Beranda Kolom Pembatal-pembatal Puasa yang Paling Banyak ditanyakan Hukumnya

Pembatal-pembatal Puasa yang Paling Banyak ditanyakan Hukumnya

Pembatal-pembatal puasa. (foto: ist/palontaraq)
Pembatal-pembatal puasa. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

KAJIAN ini penting bagi seorang muslim untuk mengetahuinya dan memastikan hukumnya. Umumnya selama ini yang dianggap sebagai pembatal puasa adalah makan dan minum dengan sengaja, berhubungan badan suami istri, dan hal lainnya yang sudah diketahui umum.

Makan dan minum dengan sengaja yang dimaksudkan adalah memasukkan apa saja ke dalam tubuh melalui mulut, baik yang dimasukkan adalah sesuatu yang bermanfaat (seperti nasi, roti dan makanan lainnya) (Lihat: Bidayatul Mujtahid, hal. 267)

Pembatal puasa adalah juga sesuatu yang membahayakan atau diharamkan (seperti khomr dan rokok) (Merokok termasuk pembatal puasa. Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, Bab Ash Shiyam, 17/148).

Lihat juga: Referensi Target Harian Ramadan

Pembatal puasa lainnya adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh secara sengaja, meskipun sesuatu itu tidak ada nilai manfaat atau berbahaya bagi tubuh.(Lihat: Syarhul Mumthi’, 3/47-48)

 

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya:
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Jika orang yang berpuasa lupa, keliru, atau dipaksa, puasanya tidaklah batal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَسِىَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Artinya:
“Apabila seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, hendaklah dia tetap menyempurnakan puasanya karena Allah telah memberi dia makan dan minum.” (HR. Bukhari no. 1933 dan Muslim no. 1155)

Lihat juga: Bolehkah Berbekam saat Puasa?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Artinya:
“Sesungguhnya Allah SWT menghilangkan dari umatku dosa karena keliru, lupa, atau dipaksa.” (HR. Ibnu Majah no. 2045. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih)

Yang juga termasuk makan dan minum adalah injeksi makanan melalui infus. Jika seseorang diinfus dalam keadaan puasa, batallah puasanya karena injeksi semacam ini dihukumi sama dengan makan dan minum.(Lihat: Shifat Shoum Nabi, hal. 72)

Siapa saja yang batal puasanya karena makan dan minum dengan sengaja, maka ia punya kewajiban mengqodho’ puasanya, tanpa ada kafaroh. Inilah pendapat mayoritas ulama.(Lihat: Shahih Fiqh Sunnah, 2/105)

Lihat juga: Penting Diketahui: Kaji Ulang tentang Puasa Ramadan

Dalam Kitab “Tanbiihaat Syahri Ramadhon”,  Faidah dari Majmu’ah Manaabir al-Kitab was Sunnah dengan sedikit perubahan, yang dialih-bahasakan oleh Al Ustadz Syafi’i al Idrus Hafizhohulloh, menyebutkan beberapa pembatal puasa yang paling sering ditanyakan tentang hukumnya, adalah sebagai berikut:

 

مفطرات الصيام التي يكثر السئال عنها

?التحاميل ( لاتفطر) ابن عثيمين

?قطرة العين ( لاتفطر) ابن تيمية وابن باز وابن عثيمين

?الكحل ( لايفطر)ابن تيمية وابن باز و ابن عثيمين

?قطرة الأذن ( لاتفطر)ابن تيمية وابن باز و ابن عثيمين

?قطرة الأنف ( اذا وصلت الى المعدة فإنها تفطر) ابن عثيمين
ابن باز: قطرة الأنف لاتجوز للصائم ومن وجد طعمها في حلقه فعليه القضا

?بخاخ الربو ( لايفطر) ابن باز ابن عثيمين واللجنة الدائمة

?الإبر المغذية( تفطر) ، والإبر العضلية او الوريدية أو الجلدية ( لاتفطر) ابن عثيمين وابن باز

