Beranda Narasi Sejarah Menelisik Sejarah dan Arsitektur Monas

Menelisik Sejarah dan Arsitektur Monas

Penulis di depan Tugu Monas (foto: enos_m/2017)
Penulis di depan Tugu Monas (foto: enos_m/2017)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – MONUMEN  Nasional atau familiar disebut Monas memang benar-benar menasional. Monas adalah salah satu ikon Jakarta atau ikon Indonesia.

Orang Indonesia yang ke Jakarta untuk pertama kalinya biasanya tak melewatkan untuk menyinggahi Monas. Berfoto dengan latar belakang Monas bahkan menjadi ukuran bahwa seseorang itu sudah pernah ke Jakarta.

Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monas dibuka setiap hari mulai Pukul 09.00-16.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Saat ini keterkenalan Monas seringkali dikaitkan kegiatan nasional yang dipusatkan di depan istana negara tersebut. Yang populer saat ini adalah jutaan massa Aksi Bela Islam yang memusatkan kegiatannya di Lapangan/Kompleks Monas.

Jika baru pertama kali mengunjungi Monas, akan sedikit bingung bagaimana cara memasukinya. Untuk dapat masuk ke bangunan Monas harus melalui pintu masuk di sekitar patung Pangeran Diponegoro, terus turun lewat lorong bawah tanah untuk masuk ke Monas.

Para pengunjung pun dapat masuk ke Monas melalui pintu masuk di pelataran bagian utara. Yang pertama dijumpai di bagian dasar Monas di bawah permukaan tanah ini adalah Museum Sejarah Nasional Indonesia.

Ruang besar Museum Sejarah Perjuangan Nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Museum Sejarah Nasional dibawah Cawang Monas. (foto: enos_m/2017)
Museum Sejarah Nasional dibawah Cawang Monas. (foto: enos_m/2017)

Pada ruangan besar Museum Sejarah Nasional berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama.

Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan Sejarah Indonesia.

Diorama yang ditampulkan dalam Museum Sejarah Nasional tersebut, mulai masa prasejarah, masa kerajaan seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan Belanda yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda.

Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal Abad XX, Pendudukan Jepang, Perang Kemerdekaan dan Masa Revolusi, hingga masa Orde Baru Pemerintahan Presiden Soeharto.

Pada bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan yang hanya dapat dicapai melalui tangga berputar dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia, diantaranya naskah asli Proklamasi yang tersimpan dalam kotak kaca, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berlapis emas, dan bendera pusaka merah putih.

Penulis di Museum Sejarah Nasional dibawah Cawang Monas (foto: enos_m/2017
Penulis di Museum Sejarah Nasional dibawah Cawang Monas (foto: enos_m/2017

Ruang Kemerdekaan Monas ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia.

Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma sebagai simbol keabadian serta bunga Teratai sebagai simbol kesucian.

Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam, dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu “Padamu Negeri” diikuti kemudian oleh rekaman suara Presiden Soekarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Pada sisi selatan Ruang Kemerdekaan terdapat lambing Negara, Patung Garuda Pancasila yang terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah Proklamasi berhuruf perunggu.

Seharusnya sisi ini menampilkan bendera sang saka Merah Putih yang aslinya dikibarkan pada Tanggal 17 Agustus 1945 namun karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, sehingga tidak dipamerkan lagi. Sisi utara dinding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rancang Bangun Tugu Monas

Ide awal Pembangunan Monas bermula dari keinginan Presiden RI, Ir. Soekarno diawal kemerdekaan, yaitu pada Tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949 dan kembalinya ibukota RI di Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta.

Ketika itu keadaan nasional sudah berangsur membaik, Presiden Soekarno menginginkan hadirnya satu tugu monumen nasional di depan istana merdeka yang menjadi simbol kegigihan rakyat Indonesia melawan imperialisme Belanda dan Pendudukan Jepang serta kembalinya kehormatan RI dan menunjukkan wibawanya di dunia internasional.

Pintu masuk bawah tanah ke Monas lewat dekat Patung Pangeran Diponegoro (foto: zesthotel_ist)
Pintu masuk bawah tanah ke Monas lewat dekat Patung Pangeran Diponegoro (foto: zesthotel_ist)

Pada Tanggal 17 Agustus 1954, sebuah komite nasional dibentuk dan diumumkan sayembara desain dan rancang bangun Tugu Monumen Nasional sebagaimana keinginan Presiden Soekarno. Sayembara yang terbuka untuk umum ini diikuti oleh 51 peserta dan menyisakan karya rancangan Frederich Silaban sebagai pemenang.

Diterimanya karya Frederich Silaban tersebut tidak otomatis dijadikan acuan pendirian bangunan, tetapi karena karyanya satu-satunya yang memenuhi kriteria sayembara, yaitu Rancangannya dapat bertahan kokoh dalam hitungan abad.

Akhirnya digelar kembali sayembara kedua pada Tahun 1960 dengan peserta sayembara menjadi 136 arsitek. Sayangnya hasil penilaian menunjukkan tidak ada satupun karya yang layak jadi pemenang. Karena keadaan sudah semakin berlarut-larut tanpa hasil, akhirnya Presiden meminta Frederich membuat rancangan baru berkonsep Lingga dan Yoni.

Konsep rancangan dari Frederich terlalu besar, sehingga baru bisa diwujudkan jika perekonomian Indonesia membaik. Frederich mengajak arsitek lain bernama R.M Soedarsono sesuai permintaan Presiden Soekarno.

Pengunjung di Jalan Taman depan Monas (foto: mfaridwm)
Pengunjung di Jalan Taman depan Monas (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kedua arsitek ini kemudian berhasil memenangkan hati Soekarno dengan konsep hasil rancangannya. R.M. Soedarsono memasukkan unsur angka 17, 8 dan 45 sebagai symbol peringatan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia ke dalam rancangan monumen itu.

Presiden Soekarno benar-benar antusias memonitori perkembangan pembangunan Monas pada setiap tahapannya. Tahap I berlangsung dari Tahun 1961-1965, diawali dengan peletakan beton pertama sebagai pondasi bangunan.

Presiden Soekarno sendirilah yang melakukannya di atas lahan seluas 80 Ha, tepat pada peringatan Kemerdekaan HUT RI, 17 Agustus 1961. Ada 284 pasak beton dan 360 pasak bumi yang ditanam dan digunakan sebagai pondasi Monumen Nasional.

Pada Maret 1962 Pondasi tugu Monas selesai, selanjutnya pada Oktober 1962 Dinding tugu bagian dasar selesai dan pada Bulan Agustus 1963 Obelisk (bangunan menjulang) selesai.

Lautan Manusia di sepanjang jalur Monas - Bundaran Hotel Indonesia dalam Aksi Bela Islam. (foto: bbc.com)
Lautan Umat Islam di sepanjang jalur Monas – Bundaran Hotel Indonesia dalam Aksi Bela Islam. (foto: ist/palontaraq)

Lautan manusia
Lautan Umat Islam di sepanjang jalur Monas – Bundaran Hotel Indonesia dalam Aksi Bela Islam. (foto:ist/palontaraq)

Lautan Umat Islam di sepanjang jalur Monas - Bundaran Hotel Indonesia dalam Aksi Bela Islam. (foto: bbc.com)
Lautan Umat Islam di sepanjang jalur Monas – Bundaran Hotel Indonesia dalam Aksi Bela Islam. (foto: ist/palontaraq)

Tugu Monas dibuat dengan konsep Lingga-Yoni sebagaimana kebanyakan bangunan yang ada di Indonesia. Lingga dan Yoni merupakan bagian bangunan yang melambangkan Kebudayaan Indonesia.

Lingga sebagai perlambang energi positif yang diserupakan Alu pada alat penumbuk padi yang digunakan Masyarakat Indonesia, sedang Yoni merupakan bagian cawan yang menjadi alas tempat lingga berada, sekaligus sebagai perlambang energi negatif (lesung) yang biasa dipakai perempuan untuk tempat menumbuk padi tradisional. Lingga dan Yoni ini saling melengkapi, saling terikat dan ketergantungan.

