Kenapa Saya di Kubu 02?

by Kontributor Palontaraq | Sabtu, Apr 13, 2019 | 50 views
Jokowi dan Presiden Xi Jinping. (foto: cnnindonesia)

Jokowi dan Presiden Xi Jinping. (foto: cnnindonesia)

 

Oleh: Zainal Arifin, seorang Da’i

Bismillah..

Banyak yang menanyakan kepada saya, kenapa sih bapak mendukung pasangan calon (paslon) presiden 02. Padahal kalau bapak perpegangan pada agama, justru paslon no 01 mestinya lebih Islami dibanding paslon 02.

Lihat saja, kan pak Jokowi lebih baik ibadahnya dibanding pak Prabowo. Dia melaksanakan shalat, puasa, bisa mengaji bahkan bisa menjadi imam shalat, kalau pak Prabowo, kan ngga bisa?

Apalagi kalau melihat calon wakil presidennya, tentu pak KH Makruf Amin jauh mumpuni dalam hal agama, siapa yg masih meragukan keislaman beliau? Kenapa kok bapak seorang ustadz malah memilih pasangan 02?

Begini ya saudaraku. Berat memang utk bisa menjelaskan hal ini. Semula saya tidak akan menyampaikan alasan keputusan politik saya ini, karena dikhawatirkan salah memahamkannya.

Lihat juga: UAS Dukung dan Nasehati Prabowo

Jujur, sampai detik ini (H-8) saya belum berani menyampaikan alasan politik saya, baik melalui sosial media maupun langsung bahkan ke saudara kandung sekalipun. Namun saat ini saya anggap perlu, setidaknya sahabat dan saudara mengetahui bahwa keputusan politik saya ini bukan ikut-ikutan semata apalagi taklid buta.

Pilihan saya berdasarkan tabayyun dengan Orang-orang Saleh dan literasi terpercaya serta pengalaman nyata yang dianalisis dengan kenyataan pemerintahan selama 4,5 tahun kepemimpinan pak Jokowi.

Saya mohon siapapun yang membaca tulisan saya ini memberikan hati yang ikhlas dan menganggap ini adalah hasanah keilmuan dan niatan baik dari seorang anak bangsa untuk agama bangsa dan negaranya.

Jauhkan dari pemahaman ujaran kebencian apalagi memecah belah anak bangsa. Politik ini sesuatu yang sangat dinamis, berubah begitu cepat dan banyak penyesuaian sesuai kepentingan, disajikan begitu rapi dan menarik dengan sentuhan “kosmetik politik”.

Lihat juga: Cerita Yunus Yosfiah tentang Prabowo Subianto

Politik juga kadang tampil bermuka banyak dengan tujuan utama “memenangkan kekuasaan”, apapun harus dilaksanakan, bahkan pembohongan, kekerasan, kecurangan dengan menebar fitnah adu domba bahkan mengorbankan agamapun tetap dilaksanakan, yang terpenting adalah kemenangan.

Sehingga bagi saya dalam menentukan keputusan politik harus dilandasi dengan referensi yang kuat dan nalar. Jangan sampai terbius dan terperdaya oleh kosmetik politik belaka.

Izinkan saya menyampaikan pengalaman pribadi tentang perjalanan saya dan istri saat berlibur ke China, yang terus terang hal inilah yang sangat mendasar dan menjadikan salah satu pegangan kuat tentang pilihan politik saya.

Semoga menjadi bahan renungan dan muhasabah bagi kita. Jangan khawatir, bagi sahabat dan saudaraku yang masih memegang pilihan 01 nggak masalah, tetaplah istiqomah dengan pilihannya. Hanya sisipkan sedikit waktu untuk membaca tulisan ini sampai dengan selesai, agar tidak salah faham.

Oh iya, mohon dibedakan kalau saya menyebut “Orang China”, maksudnya Orang-orang China-Tiongkok, bukan Orang China keturunan yang sudah menjadi warga negara Indonesia.

Begini sahabat, sebelumnya saya adalah orang yang sangat memuji tentang China seperti kebanyakan Orang-orang Indonesia pada umumnya terutama pendukung Capres 01.

Lihat juga: 12 Tanda-tanda Kekalahan Jokowi

Orang-orang terampil China sangat luar biasa, didukung etos kerja dan upah yang sangat rendah dibanding tenaga kerja dunia. Sehingga saya sangat apresiate jika Indonesia melakukan kerjasama yang setara dan saling memuliakan dengan China.

Tapi pandangan positif terhadap China tersebut semua hilang seketika bahkan terbalik menjadi kehati-hatian terhadap China saat saya dan istri jalan-jalan ke China selama 2 pekan sekitar tahun 2014, disaat pak Jokowi terpilih jadi presiden RI.

O, iya ternyata kita berangkat ke China dalam waktu yang hampir bersamaan dengan pak Jokowi, hanya beda kelas saja. Beliau kunjungan sebagai Presiden dan saya sebagai pasangan yang sedang berhoneymoonan.

