
Tulisan Sebelumnya: EGO (46-50)
EGO (51): Dengan berbaju KNPI, Aku bergegas menuju Lapangan Citramas Pangkajene untuk mengikuti Upacara Hari Sumpah Pemuda. Di tribun upacara, Aku merasa risih sendiri karena masih dianggap pemuda meski tak lagi muda.
Disisi lain Tribun upacara, aku bangga melihat sosok pejabat daerah yang sudah berusia diatas lima puluh tahun namun selalu menganggap dirinya masih muda, mungkin lebih tepat disebut berjiwa muda.
“Hari Sumpah Pemuda adalah momen paling baik untuk membicarakan peran pemuda dalam membangun dan mengisi kemerdekaan, setelah selama ini diskusi tentang peran pemuda dieliminasi oleh Hari Anak, Hari Kartini, Hari Ibu, Hari KB, serta Hari Kesehatan Ibu dan Anak,” ujarku sekedar membuka dialog selepas upacara dengan seorang kawan.
Tak ada tanggapan.
Aku melirik kawan lain dan bertanya, “Kamu bangga berbaju KNPI dan diakui sebagai Pemuda? Bagaimanakah sebetulnya yang dimaksud Pemuda Harapan Bangsa itu?”
Tak ada jawaban.
Aku pindah tempat duduk di belakang seorang perempuan muda dan tanpa ditanya kukatakan padanya.
“Aku senang Hari Sumpah Pemuda ini dipenuhi banyak pemudi. Begitulah seharusnya, karena Pemuda itu akan selalu menjadi harapan pemudi.” – pancinganku untuk membuka dialog tak mendapatkan tanggapan.
Aku berlalu meninggalkan tribun upacara bersama seorang pejabat daerah yang mengajak ke warung kopi.
“Sekarang sudah sedikit pemuda yang menyenangi diskusi. Bagaimana kita bisa memecahkan banyak masalah kebangsaan, kalau kita malas berdiskusi. Apa mereka sudah merasa bangga sebagai Pemuda kalau sudah berbaju KNPI,” ujarnya seraya mengatakan kalau dia melihatku bertanya kiri kanan saat di tribun upacara.
“Mungkin kawan-kawan KNPI itu fokus memikirkan hal besar dibanding melayani pertanyaan bodohku. Yang jelas, Aku dan kawan-kawan KNPI menyenangi diskusi dan terbuka untuk dikritik,” jawabku.
Catatan Ego (51) Etta Adil, Pangkep, 29 Oktober 2012
EGO (52) : Jarum jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan Pukul 23.45 WITA, aku sudah beberapa kali menguap menahan kantuk, sementara tamu yang juga guru seniku belum menunjukkan tanda akan pulang. Malam itu adalah malam kedua kedatangannya ke rumah untuk mengajari cara bermain Mandoling.
Daeng Hasa, seniman tradisional asal Biraeng itu begitu semangat mengajari, bahkan ia membawa lagi Mandoling yang lebih besar ukuran dan bunyinya. “Bertahap saja. Malam ini aku harus kuasai satu lagu dengan iringan Mandoling yang diperlambat,” ujarku.
Sang maestro Mandoling itu seperti tak memerhatikan keinginanku, satu lagu dari kelong turiolo yang dihafalnya. Ia tetap saja meminta aku mengikuti lagu yang dimainkannya, dari dangdut, qasidah sampai lagu daerah yang diiringi Mandoling dengan tempo petikan dipercepat.
“Kalau begini sampai kapanpun aku tidak bisa memainkan Mandoling. Bertahap saja, sedikit demi sedikit. Satu malam satu saja lagu yang diulang-ulang sampai mahir, dari tempo lambat sampai cepat,” ujarku seraya meminta menghabiskan kopinya.
Akhirnya, kursus seni mandoling itu berakhir Pukul 01.00 WITA dan aku berhasil mendapatkan satu lagu daerah dengan petikan mandoling yang asyik.
“Kok murid yang mengatur gurunya,” ujar istri setelah Daeng Hasa, guru mandolingku itu pulang.
“Itu membuktikan bahwa tidak semua orang yang ahli dalam bidang tertentu, juga piawai mengajarkannya,” ujarku berlalu menuju kamar tidur.
Catatan Ego (52) Etta Adil, Pangkep, 30 Oktober 2012.
EGO (53) : Dua pekan terakhir ini, Aku mengonsumsi obat herbal untuk jantung sehat anjuran seorang kawan.
Khasiat yang kurasakan berbeda sangat banyak, salah satu diantaranya adalah dua hari paska lebaran Idul Adha, aku mengasup berbagai makanan berbahan dasar daging sapi, seperti toppa lada, konro, coto, dan kikil.
