Kompleks Candi Borobudur dan Lingkungan Simbolistik sekitarnya

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Mar 23, 2019 | 66 views
Peserta Studi Comparative dari berbagai daerah di Indonesia kerapkali menjadikan Candi Borobudur sebagai destinasi. (foto: ist/palontaraq)

Peserta Studi Comparative dari berbagai daerah di Indonesia kerapkali menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu destinasi. (foto: ist/palontaraq)

Laporan:  Etta Adil

Tulisan sebelumnya: Wisata Sejarah ke Candi Borobudur

Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut terbujur dalam satu garis lurus yang menunjukan kesatuan perlambang. Terletak sekitar 40 kilometer barat laut dari Kota Yogyakarta. Candi Pawon dan Candi Mendut ditemukan pada awal Abad ke-20 saat Candi Borobudur dipugar.

Berdasarkan tradisi lisan penduduk setempat, dahulu terdapat jalan berlapis batu yang dipagari pagar langkan di kedua sisinya yang menghubungkan ketiga candi ini. Sampai saat ini belum ditemukan bukti fisik adanya jalan raya beralas batu dan berpagar. Boleh jadi hanya dongeng belaka, akan tetapi para pakar menduga memang ada kesatuan perlambang dari ketiga candi ini.

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Ketiga candi ini,  Borobudur, Pawon, dan  Mendut, memiliki kemiripan langgam arsitektur dan ragam hiasnya, juga berasal dari periode yang sama sehingga menguatkan dugaan keterkaitan ritual antar ketiga candi budha ini.  Keterkaitan suci pasti ada, akan tetapi bagaimanakah proses ritual keagamaan ziarah dilakukan, belum diketahui sampai sekarang.

Selain Candi Mendut dan Pawon, di sekitar Borobudur juga ditemukan beberapa peninggalan purbakala lainnya, di antaranya berbagai temuan tembikar seperti periuk dan kendi yang menunjukkan bahwa di sekitar Borobudur dulu terdapat beberapa wilayah hunian.

Lihat juga: Asal Usul Nama Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di atas bukit pada dataran yang dikeliling dua pasang gunung kembar, Sindoro-Sumbing di sebelah barat laut dan Merbabu-Merapi di sebelah timur laut, di sebelah utaranya terdapat Bukit Tidar, lebih dekat di sebelah selatan terdapat jajaran perbukitan Menoreh.

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Candi Borobudur ini terletak dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo di sebelah timur. Menurut legenda Jawa, daerah dataran Kedu merupakan tempat suci dalam kepercayaan Jawa dan disanjung sebagai ‘Taman pulau Jawa’ karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya.

Temuan-temuan purbakala di sekitar Borobudur kini disimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur, yang terletak di sebelah utara candi bersebelahan dengan Museum Samudra Raksa. Tidak seberapa jauh di sebelah utara Candi Pawon ditemukan reruntuhan bekas Candi Hindu yang disebut Candi Banon.

Pada reruntuhan Candi Banon ini ditemukan beberapa arca dewa-dewa utama Hindu dalam keadaan cukup baik yaitu Shiwa, Wishnu, Brahma, serta Ganesha. Akan tetapi batu asli Candi Banon amat sedikit ditemukan sehingga tidak mungkin dilakukan rekonstruksi. Pada saat penemuannya arca-arca Banon diangkut ke Batavia (kini Jakarta) dan kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Beberapa patung Budha dalam kondisi seperti ini di Candi Borobudur.  Entah karena tidak ditemukan kepalanya ataukah karena vandalisme? (foto: ist/palontaraq)

Candi Borobudur berada  di tengah kehijauan alam dataran Kedu. Diduga dahulu kawasan di sekeliling Borobudur adalah danau purba. Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m (869 ft) dari permukaan laut dan 15 m (49 ft) di atas dasar danau purba yang telah mengering.

Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan arkeolog pada abad ke-20 dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau. Pada tahun 1931, seorang seniman dan pakar arsitektur Hindu Budha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Dataran Kedu dahulunya adalah sebuah danau, dan Candi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau.

Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. seringkali digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa.

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur padu dengan pemandangan alam yang indah di sekitarnya. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Berwisata ke Candi Borobudur. (foto: ist/palontaraq)

Bentuk arsitektur Candi Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana (aliran Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur).Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai.

Teori Nieuwenkamp ini banyak menuai bantahan dari para arkeolog. Hal ini mengingat pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa kawasan sekitar  Candi Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau purba.

Sementara itu pakar geologi justru mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat asumsi Nieuwenkamp.

Ketinggian permukaan danau purba ini naik-turun berubah-ubah dari waktu ke waktu. Bukti menunjukkan bahwa dasar bukit dekat Borobudur pernah kembali terendam air dan menjadi tepian danau sekitar Abad ke-13 dan 14.

Aliran sungai dan aktivitas vulkanik diduga memiliki andil dalam mengubah bentang alam dan topografi lingkungan sekitar Borobudur termasuk danaunya. Salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang terletak cukup dekat dengan Borobudur dan telah aktif sejak masa Pleistosen. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response