Seingat saya kunjungan beliau adalah kunjungan kenegaraan pertama setelah dilantik presiden, pada acara APEC yang ke 24, Tahun 2014 di Beijing.

Lihat juga: Bila Prabowo kalah, Sulit bagi Pribumi Bangkit

Pengalaman yang saya dapatkan saat itu:

1. Ternyata kedatangan pak Jokowi ke China saat itu disambut besar-besaran oleh pemerintah dan rakyat China, jauh lebih istimewa dibanding kepala negara lainnya.

Saya sangat bangga atas penyambutan terhadap Presiden Jokowi tersebut, tetapi ada rasa penasaranan yang sangat lebih, ada apa dan kenapa? Maka saya tanyakan hal tersebut ke tour-guide yang kebetulan Orang China asli (Beijing) tapi bisa bahasa indonesia.

“Kenapa sebegitu meriahnya pemerintah dan rakyat cina menyambut kedatangan pak
Jokowi?”

Jawab tour-guide dapat saya ringkas di bawah ini:

a. Pemerintah dan masyarakat China bersukacita atas kemenangan pak Jokowi dalam Pilpres 2014 terhadap pak Prabowo

Jokowi dan timnya dianggap oleh China (maksudnya pemerintah dan rakyat cina), pemimpin yang bisa membawa hubungan Indonesia-China jauh lebih baik, dan mereka menganggap dengan kemenangan ini akan banyak proyek insfrastruktur China yang bisa diimplementasikan di Indonesia, sehingga menjadi lapangan baru dan besar bagi Rakyat China. (jalan tol, tol laut, kereta cepat, bendungan, dan lain-lain).

b. Cina menganggap Indonesia dibawah rezim Jokowi akan bergeser totalitas dari negara religi menjadi negara sekuler. Mereka menganggap Jokowi seperti pahlawan layaknya Kamal Attarturk yang telah menyelamatkan peradaban Turki, dari negara religi menjadi negara sekuler. Innalilllahi, ternyata mereka menyamakan Jokowi seperti Kamal Attarturk.

Narasi pemikiran kita, khususnya umat Islam, bahwa peradaban Islam di Turki digerus dan dihabisi oleh sekulerisme rezim Kamal Attarturk. Dan ternyata China berpandangan sebaliknya. Kamal Attarturk dianggap sebagai pahlawan peradaban Turki dan Jokowi dianggap sama bisa membawa Indonesia menjadi negara maju dengan harus merubah religi menjadi sekuler. Astaghfirulloh.

2. Di kawasan wisata pengobatan, saya kaget melihat disalah satu gedung di depannya dipampang photo presiden-presiden RI, dan yang membuat pertanyaan besar dalam benak saya adalah tidak semua photo presiden RI dipampang disana, hanya Soekarno, Gus Dur (tapi potonya agak di byurkan, sengaja tidak dibuat jelas), Megawati dan yang terakhir Jokowi.

Lihat juga:  Jejak Digital: Jokowi sukses buka Lapangan Kerja buat WNA!

Aneh sekali pak Soeharto, Habbibi dan SBY tidak ada potonya. Saya tanya ke tour guide, ternyata nama-nama presiden RI yang dibesar-besarkan di China hanya Soekarno, Megawati dan Jokowi, yang lainnya tidak, apalagi dengan pak Soeharto mereka sangat alergi sekali. LUAR BIASA!

3. Ternyata China adalah satu-satunya negara komunis massif (beda dengan komunis Uni Soviet, masih memberi kebebasan Islam berkembang). Jangan harap Islam bisa berkembang di China, karena kehidupan beragama betul-betul dikekang, terutama Islam.

Saya sangat kaget tatkala menanyakan ke tour-guide, ternyata memang aturan pemerintah demikian, agama tidak boleh berkembang, bahkan adzan saja dilarang untuk dikumandangkan. Astaghfirulloh.

4. Akhlak mereka banyak yang rusak, tidak ada lagi diantara mereka yang percaya dengan hukum Tuhan dan pembalasan akibat perbuatan setelah kematian. Makanya pembohongan di China terhadap turis-turis yang datang ke China banyak terjadi (silakan cek di Google) dan anehnya oknum yang melakukan pembohongan dibiarkan saja oleh pemerintahan China.

Untuk hal ini saya dan istripun menjadi korban kebohongan yang menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah. Prinsip mereka yang penting untung, dosa itu nomor berapa, bahkan tidak ada dalam kamus hidup dan bisnis mereka.

Dari pengalaman saya diatas, dengan membandingkan pemerintahan Jokowi selama ini, ternyata pengalaman di atas banyak terjadi selama 4,5 tahun terakhir. Kerjasama Indonesia dengan China begitu besar dan massifnya. Semua proyek infrastruktur yang besar dan vital semua dikerjakan China.

