Ketika Masjid Dilecehkan dan Narasi Menyelamatkan Penistaan Agama

by Penulis Palontaraq | Minggu, Jun 30, 2019 | 44 views
Seorang Perempuan Katolik bersepatu dan membawa anjingnya masuk masjid, menguji kesabaran umat Islam atau pesan menyulut perang? (foto: ist/palontaraq)

Seorang Perempuan Katolik bersepatu dan membawa anjingnya masuk masjid, menguji kesabaran umat Islam atau pesan menyulut perang? (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

PALONTARAQ.ID – Dengan dalih apapun, motivasi dan sebab apapun, masuk masjid dengan tanpa melepas alas kaki, membawa anjing najis dan melepaskannya bebas berkeliaran di masjid, apalagi mengumpat dan marah-marah dan dengan bangga menyatakan diri sebagai kafir, adalah bentuk pelecehan terhadap agama Islam.

Kami umat Islam, begitu memuliakan masjid. Masjid, adalah tempat suci bagi kami, tempat kami bersujud kepada Allah SWT, Rab alam semesta, Rab manusia dan Rab kehidupan.

Karena itu, baik itu kesengajaan atau berdalih kekhilafan, jelas merupakan penghinaan terhadap rumah Allah SWT, penghinaan terhadap umat Islam. Ini, adalah kasus yang kesekian kalinya, umat Islam dilecehkan.

Jadi, jangan mencoba berdalih tidak sengaja, tidak tahu, khilaf dan meminta maaf. Dan dengan itu, dianggap urusan ini selesai dan penghinaan terhadap masjid dianggap tidak pernah terjadi.

Jangan pula, mengumbar argumentasi ‘gila’ atau dalih-dalih yang lainnya. Karena, kami tidak percaya apapun kecuali penista masjid, penista agama Islam, diproses hukum dan dipenjara.

Jangan mencoba membangun narasi untuk melindungi penista agama, dengan berbagai dalih, jika tidak ingin umat Islam mencap rezim ini pelindung penista agama. Cukuplah Ahok, yang mendapat perlindungan rezim. Jangan melindungi penista agama lainnya.

Jangan pula, mengulang mempersoalkan yang memvideokan atau memviralkan, karena akar masalahnya adalah adanya penista agama, bukan adanya video atau yang memviralkan. Jika ingin umat ini tenteram batinnya, proses hukum penista agama agar kelak tidak ada lagi orang yang mudah menistakan agama Islam.

Jangan pula mengulangi, menerapkan pasal ringan hanya untuk dalih telah diproses hukum, sebagaimana kasus pembakaran bendera tauhid di Garut. Rasa kesal dan marah kami belum sepenuhnya reda, jangan membuat marah kami semakin bergolak.

Kalian tidak akan rugi dan kehilangan, menyerahkan pelaku penista agama Islam untuk diproses hukum karena kesalahannya. Jangan sampai, upaya melindungi penista agama mendatangkan badai masalah yang lebih besar lagi.

Wahai umat Islam, mari kita kawal bersama agar penista agama masuk penjara. Jangan sampai, sakit hati kita atas ketidakadilan putusan MK bertambah parah karena lepasnya penista agama.

Kita, sudah terlalu sering diam dan disakiti. Untuk itu, saling bersinergilah untuk melindungi Marwah dan wibawa agama. (*)

Like it? Share it!

1 Comment so far. Feel free to join this conversation.

Leave A Response