Lagu Pengantar Tidur Bugis: “Yabe Lale”

by Penulis Palontaraq | Minggu, Mar 17, 2019 | 69 views
Tulisan "Bugis" di Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Tulisan “Bugis” di Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Etta Adil

DALAM Bahasa Bugis, “Yabe Lale” artinya kasih sayang.   Bagi sebagian besar warga Bugis di Sulawesi Selatan, lagu “Yabe Lale” merupakan salah satu lagu populer di kalangan orang Bugis. Lagu ini seringkali dilantunkan ibu  manakala hendak menidurkan bayinya.

Lagu Bugis “Yabe Lale” sendiri telah dibuat beberapa versi dengan lirik yang berbeda. Namun makna yang ingin disampaikan dalam lagu tersebut pada prinsipnya adalah kasih sayang kepada sang buah hati.

Lagu Bugis “Yabe Lale” versi Pertama

Cakkaruddu’ atinrono (2x)
Matinro tudang ammo
Alla nasala nippimmu

Nippi magi mumalewe (2x)
Lewe’no makkawaru
Alla todongi go peddi’

Peddi’ kegana mutaro (2x)
Kegani mupallinrung
Alla tomassalle lolang

Lolangno mussaleangngi  (2x)
Sarae ri atimmu
Alla aja’ mumadoko

Madoko-dokoni laoe  (2x)
Makkale’ rojong-rojong
Alla tori welaimmu

Tori welaimmu gare’  (2x)
Tudang ri tengnga laleng
Alla mappaseng naterri

Tori paseng tea mette’  (2x)
Tona polei paseng
Alla tea makkutana

Pekkogana makkutana 2X
Rilaleng tennunengna
Alla napole pasetta.

 

Lihat juga: Aksara Lontaraq Terancam Punah

 

Lirik lagu Bugis Yabe Lale ini mengisyaratkan  makna dan pesan mendalam. Bait pertama terkandung undangan untuk segera pulas, dilanjutkan bait 2 – 5 merupakan  harapan dan doa seorang ibu biar anaknya kelak berhasil mencapai cita-citanya, senantiasa diberi keselamatan, kemudian mengantarnya ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Pada  bait 6 dan 7, pengharapan sang ibu terungkap.  Lagu “Yabe Lale” sebenarnya merupakan ungkapan rasa seorang ibu yang membesarkan anaknya seorang diri karena  ditinggal pergi oleh suami, entah  pergi merantau mencari penghidupan lebih layak atau ikut berjuang dalam perang kemerdekaan melawan penjajah di masa lalu.

Jadi, lagu bugis “Yabe Lale” versi pertama ini merupakan ungkapan  hiburan sekaligus pengantar pulas bagi seorang anak yang ditinggal pergi oleh sang ayah.

 

 

 

Lagu Bugis “Yabe Lale” Versi Kedua

Penggalian makna berikutnya bermuara pada lagu bugis “Yabe Lale” versi kedua. Pada prinsipnya sama dengan versi pertama, yaitu sebagai lagu pengantar tidur pulas. Hanya saja pada versi kedua ini lirik yang dipakai lebih mendalam.

Cakkaruddu atinrono 2x (Jika mengantuk, pulaslah 2x) REF
Matinro tudang ammao (Nanti terpulas dalam duduk)
Alla nasala nippimmu (Hingga terganggu mimpimu)

Nippi magi mumalewe 2x (Mimpi apa yang terus berulang)
Leweno makkawaru (Berkali-kali berharap)
Alla todongi go peddi (Menghapus kepedihan)

Peddi kegana mutaro 2x (Pedih apa yang engkau simpan)
Kegani muppalinrung (Dimana engkau sembunyikan)
Alla tomasalle lolang (Sendiri berpetualang)

Lolanno mussalleangngi 2x (Bertualanglah dan hempaskan)
Sarae ri atimmu (segala sedih/khawatir di dalam hatimu)
Alla aja mumadoko (Jangan hingga dirimu kurus)

Madoko dokoni laoe 2x ( Sudah memudar kepergian itu)
Makkale rojong-rojong (Sendiri sebatang kara)
Alla tori welaimmu ( Orang yang pergi meninggalkanmu)

Tori welaimmu gare 2x ( Orang yang pergi itu, katanya)
Tudang ritengnga laleng (Duduk terdiam di tengah perjalanan)
Alla mappaseng naterri (Meninggalkan pesan seraya menangis)

Tori paseng tea mette 2x (Orang yang berpesan membisu tanpa kata)
Tona polei paseng (Sedangkan orang yang didiberi pesan)
Alla tea makkutana (Justru tidak balik bertanya)

Pekkogana makkutana 2x (Bagaimana caranya mau bertanya)
Rilaleng tennunengnga (Saya sementara menenun)
Alla napole pasetta (Ketika pesan itu sampai)

 

 

Lihat juga: Mengenal Paruntuk Kana dalam Sastra Makassar

Dalam lagu bugis “Yabe Lale” versi kedua ini, sang ibu mengungkapkan undangan kepada sang putra tercinta biar segera pulas dan memperbaiki posisi pulasnya.

Pada bait 1 – 4, sang ibu menyiratkan pesan biar tidak terlena dengan kepedihan karena ditinggal pergi sang ayah cukup lama dan menyisakan duka, kepada sang anak dan sang ibu sendiri.

Pada bait 5 – 6, sang mengungkapkan bahwa sang suami di perantauan belum juga menemukan penghidupan layak, pun tak ada pesan. Tinggallah sang ibu menangis sebatang kara.

Pada bait 7 – 8, sang ibu yang ditinggalkan tidak lagi banyak berharap kepada suami di tanah rantau sehingga menentukan sibuk bertenun (mencari penghidupan) untuk buah hati, sang anak yang masih kecil.

Dari kedua versi lagu bugis “Yabe Lale”, kita menemukan kesimpulan menarik bahwa laki-laki bugis ditakdirkan untuk merantau dan menjelajah, meninggalkan istri dan anak, demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Dalam kenyataannya, lagu bugis “Yabe Lale” mengungkapkan fakta bahwa demikianlah adanya Masyarakat Bugis suka merantau, memijakkan kaki dimana saja, membangun dan mendirikan peradaban di perantauannya. Sementara sang istri tetap setia dan sabar menunggu, pantang mengalah meski harus berjuang sendiri membesarkan buah hati.

Lagu bugis “Yabe Lale” juga menyiratkan makna kesetiaan, keteguhan, jiwa kerja keras yang dimiliki wanita bugis. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response