Obat herbal racikan teman itu benar-benar bekerja. Tak sekalipun aku mengeluhkan tensi tinggi, otot terasa tegang atau sakit leher.
Karena kurasakan ada manfaat dan tubuh terasa enak beraktifitas setelah mengonsumsi obat herbal itu, aku mulai ikut mempromosikan obat herbal tersebut, khususnya di lingkungan tempat tinggalku.
“Dari pekerja buku dan pegiat sastra, kini Etta alih profesi lagi, marketing obat herbal. Lihat itu anak kita, tak tahu harus menjawab apa kala ditanya cita-citanya. Tentu karena melihat Ettanya kerja serampangan dan sembarang diurus,” ujar istri kala melihatku serius bercerita tentang khasiat obat herbal kepada keluarganya.
“Eh, Aku kan artis multi talenta. Aku sutradara bagi lakon kehidupan dan pekerjaanku sendiri. Tak ada yang memaksaku berbuat seperti itu, dan apa suatu hal yang salah jika sesama kawan saling memerhatikan kesehatannya,” ujarku seraya berlalu meninggalkan keluarganya yang lebih memilih ‘massanro’ (berobat ke ‘orang pintar’) dibanding memilih obat herbal sebagaimana yang kukonsumsi.
Catatan Ego (53) Etta Adil, Pangkep, 31 Oktober 2012.
EGO (54): Aku sudah membulatkan tekad untuk tidak keluar rumah seharian demi penyelesaian naskah buku “Profil Pertambangan dan Energi Pangkep”. Aku tak punya alasan untuk mengulur-ulur penerbitannya mengingat waktunya sudah kasip.
“Ingat, deadline buku besok, Pak!” begitu pesan singkat pemesan buku yang masuk di ponselku.
Saat laptop kuhadapi untuk melengkapi data naskah buku, seorang kawan menelepon, “Tolong pak, besok saya harus dampingi pak Camat ke suatu daerah terpencil yang jauh sekali. Jadi, tolong gantikan saya ikut rapat besok soal verifikasi data pemilih di KPUD. …..,” – begitu suara kawan diujung telepon.
Aku tak kuasa menolak permintaan kawan itu namun disisi lain aku juga terikat janji penyelesaian naskah buku dari salah satu SKPD dalam lingkup Pemkab Pangkep. Belum lagi, kegiatan lain menunggu. “Aku harus memaksa diri,” – begitu pikirku untuk melaksanakan semua kegiatan.
Saat hendak menghadapi kembali laptop, tiba-tiba pintu rumah diketuk. Dari balik jendela, kulihat guru seniku datang menepati janji untuk mengajari lagu baru yang bagus dengan iringan Mandali’ (Mandoling), alat musik tradisional khas kampungku.
“Kalau mau selesaikan naskah buku, aku akan keluar dan menjawab kalau Etta lagi tidak ada,” ujar istri yang mengetahui masalahku.
“Jangan…., sekarang memang saatnya bermain Mandali. Soal naskah buku, gampanglah itu. Kalau sempat shubuh aku akan kerja pada subuh hari. Kalau tidak sempat, aku akan minta waktu sehari lagi untuk penyelesaiannya” ujarku seraya keluar menghadapi Daeng Hasa guru seniku, sang Maestro Mandali’.
Catatan Ego (54) Etta Adil, Pangkep, 1 Nopember 2012.
EGO (55) : Usai memberikan sosialisasi pilgub terkait Daftar Pemilih Sementara (DPS) di PPS Kelurahan Minasate’ne, aku melajukan sepeda motor kembali ke rumah dalam lingkungan sekolah putri berasrama.
Sebagai humas di sekolah itu, aku turut menghadiri pelantikan pengurus organisasi siswanya. Dua acara berarti pula sudah dua kali makan sebelum masuk waktu Shalat Jumat.
Saat siap-siap berangkat menuju masjid, sebuah pesan singkat kawan masuk di ponselku, “Kalau pulang dari masjid, singgah makan di rumah bersama Kapolres dan rombongannya.” Permintaan kawan itu tak bisa kupenuhi. “Maaf. Aku sudah makan.” – begitu pesan singkat balasanku usai jum’atan di masjid dekat rumahnya.
Di rumah, aku melihat coto dan ikan bakar tersaji di meja makan. “Wah mantap ini. Aku selalu rindu masakan ummi. Pokoknya masakan istriku ternikmat sedunia,” ujarku seraya berlalu menuju kamar tidur.
“Tapi, kenapa tidak pergi makan.” balas istri.
Di kamar, televisi sengaja aku nyalakan sementara mataku tak dapat menahan kantuk.
“Simpan saja disitu. Aku nonton teve dulu.” ujarku saat istri pamit pergi mengajar.
Catatan Ego (55) Etta Adil, Pangkep, 2 November 2012.


