalnya kembali diperintahkan yaitu al-hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafy. Ia segera berangkat ke Kufah, di dalam masjidnya ia berpidato dengan suara yang keras membanggakan dirinya, menyatakan keras perintahnya atas rakyat yang keras kepala.

Dari sana ia terus ke Basrah, dan dinegeri ini ia melakukan hal yang sama seperti di Kufah. Kemudian ia membantu Mahlab bin Abi Sufrah membersihkan Irak dan Persia dari kaum Khawarij. Al-Hajjaj terkenal dalam sejarah karena kekejamannya dan darah dinginnya membunuh sesama manusia.

4. Menghadapi ‘Amru bin Sa’id

Pada tahun 70 H. (690 M.) seorang dari keluarga Abdul Malik yang bernama ‘Amru bin Sa’id mendurhakai Khalifah. Pendurhakaan itu ditumpas dengan tipu muslihat saja, yaitu dengan mengangkat ‘Amru bin Sa’id menjadi putera mahkota.

Akan tetapi tidak lama kemudian ia dipanggil mengahadap,  pengangkatan itu dibatalkan dan ‘Amru bin Sa’id dibunuh, kepalanya dilemparkan kepada pengiringnya yang menunggu dibawah.

Menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu laskar ‘Amru bin Sa’id kecil hati dan lari cerai berai. Dengan kematian ‘Amru bin Sa’id ini selamatlah ia dari bahaya terakhir yang menggerogoti kekuasaannya.

Perbaikan yang dilakukan Abdul Malik bin Marwan

Setelah Abdul Malik selesai membersihkan khilafahnya dari para pemberontak, ia segera menghilangkan bekas-bekas peristiwa-peristiwa tersebut, iapun mengadakan perbaikan di dalam, yang dengan demikian ia dijuluki sebagai pendiri Daulat Bani Umayyah yang kedua. Adapun perbaikan-perbaikan itu ialah:

1. Mendirikan pabrik mata uang dan administrasi (Dewan)

Sebelum Abdul Malik memerintah, mata uang yang beredar dalam masyarakat ialah mata uang Persia dan Byzantium. Hal ini berubah pada zaman Abdul Malik.

Ia mendirikan pabrik mata uang di Damaskus, pada mata uang itu terdapat tulisan ‘La ilaha Illa Allah, dan dibaliknya ditulisi nama Khalifah sendiri.

Surat-menyurat dalam dewan keuangan yang dulunya dengan bahasa Persia dan Romawi diganti dengan bahasa Arab, peraturan ini berlaku di seluruh Syam dan Persia. Sedangkan di Mesir baru dirubah ke bahasa Arab paa masa puteranya Walid bin Abdul Malik.

Usaha Abdul Malik yang demikian itu sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan bahasa Arab, sehingga ia menjadi bahasa pengetahuan, terutama dalam ilmu hisab dan riyadhat (wiskunde).

Seiring dengan itu Abdul Malik berusaha menghidupkan kegiatan para pujangga dalam memperindah syair dan karangannya. Dia sendiripun dikenal sebagai seorang ahli pidato yang bijaksana dan penyair yang fasih.

2. Memperbaiki Pos Intelejen

Ia menyempurnakan sistim pos intelejen yang sebelumnya telah berjalan, disetiap jarak jauh seperjalanan kuda didirikan tempat pemberhentian.

Adapun tugas jawatan pos intelejen yang utama ialah mengamati segala pekerjaan para pembesar negara dan menyampaikan segala kejadian di daerah kepada Khalifah.

3. Membentuk Mahkamah Agung

Untuk memeriksa dan mengadili perkara-perkara pembesar tinggi dan orang-orang yang di pemerintahan, Abdul Malik membentuk Pengadilan Agung.

Hal ini sengaja didirikan supaya para pembesar negara yang tertinggi tidak berbuat sekehendak hatinya sendiri kepada rakyat atau kepada bawahannya.

Haki yang mengepalai mahkamah ini adalah seorang yang ternama dan salah seorang ahli dalam hukum-hukum agama. Siapa saja yang merasa dirinya tertindas oleh para pembesar kerajaan, boleh mengadukan kepada Mahkamah itu.

4. Mendirikan Bangunan Yang Megah

Abdul Malik tidak lupa memperbaiki kota-kota dengan mendirikan gedung-gedung yang indah, seperti rumah suci Qubbatu Sakhra di Baitul Maqdis dan lain-lain.

Demikianpun ia mendirikan sebuah Darus Shina’ah di Tunis, tempat pembuatan kapal perang dan senjata. Dari sanalah didatangkan beratus-ratus kapal untuk angkatan laut Daulat Bani Umayyah.

Kematian Khalifah Abdul Malik bin Marwan

Sesudah memeringah selama 21 tahun, Abdul Malik bin Marwan wafat di Damaskus dalam usia 60 tahun. Dari selama itu kurang lebih delapan tahun dihabiskan untuk memberantas pemberontakan dan menghadapi persengketaan dengan Abdullah bin Zubair.

Sebenarnya putera mahkota yang akan menggantikan dia ialah Abdul Aziz,  saudaranya sendiri. Akan tetapi Abdul Aziz terlebih dahulu meninggal. Maka Abdul Malik mengangkat dua orang puteranya menjadi Putera Mahkota, yaitu al-Walid dan Sulaiman.

Ahli sejarah memberi gelar Abdul Malik dengan sebutan ‘Abul Muluk’, artinya ayahanda para raja, karena empat orang dari puteranya menjadi Khalifah, yaitu al-Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT