Persiapan Menyambut Bulan Ramadan

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Mei 4, 2019 | 85 views
Ilustrasi by: islamedia/*

Ilustrasi by: islamedia/*

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh Umat Islam, karena di bulan itu banyak sekali keistemewaan dan keberkahannya.

Bulan Ramadhan adalah bulan maghfirah, rahmah, dan ampunan. Karena itu untuk memasukinya, perlu kemantapan hati dan niat yang ikhlas agar Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam beramaliah yang terbaik selama Bulan suci Ramadhan.

Niat Puasa Ramadhan

Mari luruskan dan perbaiki niat puasa kita dalam Bulan Ramadhan ini, dengan lafadz niat berikut ini:

 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta’ala.

Artinya:
“Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Secara khusus, dapat dimantapkan niatnya dengan lafadz berikut ini dan hal inilah yang diamalkan al-Habib Abubakar Al-Adeni Al-Masyhur.

نَوَيْنَا مَانَوَاهُ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالسَلَفُ الصَّالِحُ مِنْ آلِ البَيْتِ الكِرَامِ وَالصَّحَابَه الأَعْلَام ✨

وَنَوَيْنَا القِيَامَ بِحَقِّ الصِيَامِ عَلَى الوَجْهِ الَّذِيْ يُرْضِي المَلِكُ العَلاَّم ✨

وَنَوَيْنَا المُحَافَظَةَ عَلَى القِيَامِ وَحِفْظِ الجَوَارِحِ عَنِ المَعَاصِي وَالآثَامِ ✨

وَنَوَيْنَا تِلَاوَةَ القُرْآنِ وَكَثْرَة الذِكْرِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ الأَنَامِ وَنَوَيْنَا تَجَنُّبَ الغِيْبَةِ وَالنَمِيْمَةِ وَالكَذِبِ وَأَسْبَابِ الحَرَامِ ✨

وَنَوَيْنَا كَثْرَةَ الصَّدَقَاتِ وَمُوَاسَاةِ الأَرَامِلِ وَالفُقَرَاءِ وَالأَيْتَامِ ✨

وَنَوَيْنَا كَمَالَ الإِلْتِزَامِ بِآدَابِ الإِسْلَامِ وَالصَّلاةِ فِي الجَمَاعَةِ فِي أَوْقَاتِهَا بِانْتِظَامِ ✨

وَنَوَيْنَا كُلَّ نِيَّةِ صَالِحَةٍ نَوَاهَا عِبَادُ اللهِ الصَّالِحُوْنَ فِي العَشْرِ الأَوَائِلِ وَالأَوَاسِطِ وَالأَوَاخِرِ وَلَيْلَةِ القَدْرِ فِي سَائِرِ اللَيَالِي وَالأَيَّامِ ✨

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

 

Artinya:

“Kami niat sebagaimana niat Nabi SAW dan para salafuna shalih dari para ahlulbait nabi yang mulia dan para sahabat yang agung ✨

Kami niat melaksanakan puasa dengan sesempurna mungkin yang membuat ridho raja semesta alam Allah SWT ✨

Kami niat menjaga sholat tarawih dan menjaga angota badan dari segala maksiat dan dosa ✨

Kami niat rutin membaca alqur’an dan banyak berdzikir serta sholawat pada nabi muhammad pemimpin manusia dan menjauhi ghibah, adu domba , berdusta dan segala hal yang menyebabkan perkara yang haram dan dosa ✨

Kami niat banyak bersodaqoh dan menyantuni para janda janda ,orang-orang fakir juga anak anak yatim ✨

Kami niat menjaga dengan sebaik baiknya akhlak-akhlak yang di ajarkan dalam agama islam serta menjaga sholat jama’ah tepat pada waktunya dengan sempurna ✨

kami niat dengan semua niat niat baik yang telah di niatkan para sholihin di 10 pertama , 10 kedua serta 10 terakhir dan malam lailatul qodar juga di setiap malam dan harinya.”

Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Untuk menyambut bulan suci Ramadhan, maka perlu dilakukan persiapan-persiapan, diantaranya adalah :

1. Mempertebal Keimanan

Tidak sedikit umat Islam dengan kedatangan bulan Ramadhan ini bersedih hati, risau, karena sebagian aktifitasnya terganggu.

Oleh karena itu perlu mempertebal dan memupuk keimanannya. Karena yang dipanggil untuk mengerjakan puasa ini hanyalah orang yang beriman kepada Allah, sebagai mana disebutkan dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَآ كُتِبَ عَلٰى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Qs.Al-Baqarah: 183)

Lihat juga:  Universitas Ramadan

2. Menambah Pengetahuan tentang Puasa

Supaya puasanya sah, maka perlu mengetahui ilmu tentang puasa, syarat, rukun, yang membatalkan dan sunnah-sunnah puasa.

Tidak sedikit di antara umat Islam yang puasanya hanya mendapat lapar dan dahaga saja meskipun puasanya sah, artinya tidak mendapat pahala puasa.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya menukilkan hadits:

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلاَّ اْلجُوْعُ وَاْلعَطَسُ أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهُ مِنْ حَدِيْثٍ أَبِيْ هُرَيْرَةَ

Artinya:
Nabi saw bersabda : Banyak sekali orang-orang yang berpuasa namun dia tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. Hadits dikeluarkan An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah (Kitab Ihya Ulumuddin, Juz I, halaman 456)

عَنْ أَنَسْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ خَمْسُ يُفْطِرْنَ الصَّائِمِ اَلْكَذِبُ وَاْلغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَاْليَمِيْنُ الْكاَذِبَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ

Artinya:
Dari Anas, dari Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda : Lima perkara yang membatalkan (pahala) orang yang puasa, yaitu : Bohong, ghibah, adu domba, bersumpah palsu, memandang penuh syahwat. (Kitab Ihya Ulumuddin, Juz I, halaman 234)

Lihat juga:  Urutan Cara Berbuka Puasa

3. Menjaga Stamina dan Kesehatan Tubuh

Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat pada bulan Ramadhan sangat penting. Mengingat kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah.

Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik dan penuh semangat. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya sangat terganggu dan tidak semangat.

Oleh karena itu perlu penambahan vitamin atau obat tertentu serta makanan-makanan yang banyak mengandung gizi supaya badan tetap sehat dan selalu segar.

Lihat juga:  Fadhilah Shalat Tarawih

4. Persiapan Finansial (Materi)

Persiapan finansial (keuangan) juga perlu diperhatikan dalam menyambut Bulan Ramadan. Jangan sampai kegiatan pekerjaan atau rutinitas memenuhi kebutuhan materi mengganggu kesempatan beramaliah ramadhan, dimana didalamnya pahala dilipat-gandakan.

Persiapan finansial atau materi di sini tidak dimaksudkan untuk membeli kebutuhan berbuka dan sahur yang mewah dan mahal bahkan kadang terkesan berlebihan, tetapi lebih diperuntukkan untuk menopang ibadah sedekah (bersedekah) dan infak yang sangat dianjurkan dalam bulan itu.

Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ سُئِلَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَىُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَعْبَانُ لِتَعْظِيْمِ رَمَضَانَ. قِيْلَ فَأَىُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Artinya:
Dari Anas ia berkata, Nabi SAW pernah ditanya: Puasa apa yang lebin utama setelah puasa Ramadhan? Maka beliau SAW menjawab: Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan. Ditanya kembali: Kapankah sedekah yang lebih utama? beliau SAW menjawab: Sedekah pada bulan Ramadhan. (HR. Tirmidzi No.665, Baihaqi No.8780)

Demikian. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response