Bahkan dalam perkereta-apian kita melihat ada nama KAIC (Kereta Api Indonesia-China). Yang sangat menjadi pertanyaan dan kekhawatiran saya terhadap kerjasama dengan China yang kebablasan ini.

Sedikit banyak, lambat laun, kebudayaan dan kebiasaan para tenaga kerja cina akan mambaur masuk kedalam pola hidup masyarakat setempat, bahkan mau tidak mau akan merusak dan menggesernya.

Kebijakan Tenaga Kerja Asing (TKA) pada pemerintahan sebelumnya dibatasi dengan peraturan yang smart, dimana TKA yang boleh masuk ke Indonesia adalah hanya yang memiliki skill dan keahlian khusus, tidak boleh tenaga kasar, selain itu 1 orang TKA harus didampingi tenaga Indonesia sebanyak 10-20 orang.

Peraturan yang bagus ini hilang selama rezim pak Jokowi, sehingga tenaga-tenaga kasar dari China dengan mudahnya masuk ke Indonesia mengerjakan pekerjaan yang semestinya bisa dikerjakan oleh pekerja bangsa sendiri.

Oh iya, saat ini Bank-bank cina sudah banyak yang beroperasi di Indonesia untuk memberikan pembiayaan proyek-proyeknya, termasuk di Yogyakarta, berlokasi di jln Sudirman sudah ada 2 bank dari China dengan tulisanyapun menggunakan tulisan cina.

Dalam hal keberpihakan terhadap umat Islam. Pemerintahan Jokowi bisa dikatakan tidak pro umat Islam. Hal ini sangat nampak dengan sikap dan kebijakan rezim saat umat Islam melaksanakan gerakan moral 212. Bahkan gerakan moral ini diputarbalikan oleh kekuasaan sebagai tindakan yang kurang baik.

Diboncengi politiklah, disetir oleh orang-orang yang ingin menggulingkan pemerintahanlah, segudang perlemahan dilakukan oleh rezim pada kekuatan umat Islam melalui gerakan moral 212.

Semestinya pak Jokowi dapat merangkul dengan kebapakannya sebagai Presiden, mendengar, mendiskusikan serta merumuskan bersama jajaran kabinetnya dalam merealisasikan keinginan serta masukan umat Islam melalui para ulama. Jangan malah melakukan penetrasi bahkan pengkriminalisasian para ulama.

InsyaAllah masukan umat Islam tidak ada yang jelek dan bertentangan dangan bangsa dan negara kita, semua adalah dalam rangka menjaga NKRI, memperkuat Pancasila, mewujudkan negara yg berkeadilan, menjaga persatuan dan kesatuan.

Semestinya saat itu pak Jokowi bersikap seperti saat ini. Umat Islam menjadi target utama dalam pencapaian suara, bahkan utk mendapatkan itu ‘citra Islam” begitu melekat dalam tindak tanduknya, bahkan penentuan seorang wakil presiden yang akan mendampinginya dipilih (walau tanpa rencana, dadakan karena kepanikan melihat politik umat Islam yg mulai bangun) seorang ketua MUI yang dianggap bisa mewakili magnet kuat utk meraih suara umat Islam dalam memepertahankan kekuasaanya.

Fakta-fakta yg nampak saat ini, ternyata sangat kuat korelasinya dengan pengalaman yg saya sampaikan di atas, maka rasanya sangat berat bagi saya dan istri untuk memilih pak Jokowi dalam pilpres saat ini.

Bahkan saat ini bisa menjadi wajib hukumnya bagi saya untuk ada di kubu 02, walau secara kepribadian calon presidennya (baik pak Jokowi maupun pak Prabowo) ya hampir sama, keduanya orang baik dan memiliki ilmu keagamaan standar/rata-rata. Hanya saja saya melihat kekuatan yang mensupport dibelakang capres 01 adalah kekuatan yang banyak berafiliasi dengan kekuatan China.

Sepintas tidak berlebihan, jika ada yang mengatakan apabila rezim saat ini lanjut, siap-siaplah budaya yang berbasis religi semakin terkikis di nusantara ini, siap-siaplah sekularisme dan liberalisme akan tumbuh seperti di Turki saat kepemimpinan Kamal Attarturk.

Mohon maaf saudaraku, demikian pemahaman politik yang saya pegang yang didasari pengalaman dan literasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Semoga tatanan kehidupan beragama terutama agama Islam dapat terpelihara di nusantara ini dan terus berkembang menjadi benteng penjaga NKRI dan martabat bangsa dan negara. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Radikalisme, intoleransi, penghujat kebencian, tidak pancasilais, istilah kafir, semua itu jelas sebagai usaha terstruktur untuk mem-FRAMING rakyat Indonesia agar tidak lagi membawa agama dalam politik, yang sangat nyata di buat oleh Orang-orang yang tidak mau menerima keberkahan agama dalam pemerintahan berbangsa dan bernegara.

Wallahu’alam bisshowab..

Salam Penuh Berkah.

Like it? Share it!

Leave A Response