Legenda Tobarani dari Tanralili: Karaeng Tallua ri Marusu

Tiga bersaudara tobarani dari Tanralili, dijuluku, "Karaeng Tallua ri Marusu"/ (foto: KITLV/dok.A.Fachry Makkasau)

Tiga bersaudara tobarani dari Tanralili, dijuluku, “Karaeng Tallua ri Marusu”/ (foto: KITLV/dok.A.Fachry Makkasau)

Oleh: Andi Fahry Makkasau

Tulisan Sebelumnya:  Dari Gilingkanayya menjadi Biringkanayya

PALONTARAQ.ID – Awal tahun 1900 terjadi Krisis Ekonomi di Maros, produksi padi rakyat jauh menurun diakibatkan aliran air dari Bantimurung tidak dapat memenuhi kebutuhan sawah yang dialirinya.

Diakibatkan curah hujan yang tidak teratur ditambah lagi banyaknya saluran irigasi yang rusak. Akibatnya produksi padi dalam tahun2 awal 1900-an sangat lah menurun.

Melihat kondisi ini, kekeringan dan ancaman kelaparan yang datang memaksa pemerintah Belanda untuk mencari berbagai solusi karena penderitaan rakyat telah menunggu di depan mata.

Kondisi ekonomi sulit tersebut dapat diketahui dari Laporan Gubernur Van Bramm Morris yang menunjuk angka fluktuasi produksi padi di Distrik-distrik Utara (Maros dan Pangkajene). Keadaan itu menimbulkan situasi politik dan ekonomi mulai kacau.

Kebijakan-kebijakan baru Belanda mulai bermunculan. Pada Bulan Juli 1908 Rakyat di Marusu dan Tanralili mulai resah akibat ulah para pemungut pajak yang memaksa rakyat membayar pajak dengan cacah jiwa. Rakyat yang tidak membayar pajak diancam untuk dipekerjakan secara paksa pada lahan2 pertanian dan perkebunan milik Belanda.

Akibat pengkhianatan seorang Langsa’ Pribumi (jabatan Pamongpraja) pada tahun 1916. I Poenroeang Daeng Mangati (Karaeng Tanralili) dibuang ke Bengkalis sebuah daerah di Riau Sumatera, Beliau akhirnya wafat dan dimakamkan di sana.

Poenroeang Daeng Mangati dibuang karena dituduh memprovokasi rakyat agar tidak memenuhi kewajiban membayar pajak. Karaeng Tanralili ini beralasan bahwa di tengah kemunduran ekonomi dan ketidak pastian hasil pertanian adalah tidak patut memaksakan sebuah aturan baru pada saat rakyat tidak mampu memenuhinya.

Dalam sebuah laporan yang terbit tahun 1924 yang pernah kami baca yang kemudian ternyata laporan tersebut dirilis oleh De Makassar Courant terdapat beberapa tindakan kekacauan yang membuat Onderafdeling Maros oleh pemerintah Belanda dianggap menjadi tidak kondusif.

Kelompok ini dipimpin oleh seorang sosok terkenal bernama I Tolo Daeng Magassing (asal Limbung) yang senantiasa membuat teror dan membuat Pemerintah Belanda menjadi sangat resah karena Gerakan I Tolo ini membangkitkan semangat rakyat untuk bangkit melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Gerakan I Tolo akhirnya dibungkam dengan operasi militer pasukan Marsose Belanda. I Tolo dan kawan-kawan berhasil dibantai. Mayat I Tolo dan kawan2 dipertontonkan di depan umum dengan maksud menakuti rakyat agar tidak melakukan perbuatan yang sama.

Patah tumbuh, hilang berganti. Ternyata tewasnya I Tolo tidaklah membuat rakyat jera karena kepemimpinan Kelompok Pengacau Teror ini diambil alih oleh Jabarang dengan membangun basis kekuatannya di Pegunungan Tanralili. namun kemudian juga dapat dilumpuhkan.

Setahun setelah kejadian ini Teror Kekacauan kembali muncul, kejadian yang oleh perspektif pemerintah Belanda disebut sebagai Kelompok kejahatan yang sangat memusingkan Belanda.

Berita teror ini diberitakan dalam harian Soerabajasch Handelsblad yang dikutif oleh Bataviasch niewsblad edisi 17 Januari 1929 menyebutkan dengan tegas nama Karaeng Ngemba keturunan Abubakar Karaengta Data bersama 2 orang adiknya yaitu Karaeng Mone dan Karaeng Ngago sebagai Pemimpinnya. Mereka bertiga terkenal dengan julukan “Karaeng Tallua”.