?إبر البنسلين ( لاتفطر) ابن عثيمين

?إبر الأونسولين لمرضى السكر ( لاتفطر) اللجنة الدائمة

?إبرة تخدير الأسنان وعمل حشوه وتنظيفها
( لايفطر) ابن باز

?استنشاق البخور عمداً مع العلم( يفطر) ، أما مجرد شم البخور ( فلايفطر) ابن عثيمين

?استعمال العطور واستنشاقها( لايفطر) ابن عثيمين وابن باز

?مرطب الشفتين( لايفطر) بشرط عدم ابتلاع شيء منه، ابن عثيمين

?المكياج ( لايفطر) ابن باز وابن عثيمين

?القيء عمداً ( يفطر) ، وبغير عمد( لايفطر) ابن عثيمين وابن باز

?رعاف الأنف وقلع الضرس مع خروج دم ( لايفطر) ابن عثيمين وابن باز

?تحليل الدم( لايفطر) ابن باز وابن عثيمين

?الإحتلام( لايفطر) ابن عثيمين وابن باز

?السباحة والغوص( لايفطر) ابن عثيمين

?دواء الغرغرة( لايفطر) بشرط عدم ابتلاع شيء، ابن عثيمين

?السواك( لايفطر) ابن عثيمين وابن باز

?معجون الأسنان ( لايفطر) اذا لم ينزل الى المعدة، والأولى عدم استعماله؛ لان له نفوذ قوي. ابن عثيمين وابن باز

?بلع النخامة( لايفطر) ابن عثيمين

?تذوق الطعام( لايفطر) ولكن لاتبتلعه ،ولاتفعله الا لحاجه. ابن عثيمين

?لصقات النيكوتين( تفطر) اللجنة الدائمة

من ‌‌‌‌‌‌‏تنبيهات شهر رمضان

نقل عن مجموعات الكتاب والسنة
بتصرف- يسي-ر

Pembatal-pembatal puasa menurut para Ulama, adalah sebagai berikut:

1. Suppositoria (obat berbentuk peluru yg dimasukkan ke dalam anus atau yang semisalnya).  Tidak membatalkan puasa. [Menurut pendapat asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh.]

2. Tetes mata.  Tidak membatalkan puasa. [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh].

3. Celak. Tidak membatalkan puasa. [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin].

4. Tetes telinga. Tidak membatalkan puasa. [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh]

5. Tetes hidung. Jika sampai masuk ke lambung maka membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]. Adapun asy-Syaikh Ibnu Baz berpendapat tetes hidung TIDAK BOLEH bagi orang yang berpuasa. Dan barangsiapa yang mendapati rasanya di tenggorokannya, maka wajib baginya untuk mengqodho’ (yakni batal puasanya).

6. Sprayer (semprot) asma. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Baz, aay-Syaikh Ibnu Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah rahimahumulloh].

7. Suntikan Nutrisi. Membatalkan puasa. Adapun suntikan otot, pembuluh darah atau kulit maka tidak membatalkan. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

8. Suntik Penicillin. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

9. Suntikan Insulin bagi penderita diabetes. Tidak membatalkan puasa. [al-Lajnah ad-Daimah].

10. Suntik bius (anastesi) pada gigi, menambal dan membersihkannya. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahulloh].

11. Menghirup bukhur (asap gaharu) dengan sengaja dalam keadaan tahu. Membatalkan puasa. )*Adapun sekedar mencium aroma bukhur tanpa sengaja menghirupnya, maka TIDAK membatalkan. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

12. Memakai minyak wangi dan menghirupnya. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

13. Pelembab bibir. tidak membatalkan puasa. Dengan syarat tidak ada yg tertelan sedikitpun darinya. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

14. Make up. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

15. Muntah dengan sengaja membatalkan puasa. Adapun jika tidak sengaja maka tidak membatalkan. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

16. Epistaksis (mimisan), cabut geraham disertai keluarnya darah.

Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

17. Diambil darah untuk diperiksa. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

18. Ihtilam (mimpi basah). Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

19. Berenang dan menyelam. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

20. Obat kumur (semisal listerin). Tidak membatalkan puasa. Dengan syarat tidak ada yang tertelan sedikitpun darinya. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

21. Siwak. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

22. Pasta gigi (gosok gigi). Tidak membatalkan puasa selama tidak sampai ke lambung. (Akan tetapi) yang lebih utama tidak menggunakannya, karena memiliki pengaruh (rasa) yang kuat.

23. Menelan dahak. Tidak membatalkan puasa. [asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]. Adapun asy Syaikh ibnu Baz rahimahulloh berpendapat dahak/riak (النخامة) tidak boleh ditelan dan wajib dibuang (tambahan dari pent).

24. Mencicipi makanan. Tidak membatalkan puasa, akan tetapi tidak boleh menelannya, dan tidak melakukannya kecuali memang dibutuhkan.

25. Koyo nikotin. Membatalkan puasa. [al-Lajnah ad-Daimah]

 

Demikian. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT