
Tulisan Sebelumnya: EGO (18-20)
EGO (21): Jarum jam pada salah satu kios di Pasar Pangkajene sudah menunjukkan pukul 24.00 WITA saat saya bersama kawan lainnya asyik mengasup nasi kuning dan ikan bandeng goreng pada deretan bangku salah satu warung makan di pelelangan ikan dalam pasar tersebut.
Kami hadir disana, seakan terpaksa, tak kuasa menolak ajakan seorang kawan yang merupakan sastrawan, pegiat budaya dan pekerja seni, yang sudah kami anggap layaknya kakak.
Usai makan, kawan-kawan yang membersamai makan itu larut mendengarkan pengajaran cara menulis yang baik dari sang sastrawan sementara aku asyik menyaksikan bongkar muat ikan bandeng yang belum akan berakhir padahal jarum jam menunjukkan pukul 01.00 WITA.
Satu persatu agen ikan itu kuwawancarai, begitu pula buruh pasar serta penjual nasi kuning di pasar itu. Aku menanyakan keherananku mengapa lebih banyak ikan bandeng dari luar daerah, seperti dari Palopo, Malili, Bone, Pinrang dibanding dari Pangkep, daerahku sendiri padahal daerah ini sudah lama dikenal sebagai “kota bandeng”.
Tak ada jawaban memuaskan kudapat. Para agen itu sibuk menghitung ikan yang masuk dan para buruk sibuk menyortir ikan, setelah beberapa ekor ikan disisihkan sebagai pengganti capeknya. Aku lantas teringat tagline pembangunan daerahku yang ingin menjadikan Pangkep sebagai daerah pertanian, perkebunan dan perikanan terbesar seluruh Indonesia. Sungguh jargon itu berlebihan.
“Kamu telah ikut menipu rakyat Pangkep. Tagline pembangunan yang kamu buat telah menipu orang Pangkep. Taglinemu tidak realistis.” – sebuah pesan pendek kukirim kepada seorang kawan yang kutahu perannya sebagai salah satu konseptor tagline omong kosong itu.
Catatan Ego (21) Etta Adil, Pangkep, 29 September 2012.