Belanda sangat merasa terganggu dengan Gerakan Karaeng Ngemba karena trauma dengan Gerakan Karaengta Data yang terjadi di Gowa pada abad ke- 18.

Asal Usul dan Nasab Karaeng Tallua

Secara singkat dapat kita mulai dari Abubakar Daeng Lompo Karaengta Data Sayanga ri Beba beliau adalah putera dari Amas Madina Batara Gowa (Raja Gowa XXVI).

Karaengta Data memperistrikan I Ranti Daeng Nisayu, lahir antara lain I Calla Daeng Mabbunga Karaeng Borong (Karaeng Tanralili) yang kemudian memperistrikan I Daeng Suji melahirkan antara lain I Nyimpung Daeng Palallo (Karaeng Tanralili) yang kemudian menikahi I Dani Daeng Ngati dan lahir antara lain:

1. I Toe Daeng Pagajang Ta’lea ri Bima (Karaeng Tanralili)

2. I Bundu Daeng Palallo (Sulewatang Tanralili) yang kemudian memperistrikan I Tahira Daeng Majannang putri dari I Mappasossong Daeng Pabundu (Karaeng Marusu) lahir putra- putri:  I Patongai Daeng Mangemba (Karaeng Ngemba),  I Parenrengi Daeng Mammone (Karaeng Mone),  Sitti Yaralang Daeng Bau,  Sitti Ma’lumah Daeng Kanang,  I Muhiddin Daeng Mangngago (Karaeng Ngago),  Sitti Basari Daeng Labbi.

3. I Bode Daeng Jai menikah dengan I Ali Daeng Lira (Karaeng Labbakang) yang melahirkan I Mannanggongi Daeng Pasawi (Karaeng Tanralili)

4. I Tumaning Daeng Tuni

Karaeng Ngemba, Karaeng Mone, dan Karaeng Ngago tiga laki-laki bersaudara inilah yang sangat kesohor sepak terjangnya dengan julukan Karaeng Tallua ri Marusu’, Tobarani dari Tanralili yang sangat menggetarkan dan menyusahkan Belanda akibat teror dan kekacauan yang dilakukannya setiap saat.

Dari uraian singkat nasab di atas memberi kesimpulan bahwa pantas beliau bertiga terutama Karaeng Ngemba sangat berpengaruh dalam menggerakkan rakyat Tanralili melawan Belanda. Ternyata mereka memang Para Satria dengan nasab tinggi di Tanralili.

Karaeng Ngemba dengan dibantu 2 orang adiknya mendapatkan inspirasi dengan mengadopsi Gerakan Karaengta Data, yaitu: mengembangkan gagasan mesianisme di seluruh wilayah Onderafdeling Maros.

Bentuk gerakan pengacauan Karaeng Ngemba mengadopsi nilai-nilai keislaman sufistik yang berasas pada upaya membersihkan Maros dari anasir asing yang kafir dan berjuang mengembalikan eksistensi kekuasaan kepada putera daerah sendiri.

Gerakan tersebut jelas adalah gerakan perlawanan rakyat namun dalam perspektif pemerintah Hindia Belanda mereka semua dianggap sebagai kelompok perampok (roverpartij), kelompok liar (bende), pengacau keamanan (rusvestoring), pembalasan dendam (wraakoefening).

Ancaman Pidana yang berat menanti Karaeng Ngemba bersaudara karena Belanda memasukkan mereka sebagai tindakan kriminal dengan ancaman pidana yang berat.

Jika kita amati laporan Belanda terhadap gerakan yang dipimpin Karaeng Ngemba jelas terdapat perbedaan motif, bentuk, cara, strategi dan kecenderungan yang mendorong terjadinya gerakan.

Meskipun Belanda sangat kesulitan memberantas Gerakan Karaeng Ngemba namun akhirnya Sang Legenda Tobarani dari Tanralili itu berhasil ditangkap bersama dua adiknya Karaeng Mone dan Karaeng Ngago.

Ada 30 perkara yang dituduhkan kepadanya demikian isi berita berjudul “soort over sort” dalam Koran Bataviaasch nieuwsblad, tanggal 17 Januari 1929, halaman ketiga.

Akhirnya Sang Legenda Tobarani atau Tawara dari Tanralili, Karaeng Tallua ri Marusu dibawa ke Nusakambangan menjalani hukuman.

Maros, 7 Agustus 2019

Like it? Share it!

Leave A Response