Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Resensi Buku, “Pengantar Hukum Pidana Indonesia” Terbitan Sonpedia
PALONTARAQ.ID – Sebagai seorang penikmat narasi kebudayaan, membaca buku ini seperti menikmati semangkok sop saudara dengan ikan bandeng bakar di tepian Sungai Pangkajene—ada rasa getir sejarah, namun harum aromanya membangkitkan ingatan kolektif.
Identitas Buku
Judul Buku: Saya Orang Pangkep, Saudara – Suatu Pertarungan Identitas Kultural dan Ekonomi Politik Kuliner
Penulis: Agus Salim AW dan Andi Faisal
Penerbit: Subaltern
Cetakan: Januari 2026
Sejak judulnya didentumkan—“Saya Orang Pangkep, Saudara”—Agus Salim AW dan Andi Faisal seolah sedang melempar tantangan di tengah riuh rendah globalisasi yang menyeragamkan rasa. Frasa ini bukan sekadar deklarasi asal usul, melainkan sebuah proklamasi eksistensi.
Buku ini hadir sebagai manifesto kebudayaan yang mencoba membedah bagaimana identitas manusia Pangkep tidak hanya dibentuk oleh garis silsilah atau batas administratif, tetapi juga oleh apa yang tersaji di atas meja makan.
Para penulis dengan cerdik tidak terjebak dalam romantisme resep masakan semata. Mereka melangkah lebih jauh, memasuki ruang gelap narasi ekonomi politik. Mereka membedah bagaimana Sop Saudara, bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol pertarungan kelas dan ruang negosiasi kultural.
Di tangan Agus Salim AW dan Andi Faisal, kuliner Pangkep dilihat sebagai “senjata” sekaligus “korban”. Di satu sisi, ia adalah daya tawar ekonomi rakyat yang mandiri; di sisi lain, ia sedang bertarung melawan hegemoni industri pangan global yang kian rakus. Buku ini memotret bagaimana identitas lokal seringkali harus “bersolek” demi pasar, namun di saat yang sama tetap berusaha menjaga ruh Pangkajene dan Kepulauan yang otentik.
***
Membaca bab demi bab buku ini, kita akan menemukan dialektika yang menarik. Penulis memotret manusia Pangkep sebagai subjek yang dinamis—manusia yang hidup di antara gugusan pulau dan hamparan empang, yang memegang teguh Siri’ na Pesse namun harus lincah menari di bawah tekanan ekonomi politik makro.
Penerbit Subaltern tampak sangat tepat menjadi wadah buku ini, karena narasi yang dibangun memang suara dari “bawah”—suara-suara yang selama ini mungkin hanya dianggap sebagai pelengkap dalam peta besar sejarah Sulawesi Selatan.
Kolaborasi Agus Salim AW dan Andi Faisal menghasilkan perpaduan gaya bahasa yang unik. Ada sentuhan puitis-kontemplatif yang mampu menyentuh sisi emosional pembaca, namun tetap berpijak pada data dan analisis yang tajam (empiris), apalagi buku ini berangkat dari tesis kajian budaya. Mereka tidak sedang mendongeng; mereka sedang melakukan otopsi terhadap realitas sosial kita sendiri.
Buku ini harusnya menjadi bacaan pilihan, bukan hanya bagi masyarakat Pangkep, tetapi bagi siapa saja yang peduli pada nasib kebudayaan lokal di tengah gempuran zaman, termasuk aspek kulinernya. Ia mengingatkan kita bahwa setiap suapan makanan mengandung sejarah, dan setiap aroma dapur menyimpan jejak perlawanan.
“Saya Orang Pangkep, Saudara” adalah sebuah cermin besar. Ia memaksa kita untuk menatap wajah kita sendiri: Masihkah kita mengenali rasa asli tanah kelahiran kita, ataukah lidah kita sudah dijajah oleh rasa yang seragam?
Untuk kedua penulis, terucap “salamakki tapada salama”, tetap ramaikan narasi budaya, meski harus berjuang untuk bangkit kembali, sebagaimana sop saudara bertahan dan mempertahankan selera lokal ditengah gempuran makanan siap saji dari sudut kampung hingga ke tengah kota. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Warga Pangkep/Penikmat Sop Saudara


