Oleh: Etta Adil
…..
Duhai Putriku
Cukup lama ayah menanti kehadiran mungilmu
Pada dinihari yang sunyi dan gelap
Menuju rumah bidan, mengebut motor yang hampir habis bensinnya
Bersama Ibumu dengan ketuban yang meleleh sampai di betis.
Menembus gelap dan menahan dingin malam tak jadi soal
Membayang jerit tangismu di benak, ayah sungguh bahagia.

Duhai putriku
Ayah tak tahu kalau untuk mendengar jerit tangismu, ayah harus menerima cobaan
Kata bidan, engkau harus dioperasi, Nak!
Posisi kepalamu dalam kandungan menyulitkanmu dilahirkan dalam kondisi normal
Kata bidan, siapkan saja uang tujuh jutaan
Ayah melarikanmu ke rumah sakit sesuai saran bidan, meski ayah sendiri tak tahu harus kemana mencari uang tujuh juta di subuh hari yang gelap itu.

Duhai putriku
Sesampainya di ruang perawatan rumah sakit, ibumu terus berkuat meski dilarang oleh Suster
Kata sang suster, jangan berkuat, bu! Tunggu dokter ahli. Kandungan ibu berbahaya
Ibumu sungguh tak peduli. Ibumu terus berkuat, berkuat, dan berkuat
Jerit tangismu kemudian memecah kesunyian subuh yang dingin itu
Tak ada yang bisa menduga, bahwa ibumu senekad itu.
Senyum bahagia tersungging dari ibumu yang masih berpeluh keringat dan air mata
Ayah menikmati arti kehadiran indahmu, Nak!

Duhai putriku
Jika sampai hari ini, engkau tak lagi bersama ibu dan ayahmu
Sungguh itu karena Tuhan lebih mencintaimu, Nak!
Engkau ditakdirkan menjadi bidadari penghias taman surga
Yang kelak menjemput ibu dan ayahmu
Ayah tak ingin lagi menyalahkan siapa-siapa atas kehadiranmu yang hanya sebentar di dunia ini
Maafkan Ayah, Nak! Ayah ikhlas!
Sebagaimana Ibumu juga telah belajar banyak mengikhlaskanmu.

Puisi Etta Adil, Pangkajene, 25 Februari 2015