Tugu obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari.

Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari.

Konsepsi Lingga-Yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi dalam perjalanan panjang Sejarah Indonesia, sehingga bentuk Tugu Monas ditafsirkan sebagai sepasang Alu (Lingga) dan Lesung (Yoni), alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia.

Penulis di ketinggian 115 meter Pelataran Monas (foto: enos_m/2017)
Penulis di ketinggian 115 meter Pelataran Monas (foto: enos_m/2017)

Pada Tahap kedua Pembangunan Tugu Monas sempat tertunda karena adanya peristiwa pengkhianatan G30S/PKI pada Tahun 1965, juga masih terdapatnya masalah air yang menggenang di beberapa titik museum dalam kompleks Monas.

Pembangunan baru dilanjutkan kembali pada Tahun 1969-1976 dan masalah genangan air itu sudah dapat diselesaikan. Penambahan diorama pada museum sejarah nasional juga telah dirampungkan pada periode ini.

Rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi 17 meter pelataran cawan.

Tugu Monas setinggi 132 meter akhirnya diselesaikan tepat pada tanggal 12 Juli 1975 yang kemudian segera diresmikan Presiden RI Soeharto pada hari itu juga. Tugu Monas ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

Penulis di depan Monas (foto: enos_m/2017)
Penulis di depan Monas (foto: enos_m/2017)

Lokasi yang menjadi Kompleks Tugu Monumen Nasional ini sendiri telah mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas.

Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas serta beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga.

Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman. Juga terdapat Patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya di sekitar pintu masuk bawah tanah, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.

Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan

Puncak Monas "Nyala Api Tak Pernah Padam". (foto: konsumenreview_ist)
Puncak Monas “Nyala Api Tak Pernah Padam”. (foto: konsumenreview_ist)

Terdapat pelataran bagi pengunjung Monas hingga dapat menikmati panorama Jakarta dari ketinggian. Pelataran berukuran 11 x 11 meter pada ketinggian 115 meter ini bisa dicapai dengan menggunakan elevator (lift) berkapasitas 10 orang sekali angkut pada pintu sisi selatan dibawah Cawang.

Pelataran puncak Monas ini dapat menampung sekitar 50 orang dan disiapkan teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah ke selatan dari atas pelataran Tugu Monas terlihat pemandangan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.

Penulis di ketinggian 115 meter Pelataran Monas (foto: enos_m/2017)
Penulis di ketinggian 115 meter Pelataran Monas (foto: enos_m/2017)

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala lampu perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram.

Sebanyak 28 kg emas pada obor di puncak Monas tersebut merupakan sumbangan Teuku Markam, Pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

Nyala api perunggu berlapis lembaran emas seberat 35 kilogram pada puncak Tugu Monas ini pada perayaan 50 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Tahun 1995 dilapis ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas.

Puncak tugu Monas berupa “Api Nan Tak Kunjung Padam” bermakna Bangsa Indonesia memiliki semangat menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah padam sepanjang masa. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Sudah Saatnya dibentuk Kementerian Penangkapan Aktivis

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Salah satu fokus utama Amerika Serikat (AS) setelah kemerdekaannya (4 Juli 1776) adalah pembangunan kekuatan militer. Ini dibuktikan ketika presiden pertama...

Omnibus Law Itu Strategi Jokowi untuk Menyingkirkan Oligarki Cukong

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Bergegas saya ke laptop. Khawatir inspirasi hilang. Inspirasi itu datang ketika sedang olahraga kecil di belakang rumah. Senam rutin itu...

Pesan Dakwah: Manisnya Madu

  Lihat pula: Khasiat Madu saat Dicampur Kayu Manis Oleh: Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D PALONTARAQ.ID - Penjualan madu di Indonesia meningkat selama Pandemi Covid-19. Walaupun meningkat,...

Di IMMIM Pangkep, Upacara Hari Santri Nasional digelar dengan Protokol Kesehatan

  Laporan: Dra Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri IMMIM Pangkep yang sejak 9 dan 11 Agustus lalu telah memasukkan santriwati baru ke sekolah dan...