Oleh: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – Sejarah Panjang Peradaban Islam tidak bisa dilepaskan dari peran penting Kesultanan Utsmaniyah atau kekhilafahan Turki Utsmani sebagai salah satu kekuasaan terbesar yang pernah ada dan mengatur peradaban dunia.
Kekuasaan Utsmaniyah berhasil menguasai dan memperluas sebaran wilayah dan dakwah Islam. Ibukotanya berada di Istanbul, wilayah ini berada diantara Laut Hitam dan Laut Tengah yang langsung berhubungan dengan daratan Asia dan Eropa.
Selama kurang lebih 1263 tahun umat Islam menjalani kekhalifahan setelah masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir. Dimulai dari kekhalifahan Umayyah (661-750 M), kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M), dan kekhalifahan Fatimiyah (909-1171), hingga kekhalifahan Ottoman (Turki Utsmani).
Kekhalifahan Utsmani atau dikenal Ottoman dalam ejaan Barat, merupakan kekhalifahan Islam terbesar yang bukan dari bangsa Arab. Seperti dikutip dari buku berjudul “History of the Arabs” karya Philip Khuri Hitti, disebutkan bahwa kekhalifahan Dinasti Utsmani di Konstantinopel ini berjaya antara 1517-1924 M.
Berdirinya Kesultanan Turki Utsmani berawal pada paruh kedua Abad VI Masehi. Bangsa Turki yang berasal dari Turkestan melakukan migrasi besar ke wilayah Asia Kecil dan tinggal di tepi sungai Amu Darya, Tabaristan dan Gorgan. Kontak pertama Bangsa Turki dengan muslim terjadi di masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, yang berlanjut di era Utsman bin Affan. Turki selanjutnya berperan banyak di masa Khalifah Abbasiyah yang terbuka sejak kekuasaan Al Mu’thasim.
Bangsa Turki kemudian berhasil mendirikan Kesultanan Seljuk yang berakhir di masa Ghiyatsuddin Abu Syuja’ Muhammad. Sebelum kejatuhan Seljuk, sekelompok orang dipimpin Sulaiman bermigrasi menghindari serangan Mongol. Kepemimpinan Sulaiman dilanjutkan putranya Ertugrul yang mendapat sebidang tanah di barat Anatolia dari Seljuk. Era Ertugrul dilanjutkan Utsman yang memperluas wilayah kekuasaan hingga Byzantium yang menggetarkan semua lawannya. Di Era Utsman inilah Kesultanan Utsmaniyah resmi berdiri.
Dalam sejarahnya, Serangan Bangsa Mongol di bawah Jenghis Khan ke Irak dan wilayah timur Asia Kecil, membuat Sulaiman (kakek Otsman I) hijrah dari Kurdistan ke Anatolia pada 617 H (1220 M). Mereka kemudian berdomisili di Kota Athlath di sebelah timur Turki. Putra Sulaiman, Erthughrul, kemudian menggantikan posisinya sebagai pemimpin kabilah dan bergerak terus ke barat laut Anatolia.
Saat melihat pertempuran sengit antara kaum Muslimin Saljuk dan Bangsa Romawi Kristen, kabilah di bawah Ertughrul ini bergabung dengan kaum Muslimin. Karena kemenangan dan bantuannya itu, komandan pasukan Islam Saljuk memberi Ertughrul dan rombongannya sebidang tanah di wilayah barat Anatolia, dekat perbatasan Romawi. Ertughrul juga diberi wewenang untuk memperluas wilayahnya hingga ke wilayah kekuasaan Romawi.
Saat Ertughrul wafat pada 699 H (1299 M), putranya Otsman menggantikannya sebagai pemimpin. Utsman bin Urtughral atau dikenal Osman I inilah kemudian menjadi asal usul nama Utsmaniyah, dan pada akhirnya dikenal sebagai pendiri Daulah Utsmani. Memimpin pada 699-726 H (1294-1326), di masanya Otsman I memperluas batas permukiman Turki hingga pinggiran Kekaisaran Bizantium.
Selanjutnya Daulah Utsmaniyah dipimpin berturut-turut oleh Sultan Orkhan bin Utsman, Sultan Murad I Bin Orkhan (pemimpin Utsmaniyah pertama yang secara resmi menyandang gelar sultan sejak 1383), Sultan Bayazid Bin Murad, Sultan Muhammad I Bin Bayazid, Sultan Murad II Bin Muhammad, dan Sultan Muhammad Al-Fatih atau dikenal Mehmed II. Setelah Sultan Mehmed II, kekhalifazxhan Islam dipimpin 25 sultan Turki Utsmani hingga Republik Islam Turki berdiri.
Namun demikian, dalam perjalanan kepemimpinan Utsmani ini, pemimpin Utsmaniyah yang menyandang gelar khalifah Islam baru dipegang setelah terjadinya penaklukan Kesultanan Mamluk oleh Utsmaniyah pada 1517 di masa Sultan Selim I.
