BerandaLiterasiAhmad Ubbe’ ungkap Pamor dan Landasan Spiritual Polobessi'

Ahmad Ubbe’ ungkap Pamor dan Landasan Spiritual Polobessi’

Oleh: M. Farid W Makkulau

Judul Buku: Senjata Pusaka Bugis – Pamor dan Landasan Spiritual

Penulis: Ahmad Ubbe’, Andi M Irvan Zulfikar, Dray Vibrianto Senewe

Editor: Jimmy S. Harianto

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Pertama / November 2011

PALONTARAQ.ID – UNTUK pertama kalinya terbit buku tentang khazanah senjata pusaka (Polo Bessi) dalam Masyarakat Bugis, sebelumnya yang selama ini banyak diungkap (baca : dibukukan) adalah khazanah perkerisan Jawa dan senjata pusaka (tosan aji) dalam lingkungan keraton Jawa.

Secara eksklusif, Penerbit Gramedia akhirnya menerbitkan buku “Senjata Pusaka Bugis – Pamor dan Landasan Spiritualnya” yang ditulis oleh Dr. Ahmad Ubbe’, SH, MH, staf ahli Menteri Hukum dan HAM yang hobi sejak kecil mengoleksi polo bessi Bugis.

Cover depan Buku(foto by : mfaridwm)
Cover depan Buku(foto by : mfaridwm)

Dalam lingkungan masyarakat Bugis yang membesarkan Ahmad Ubbe’, sudah menjadi tradisi atau kelaziman bagi seorang laki-laki untuk membawa senjata tikam tajam, semacam badik atau kawali.

Bahkan ketika seorang laki-laki disandingkan badik atau kawali di pinggangnya, itu bisa menjadi satu ukuran tersendiri bagi penilaian kedewasaan seseorang untuk menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya.

Itu pula sebabnya lazim dalam Masyarakat Bugis, kita mendengar ungkapan, “Taniya ugi’ narekko de’na punnai kawali.” (Artinya: Bukanlah seorang Bugis jika tidak memiliki kawali) atau dalam ungkapan Makassar, “Teai Mangkasara punna tena amballaki badik” (Artinya: Bukanlah Makassar jika tidak merumahkan badik).

Buku Senjata Pusaka Bugis ditangan Peresensi. (foto: ist/palontaraq)
Buku “Senjata Pusaka Bugis” di tangan Peresensi. (foto: andiadil /palontaraq)

Dalam istilah Bugis, Polobessi adalah senjata tradisional dari besi dan diperlakukan sebagai senjata pusaka. Bentuknya bisa berupa badik (kawali), keris (gajang atau tappi), pedang (kelewang, alameng, atau sinanangke, parang (bangkung), tombak (bessi), anak panah, dan mata sumpit (seppu).

Itu pula sebabnya pemahaman tentang polo bessi mengacu kepada semua bes mulia atau besi yang bernilai yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, khususnya sebagai kharisma pertahanan diri, keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Dalam buku “Senjata Pusaka Bugis-Pamor dan Landasan Spiritual”, Ahmad Ubbe mengurai Polo Bessi kaitannya dengan Kebudayaan Bugis, Pelapisan Masyarakat, Kekuasaan serta kekuatan dan landasan spiritualnya.

Buku ini juga menyajikan khazanah Lontaraq Gajang tentang pemaknaan motif dan pola pamor pada suatu polo bessi.

Aspek teknis pembuatan pamor itu sendiri dalam sejarahnya telah berlangsung sejak masa prasejarah (Galigo) lalu periode sejarah (lontaraq) dan terus berlanjut hingga kini.

Pamor yang dalam Bahasa Bugis disebut Ure’ merupakan warisan kebudayaan masyarakat Bugis dan karya seni para pandai logam (panre’ bessi) yang mengedepankan tidak hanya aspek kegunaan dan teknologi, tetapi juga aspek estetis dan magis – religi.

Buku"Senjata Pusaka Bugis". (foto by : mfaridwm)
Buku”Senjata Pusaka Bugis”. (foto by: mfaridwm/palontaraq)

Dua penulis lainnya yang melengkapi buku ini, Andi M Irvan Zulfikar mengulas tentang Gajang (Keris) Tana Bugis dan Dray Vibrianto Senewe yang mengulas tentang Kawali Tana Bugis.

Pada prinsipnya Badik, keris, pedang maupun bentuk lain dari polo bessi adalah benda kebudayaan, karena itu sangat tepatlah buku ini diberikan kata sambutan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik (Periode Oktober 2004-Oktober 2011) terkait Polobessi sebagai warisan budaya Bugis masa lalu.

Menurut Jero Wacik, Polobessi tetap menyimbolkan nilai kepahlawanan dan patriotisme, kekayaan dan kesejahteraan, kekuasaan dan kemuliaan serta nilai keselamatan dan keseimbangan dalam hidup.

Hal yang senada dikemukakan pula Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar (Periode Oktober 2009-Oktober 2011) dalam Sambutannya di Buku ini terkait adopsi dan transformasi nilai  lokal dalam UU Cagar Budaya.

Bagi komunitas pencinta Polobessi, buku ini layak dimiliki, termasuk bagi para penggemar Tosan Aji sebagai bahan perbandingan. Dalam buku ini banyak menampilkan Foto–foto koleksi Polo Bessi lebih dari 1000 bilah dari The Bugis Makassar Polo Bessi Club.

Buku ini boleh dibilang buku pertama yang menyajikan secara lengkap tentang Polo Bessi, suatu karya intelektual yang patut diapresiasi, lahir dari penelitian pustaka, observasi dan wawancara.

Buku ini dapat dibeli pada TB. Gramedia (Kelompok Kompas Gramedia) di kota anda. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT