Masjid Cheng Hoo jadi Ikon Muslim Tionghoa Makassar

Penulis di depan gapura dan masjid Muhammad Cheng Hoo di Gowa. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di depan gapura dan masjid Muhammad Cheng Hoo di Gowa. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya:  Menelusuri Sejarah Makassar di Fort Rotterdam

PALONTARAQ.ID – Muslim Tionghoa patut berbangga dan bersyukur karena mendapatkan penerimaan yang baik di Tanah Makassar. Tentu hal ini bukan terjadi seketika, tapi kerukunan, toleransi, dan saling memahami itu sudah terjalin lama sejak warga etnis Tionghoa berdatangan ke Jazirah Sulawesi Selatan dalam perjalanan sejarahnya.

Tak hanya dari segi perdagangan yang mendapatkan tempat, ruang keagamaan itupun mendapatkan toleransi yang cukup baik.

Meski pernah ada riak-riak konflik sosial dengan etnis China, tetapi potensi perpecahan dan rusuh itu cepat berubah menjadi kondisi tenang dan saling memahami seperti semula.

Etnis China atau Tionghoa dapat berdagang seperti semula dan mendapatkan penerimaan yang cukup baik dari warga Kota Makassar.

Bahkan di kekinian, berdiri dengan megah dua masjid terkenal, Masjid Cheng Hoo, yang didirikan etnis Tionghoa muslim yang ada di Makassar, Sulawesi Selatan.

Masjid Muhammad Cheng Hoo di Gowa

Nama Masjid unik ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo, berdiri kokoh di Jalan Tun Abdul Razak di Kabupaten Gowa. Jika dari arah Makassar menyusuri Jalan Hertasning Baru, masjid ini berada tepat di perbatasan Makassar-Gowa.

Masjid Muhammad Cheng Hoo di Jl. Tun Abdur Razak, Gowa. (foto: ist/palontaraq)

Masjid Muhammad Cheng Hoo di Jl. Tun Abdur Razak, Gowa. (foto: ist/palontaraq)

Masjid Muhammad Cheng Hoo ini dibangun oleh Persatuan Muslim Tionghoa yang ada di Kota Makassar. Bangunan masjid ini sangat kental dengan nuansa Tionghoa ini memadukan warna merah dan emas, serta beberapa bagian bangunan masjid merupakan kombinasi antara bangunan khas China dan Bugis Makassar.

Masjid Muhammad Cheng Hoo ini sudah difungsikan sebagai tempat shalat dan kegiatan keislaman lainnya sejak tahun 2014.

Arsitektur Masjid Cheng Hoo berlantai dua. Lantai dasar khusus jemaah laki-laki, sedangkan lantai dua untuk perempuan.

Udara dalam Masjid cukup sejuk dengan pengaturan sirkulasi udara yang baik dan lantai masjid dari granit alam.

Dinding bagian depan juga mengunakan granit alam berwarna merah, sehingga masjid tersebut mulai bagian luar hingga bagian dalam berwarna merah.

Warna dari bangunan masjid didominasi warna merah, yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan semangat hidup. Ada pula warna hijau yang melambangkan Islam dan kedamaian.

Suasana sejuk dan tenang dalam Masjid Muhammad Cheng Hoo di Gowa. (foto: ist/palontaraq)

Suasana sejuk dan tenang dalam Masjid Muhammad Cheng Hoo di Gowa. (foto: ist/palontaraq)

Kubah masjid berbentuk segi delapan menyerupai sarang laba-laba, atau dalam istilah Tionghoa disebut Pakwa bertingkat tiga yang merupakan bangunan khas China, begitu pula ventilasinya yang berbentuk bulat serta lampu berbentuk lampion yang menggantung di plafon.

Ketua Yayasan, Drs Sulaiman Gosalam, mengatakan masjid ini berpotensi menjadi salah satu ikon Muslim Tionghoa di Kota Makassar.

Sejak didirikannya, banyak jamaah yang awalnya penasaran untuk shalat didalamnya, karena melihat arsitektur masjid yang unik.

Dipasangi CCTV

Pengurus masjid Muhammad Cheng Hoo memberikan pelayanan yang terbaik kepada jemaah agar mereka merasa nyaman, tenang, dan khusyu’ dalam beribadah. Ada fasilitas tempat wudhu, rak sandal, tempat parkir dan kantin yang cukup luas dan bersih.

Untuk keamanan yang maksimal, pengurus masjid memasang 12 unit CCTV yang dipasang di setiap pintu masuk masjid, malahan Pengurus masjid menyediakan ruangan khusus bagi penghapal Al-Quran ini untuk tinggal atau istirahat di masjid.

Masjid Cheng Hoo di Jl.Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Masjid Cheng Hoo di Jl.Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Masjid Cheng Hoo di Kota Makassar

Tak hanya ada di Kabupaten Gowa, Masjid Cheng Hoo juga ada di Kota Makassar. Sebuah masjid bergaya khas Tionghoa berbentuk bangunan kelenteng terletak di kawasan Metro Tanjung Bunga, Jalan Danau Tanjung Bunga, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Masjid Cheng Hoo di Jln. Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Masjid Cheng Hoo di Jln. Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Masjid ini didirikan pada Tahun 2012, dua tahun lebih awal dibanding Masjid Cheng Hoo di Gowa. Masjid ini memadukan nuansa Islam, Budaya China dan Bugis Makassar, sehingga banyak pula jamaah tak hanya menjadikannya sebagai tempat Shalat, tapi sebagai obyek wisata religi.

Siapa Cheng Hoo?

Nama Masjid Muhammad Cheng Ho diambil dari nama Laksamana Cheng Ho, salah seorang laksamana dan pendakwah dari negeri China yang juga pernah berdakwah di Indonesia, sekitar Tahun 1400-an.

Laksamana Cheng Hoo ini dari awal seorang muslim dan mampu membawa harum Kekaisaran Tiongkok-China, sehingga dipercaya untuk ekspedisi dari daratan Cina ke Mekkah dan itu harus melalui Indonesia.

Perjalanan Cheng Hoo ini juga terbesar sepanjang peradaban manusia, membawa 284 kapal, dengan jumlah pasukan sekitar 25.000.

Laksamana Cheng Hoo lahir dengan nama Ma He, berasal dari Suku Hui, Provinsi Yunnan, Tiongkok. Suku Hui yang merupakan salah satu suku terbesar di Tiongkok.

Saat masih muda, Cheng Hoo dikenal sebagai kasim muslim yang dipercaya Kaisar Zhu Di (kaisar ketiga Dinasti Ming) karena keberaniannya. Di kekaisaran, Cheng Hoo disebut sebagai Kasim San Bao yang kalau diucapkan dalam dialek Fujian, terdengar seperti San Po, Sam Poo, atau Sam Po.

Laksamana Cheng Ho juga dikenal dengan nama Sam Po Kong. Pada Tahun 1368, kekaisaran Tiongkok mengalami kemunduran karena jatuhnya Dinasti Mongol. Cheng Hoo lalu menawarkan diri melakukan ekspedisi ke berbagai penjuru dunia untuk mengembalikan kejayaan Tiongkok.

Karena ekspedisi Cheng Hoo itulah, sehingga namanya dikenal di beberapa daerah yang pernah disinggahinya di wilayah nusantara, termasuk Tanah Makassar. Ekspedisi Cheng Hoo disebut sebagai ekspedisi dengan armada perang paling besar sepanjang sejarah. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response