Oleh: Asyari Usman, Wartawan senior
Tulisan Sebelumnya: Prabowo: Setelah dicerca habis, Kini dipuja habis
PALONTARAQ.ID – Hari-hari ini, para pengamat politik gencar membahas tentang apa yang akan terjadi terhadap gerakan 212. Gerakan ini terkenal dengan aksi damainya, terutama di ibukota. Aksi-aksi damai yang muncul dan langsung besar di pengujung 2016 dan awal 2017 itu, sama sekali tidak mengganggu Jakarta.
Tetapi, ada pihak yang merasa sangat terbebani oleh gerakan umat 212. Ada beban politik yang sangat berat akibat keberhasilan aksi damai 212. Beban itu secara natural tertimpakan kepada Orang-orang yang resah melihat kebangkitan Islam politik.
Sebelum dilanjutkan, perlu ditanya dahulu apakah valid menteorikan bahwa aksi damai 212 identik dengan kebangkitan Islam politik?
Pertanyaan ini lebih baik dijawab dengan pertanyaan juga. Kalau bukan kristalisasi kebangkitan Islam politik, mau disebut apa gerakan 212 itu? Sekadar kumpul-kumpul saja? Sangat absurd!
Baik. Kita teruskan. Sebagian pemerhati politik berpendapat bahwa aksi damai 212 akan menjadi tak relevan lagi setelah Prabowo digiring masuk ke kubu 02. Tidak ada lagi pemimpinnya.
Ada pula pengamat yang memperkirakan 212 akan meredup dan kemudian sirna. Yang lain memperkirakan 212 akan menjadi “anak ayam kehilangan induk” setelah kepergian Prabowo ke kubu 01. Akan tercerai-berai.
Tetapi, semua teori atau dugaan itu tidak akan ada yang tepat. Memperkirakan gerakan 212 akan lenyap adalah kekeliruan berpikir yang disengaja. Mengatakan gerakan 212 akan selesai, hanya menunjukkan frustrasi Anda melihat Islam politik yang semakin matang dalam berstrategi.
Gerakan 212 tidak tergantung pada Prabowo. Sebaliknya, gerakan 212-lah yang mengajak Prabowo berjuang melawan kesewenang-wenangan Rezim yang berkuasa. Ke depan, gerakan ini juga tidak akan tergantung pada tokoh personalitas seperti Habib Rizieq, dan lain sebagainya. Gerakan ini cukup dipimpin oleh seorang koordinator yang mirip dengan “admin” di Grup-grup Whatsapp (WA).
Kenapa? Karena 212 diramaikan oleh lapisan intelektual dan kelas menengah. Mereka ini semua memiliki pemahaman yang komplit tentang gerakan 212, tentang tujuannya dan cara-cara yang digunakan. Semua pendukung 212 mengerti bahwa gerakan 212 adalah Islam politik yang akan selalu damai. Semua praktisi dan tokoh 212 tahu bahwa mereka berkumpul di kelompok umat garis lurus.
Lihat pula: Kenapa Kalian Sibuk Mau Jumpa Prabowo?
Yang paling gerah terhadap gerakan 212 adalah Orang-orang yang sedang berkuasa. Para penguasa itu tidak bisa tidur nyenyak. Mereka serasa dikejar oleh sosok yang menakutkan bagi mereka. Tetapi tidak menakutkan bagi orang lain.
Mereka tahu gerakan 212 adalah isyarat kebangkitan Islam politik. Yang diprakarsai dan diisi oleh umat Islam garis lurus. Yaitu, kumpulan umat yang berasal dari Macam-macam organisasi kemasyarakatan (Ormas) dan organisasi politik (Orpol), madzhab dan pemikiran.
Umat garis lurus memiliki tekad untuk menegakkan keadilan bagi semua dan melawan kezaliman. Sejauh ini, umat garis lurus dipimpin oleh orang-orang yang tidak serakah tetapi tegas. Ketegasan mereka dalam melawan kedzaliman membuat para penguasa gerah dan resah. Mereka sekarang menggunakan segala cara untuk melemahkan dan melenyapkan gerakan 212.
Salah satu cara ampuh yang mungkin akan dilakukan adalah mendemonisasikan (menjelekkan) 212. Memberikan label yang buruk dan menakutkan. Sangat mungkin 212 akan dikait-kaitkan dengan paham radikal. Mereka boleh jadi akan disusupi dengan Elemen-elemen jahat yang kemudian akan merusak nama baik 212.
Sangat mungkin pula pihak tertentu menyusupkan orang-orang yang akan “diatur” untuk melakukan tindak kekerasan dengan membawa-bawa nama 212. Termasuk melakukan tindakan terorisme. Sehingga, rezim penguasa memiliki alasan untuk mencap gerakan 212 sebagai ‘gerakan teroris’.
Mungkinkah melabel 212 sebagai teroris menjadi kenyataan? Bisa saja. Sebab, gerakan 212 akan terus membayangi ketidakmampuan penguasa dalam menegakkan keadilan. Justru yang terjadi adalah kerisauan sosial. Pencitraan yang terus menerus dilakukan rezim tidak bisa menutupi ketidakmampuannya mengelola negara. Ini sangat merisaukan mereka.
Tapi, apakah masuk akal mengatakan gerakan 212 sebagai ‘gerakan teroris’ atau mengancam kedaulatan NKRI? Inilah yang menjadi masalah. Sangat tak mungkin mengatakan 212 sebagai gerakan teroris. Sebab, 212 adalah representasi 80 juta pemilih Islam garis lurus.
Anda pusing dengan 212? Tak perlu. Kalau Anda pusing, bisa-bisa Anda terpaksa mengatakan Indonesia ini adalah negara dengan 80 juta teroris. Menjadi konyol, bukan? Padahal, mereka hanya arus baru gerakan Islam politik. Arus yang jernih dan bening, insya Allah. (*)


