Pilkada Jabar, antara Rindu dan Asyik

by Etta Adil | Jumat, Jun 29, 2018 | 632 views
Siapakah pasangan yang akan memimpin Jabar? (foto: ist/IG)

Siapakah pasangan yang akan memimpin Jabar? (foto: ist/IG Palontaraq)

PALONTARAQ.ID—Siapa pemenang Pilkada Jabar 2018? Nampaknya masing-masing pendukung  pasangan calon Ridwan Kamil-Ruzhanul Ulum (Rindu) dan Pasangan Asyik (Sudrajat-Ahmad Syaikhu) masih harus menunggu perhitungan real count karena kedua pasangan ini masing-masing mengklaim sebagai pemenang. Dalam Quick Qount beberapa lembaga survey, memang selisih suara kedua pasangan tipis, dibawah 3 % perbedaannya.

Pasangan Sudrajat-Ahmad Syaiku yang diusung Gerindra, PAN, dan PKS meyakini bahwa merekalah pemenang Pilkada. Rilis Lembaga Survey LKPI juga memenangkan Pasangan Asyik, sementara lembaga survey lain seperti Litbang Kompas, SMRC dan LSI memenangkan Rindu. Saling klaim sebagai pemenang dan perbincangan seputar selisih suara yang tipis menjadi perbincangan hangat di jagad sosial media. “Kita tunggu saja hasil real count”, ujar netizen.

Mayjen (Purn) Sudrajat saat di TPS. (IG Palontaraq)

Mayjen (Purn) Sudrajat bersama istri saat di TPS. (IG Palontaraq)

Ridwan Kamil bersama istri saat di TPS. (foto: IG Palontaraq)

Ridwan Kamil bersama istri saat di TPS. (foto: IG Palontaraq)

Sementara itu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Barat menemukan sejumlah kekacauan dalam penyelenggaraan Pilkada Jabar, dari ketidakcermatan distribusi logistik hingga dugaan pelanggaran penyelenggara.  Bawaslu menemukan adanya pengawas TPS yang seharusnya bisa membantu KPPS tidak mendeteksi pemilih sejak awal. Begitupun terlambatnya kedatangan buku pedoman bagi petugas KPPS yang terlambat pada H-2 pencoblosan yang mengakibatkan petugas baru KPPS tidak siap dengan hal-hal apa yang harus dilakukan saat penyelenggaraan pencoblosan. Persoalan surat suara yang kurang di beberapa TPS di Depok dan Bogor juga menjadi perhatian Bawaslu.

Bawaslu juga mendapat laporan pemilih yang tidak terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Depok yang diberikan kesempatan mencoblos sebelum pukul 12.00 WIB lewat. Namun, karena pemilih itu marah-marah, sehingga KPPS mengizinkan pemilih tersebut mencoblos sebelum waktunya. “Ini tidak benar. Walau tidak memunculkan perbedaan hasil suara dan memang yang bersangkutan adalah benar pemilih setempat, tapi tetap saja seharusnya tertib pada aturan,” ucapnya. Bawaslu juga menemukan petugas pengawas TPS yang tidak netral. Seperti ditemukan di Kabupaten Bekasi, ada petugas TPS yang mengampanyekan salah satu paslon melalui media sosial. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response