Sebelumnya, khalifah Dinasti Abbasiyah memimpin Islam di bawah perlindungan Kesultanan Mamluk Mesir. Sultan Selim I resmi menyandang gelar khalifah selepas penyerahan jubah dan pedang Nabi Muhammad oleh Mutawakkil III (Khalifah Abbasiyah terakhir). Sejak itu, umat Islam dipimpin kekhalifahan Turki Utsmani.
Turki Utsmani merupakan sebuah kekhalifahan yang sangat kuat dalam sejarah Islam, dalam perjalanan kekuasaannya pernah menguasai semenanjung Arab hingga dengan Asia Selatan. Dinasti Turki Utsmani berkuasa cukup lama, yakni sekitar 625 tahun.
Turki Utsmani pernah berjaya di bawah pimpinan Sultan Mehmet II yang dikenal dengan sebutan al-Fatih (sang penakluk). Sebab di masanya, pemerintahan Islam berhasil menguasai Konstantinopel, kota yang paling tak tertembus di dunia kala itu.
Pada mulanya, kota Konstantin dikenal sebagai Byzantium yang pada usia 1.000 tahun saat Konstantin Agung menjadikannya ibukota Kekaisaran Romawi pada 330 M, kota itu dinamai Konstantinopel. Namun pada 1453, Bangsa Turki di bawah kepemimpin Sultan Mehmet II menguasai Konstantinopel dan menjadikannya ibukota Kekaisaran Utsmani dengan namanya Istanbul.
Ottoman kemudian mencapai puncak kejayaannya pada masa Khalifah Sulaiman al-Qanuni sepanjang Abad XVI dan XVII yang melanjutkan pemerintahan Sultan Salim I yang sebelumnya telah memperluas wilayah ekspansi ke arah Selatan Turki dan juga telah mempersatukan Baghdad, Kairo, dan sisa-sisa kekuasaan Byzantium dalam satu payung kekuasaan.
Khalifah Sulaiman Al-Qanuni sendiri bermakna sang pemberi hukum, memerintah antara 1520-1566 M dan Kesultanan Utsmaniyah menjadi kekhalifahan Islam terpenting di Timur Tengah dan Semenanjung Balkan. Turki Utsmani berhasil menguasai Lembah Sungai Nil di Mesir dan Lembah Sungai Furat, hingga ke Gibraltar. Di Afrika Utara, pasukan Turki Usmani menahan pasukan Kerajaan Spanyol yang menyerang lewat lautan. Pada masa itu, Turki Utsmani dinobatkan sebagai pemilik kekuatan tempur terbesar di dunia.
Sang khalifah tidak melupakan kesejahteraan rakyat meski sibuk menaklukkan wilayah. Sulaiman I menyusun berbagai peraturan untuk rakyat dengan berbagai golongan, demi mewujudkan ketertiban dan keamanan di wilayahnya. Kebudayaan dan perdagangan juga mengalami kemajuan, Begitu pula kesusastraan dan ilmu pengetahuan.
Daftar Sultan di Masa Kekuasaan Khilafah Utsmaniyah (Berdasarkan Kalender Masehi)
Osman I (1299-1324)
Orhan I (1324-1362)
Murad I (1362-1389)
Bayezid I (1389-1402)
Mehmed I (1413-1421)
Murad II (1421-1444)
Mehmed II (1444-1446)
Bayezid II (1481-1512)
Selim I (1512-1520)
Suleiman I (1520-1566)
Selim II (1566-1574)
Murad III (1574-1595)
Mehmed III (1595-1603)
Ahmed I (1603-1617)
Mustafa I (1617-1618)
Osman II (1618-1622)
Murad IV (1622-1623)
Ibrahim I (1640-1648)
Mehmed IV (1648-1687)
Suleiman II (1687-1691)
Ahmed II (1691-1695)
Mustafa II (1695-1703)
Ahmed III (1703-1730)
Mahmud I (1730-1754)
Osman III (1754-1757)
Mustafa III (1757-1774)
Abdul Hamid I (1774-1789)
Selim III (1789-1807)
Mustafa IV (1807-1808)
Mahmud II (1808-1839)
Abdul Mejid I (1839-1861)
Abdul Aziz I (1861-1876)
Murad V (1876-1876)
Abdul Hamid II (1876-1909)
Mehmed V (1909-1918)
Mehmed VI (1918-1922).
Kemunduran Turki Utsmani terlihat setelah Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat tahun 1566 M. Kekhalifahan ini tidak menemui pengganti yang kuat, hingga pada akhir Abad XVIII. Perang pemikiran menyebabkan munculnya Nasionalisme Turki dan Arab yang membuat Turki Utsmani pecah. Setelah itu muncul gerakan yang menyatakan seluruh muslim berada dalam satu payung pimpinan Jamaludin Al Afghani.
Selain itu, muncul juga Mustafa Kemal Pasha yang mengadakan pembaharuan mengacu pada Barat. Tanggal 3 Maret 1924, Mustafa Kemal Pasha berhasil meruntuhkan kekhalifahan Turki Utsmani, berganti Turki yang menerapkan sistem sekuler. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.


