BerandaSosial BudayaNarasi BudayaTips Traveling ke Kawasan Adat Tana Toa Kajang

Tips Traveling ke Kawasan Adat Tana Toa Kajang

Laporan:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID, BULUKUMBA – Tertarik ingin traveling atau berwisata ke Tana Toa Kajang? Kawasan Ammatoa merupakan kawasan tradisional yang masih memelihara keaslian adat Etnik Kajang dan lingkungannya, terletak sekitar 58 kilometer dari Tanjung Bira.

Sebaiknya jika memiliki minat jalan-jalan ke Tana Toa Kajang, penulis menyarankan agar jangan hanya terpengaruh oleh cerita orang tentang kesakralan dan magis Orang Kajang, tapi pelajari terlebih dahulu adat istiadat dan perilaku sosial Masyarakat Kajang.

Kawasan Adat Ammatoa Kajang terletak di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ammatoa adalah sebutan bagi pemimpin tertinggi Masyarakat Adat Kajang.

Untuk masuk ke kawasan Adat Ammatoa Kajang, maka para pengunjung, pelajar, traveler atau wisatawan perlu mengantongi izin dari Galla Lombok yang merangkap Kepala Desa Tana Towa, merupakan sosok yang harus dilalui untuk izin dari Ammatoa, baik urusan ke dalam dan ke luar kawasan.

Setelah mendapat izin, siapapun itu, termasuk itu pejabat kabupaten atau propinsi, termasuk Presiden sekalipun harus mematuhi tata cara yang berlaku dalam kawasan adat Ammatoa Kajang.

Diantara aturan itu, harus mengenakan pakaian serba hitam dan tidak boleh mengenakan alas kaki. Pengunjung juga harus memahami batas wilayah boleh berfoto atau tidak.

Di dalam kawasan adat, pakaian khas masyarakat serba hitam. Warna hitam dianggap mewakili campuran dari semua warna serta mewakili filosofi hidup “Akkamase-mase” masyarakat Adat Kajang, bahwa kehidupan juga dimulai dari gelap dan menuju tempat yang gelap. Dari rahim, lalu ke kubur.

Lihat juga: Bercermin dari Kearifan Lokal Ammatoa Kajang

Yang paling penting diingat dan jangan sampai harus diingatkan oleh masyarakat atau para menteri yang mengelilingi Ammatoa adalah tidak boleh memotret Ammatoa. Karena sosok Ammatoa disucikan. Kepemimpinan Ammatoa dalam Kawasan Adat Kajang berlaku seumur hidup.

Ammatoa adalah sosok sakral dan penuh daya magis, menguasai Pasang ri Kajang – budaya lisan yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang Suku Kajang. Hidup masyarakat Suku Kajang, penghuni kawasan adat Ammatoa, berpusat pada aturan tersebut.

Ammatoa tidak pernah keluar dari kawasan adatnya. Secara budaya, ia tidak diperbolehkan. Sosoknya dan isi rumahnya tidak boleh difoto, wisatawan bebas memotret aktivitas masyarakat Kajang sampai batas rumah pertemuan (Balla A’borong).

Para Traveler, Peneliti atau Wisatawan juga bisa bertemu dengan Ammatoa di Dusun Benteng dalam Kawasan Adat Kajang, namun untuk menemukan rumahnya harus bertanya ke penduduk setempat dan sebaiknya didampingi oleh Tokoh yang dikenal Ammatoa dan bisa berbahasa Makassar Konjo.

Di dalam kawasan adat Kajang, semua rumah berukuran sama dan tampak serupa, juga arah hadapnya sama yaitu ke barat (kiblat). Kalau memutuskan bermalam, satu hal yang perlu diketahui bahwa disana tidak ada listrik dan tidak ada kendaraan bermotor. Masyarakat Kajang secara sengaja menjauhi kehidupan modern, dan itulah yang dikenal Prinsip hidup “Akkamase-mase”.

Menurut adat Kajang, kesederhanaan hidup bisa lebih terjaga tanpa keberadaan Properti dan Barang-barang modern tersebut. Hampir semua kebutuhan hidup mereka tercukupi dari beraneka sumber daya hutan.

Buat pengunjung  yang ingin menikmati listrik dan barang elektronik, ada pilihan untuk tinggal dalam dua dusun lain di luar gerbang kultural atau disebut Tana Lohea.

Begitu naik ke rumah panggung Suku Kajang, tepat di sebelah pintu pengunjung akan menemukan dapur. Selain dapur, bagian muka rumah berupa area terbuka tak bersekat. Makin ke belakang, ada undakan sekitar 30 centimeter dengan dua bilik. Bilik kanan diperuntukkan bagi orang tua, sedangkan bilik kiri untuk anak gadis dan anak yang baru menikah.

Adapun di langit-langit rumah, traveler atau wisatawan bisa melihat ‘simpanan’ warga. Saat panen besar, tidak semua hasilnya dihabiskan. Masyarakat Kajang biasa menyimpannya pada rak-rak papan di langit-langit rumah untuk disumbangkan saat tetangga mereka menggelar upacara.

Perempuan dalam wilayah Adat Kajang adalah perempuan yang aktif berkontribusi untuk ekonomi keluarganya dengan menenun kain sendiri. Jika melihat perempuan Kajang hanya bersarung selempang, sebaiknya tidak memotret atau menggunjingkannya, karena itu pertanda perempuan tersebut sedang berduka atau baru-baru ada keluarganya meninggal. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT