Membantah Bully terhadap Prabowo

by Etta Adil | Minggu, Des 2, 2018 | 54 views
Sebagai Capres hasil pilihan ijtima ulama', Prabowo diundang khusus di acara Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta. (2/12). (foto: ist/palontaraq)

Sebagai Capres hasil pilihan ijtima ulama’, Prabowo diundang khusus di acara Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta. (2/12). (foto: ist/palontaraq)

 

[Mereka Kehabisan Bahan Bully]
PRABOWO BICARA DI FORUM THE ECONOMIST, MEREKA MINGKEM

Oleh: Darby Jusbar Salim (NKS Consultant)

Sebenar-benar kehabisan bahan mereka untuk menyerang Pak Prabowo. Sekali membully, bagaikan Koor dan Orchestra yang memainkan lagu sumbang karena pemainnya tidak menguasai memainkan instrumen masing-masing.

Fitnah Prabowo DIPECAT dari ABRI, sudah enggak laku, nyatanya Prabowo masih menggunakan kepangkatan di depan namanya, dan masih terus diundang setiap tahunnya pada saat Ulang Tahun KOPASSUS, pasukan elite yg di dalamnya Prabowo punya andil mengembangkannya. Pernyataan Presiden Habibie juga meluruskan masalah ini, bahwa Prabowo diberhentikan dengan hormat.

Fitnah tentang PENCULIKAN, juga sudah bau busuk seperti sampah sehingga masyarakat juga ogah mendengarnya. Masalah ini clear karena orang-orang yang katanya diculik ternyata sejak lama bergabung bersamanya di Partai GERINDRA.

Fitnah Pelanggaran HAM, juga omong kosong dan bualan orang jalanan yang tidak pernah ada buktinya. Ketika Prabowo menjadi Cawapresnya Megawati 2009, masalah ini tidak muncul, demikian pula ketika Prabowo mengikuti Konvensi Capres di Partai Golkar tahun 2004.

Bila memang punya bukti tentu mereka dengan semangat akan mengajukan kasus ini ke Pengadilan. Bukankah selama 4 tahun ini Jaksa, Polisi berada di bawah pemerintahan mereka?

Fitnah keji bahwa Prabowo itu PSIKOPAT, sudah tidak laku dan menjadi barang busuk. Nyatanya Prabowo lulus test Pencapresan. Dan yang hebatnya Prabowo diundang untuk bicara di banyak forum internasional dan memaparkan pokok pikirannya secara jernih dan ilmiyah.

Semua pernyataan Prabowo digoreng dijadikan bahan untuk mem-bully, justru gorengan mereka membakar diri mereka sendiri. Ketumpahan minyak panas.

Ketika Pak Prabowo diundang oleh THE ECONOMIST untuk berbicara pada Gala Dinner yang diselenggarakan majalah ini, dengan thema “The World in 2019” yang terbayang adalah “Sebuah pengakuan yang luar biasa dari dunia internasional” terhadap kemampuan dan kompetensi seorang Prabowo.

THE ECONOMIST, majalah mingguan bergengsi, dengan analisanya yang tajam, menjadi bacaan dan rujukan bagi para petinggi negara dan petinggi perusahaan multinasional di seluruh dunia.

Forum menjelang tutup tahun yang diselenggarakan majalah ini dihadiri oleh figur-figur terkemuka internasional, baik kalangan usahawan, politisi dan kalangan perguruan tinggi terkemuka. Ini pengakuan yg luar biasa.

Saat itu juga terbayang, kalau saja yang diundang ke forum tersebut adalah Prabowo dan Jokowi untuk tampil dan masing-masing diminta bicara di forum tersebut, apakah Jokowi akan hadir dalam forum tersebut? Undangan untuk hadir di Sidang Umum PBB saja dia tidak pernah hadir.

Seandainya Prabowo dan Jokowi, kedua-duanya diundang di Forum Gala Dinner THE ECONOMIST tersebut, Jokowi juga hadir, dan masing-masing diminta bicara memaparkan pemikirannya. Apa yang akan terjadi?

Yang terpikir adalah masa kampanye yang masih 4 bulan ini selesai sudah. Rakyat tidak perlu lagi ada kampanye Capres dan Cawapres. Rakyat langsung tahu siapa Capres/Cawapres yang harus dipilihnya. Mengapa demikian?

Forum di luar negeru adalah forum netral yang dapat menguji dan membedah pemikiran setiap pembicara yang tampil. Saat itulah langsung tampak kemampuan dan kompetensi pembicara. Berbeda dengan forum DEBAT Capres/Cawapres yang diselenggarakan oleh KPU.[]

Fastabiqul Khairat
#2019PrabowoPresiden

(DJS/S.Sunda/LPTA/28112018)

Like it? Share it!

Leave A Response