
Tulisan Sebelumnya: EGO (43-45)
EGO (46): Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa atas krisis air di lingkungan tempat tinggalku yang berada dalam lingkup wilayah Kecamatan Minasate’ne.
Dahulu jika orang menyebut Minasate’ne, maka salah satu gambaran orang yang mendengarnya pasti akan menyebut Minasate’ne sebagai sumber air bersih paling diminati, baik yang diambil dari mata air Leang Kassi maupun yang berasal dari sumur air penduduk setempat.
Air Minasate’ne malahan dimanfaatkan PDAM Pangkep untuk pemenuhan kebutuhan air bersih warga Pangkajene dan Minasate’ne.
“Ini hanya karena kemarau, Etta,” ujar istri.
“Kemarau Tahun-tahun sebelumnya tidak membuat kita kekurangan air seperti saat ini. Ini karena tidak ada lagi yang peduli lingkungan. Kita abai terhadap hutan, pepohonan ditebang seenaknya saja, kawasan karst dan mineral tambang didalamnya ikut digerogoti,” jelasku ditengah keasyikan mengirim pesan pendek ke beberapa kawan aktivis lingkungan.
Seorang diantaranya aku telepon, “Dua belas tahun terakhir aku tinggal di Minasate’ne. Penurunan kualitas dan kuantitas air sangat terasa dari tahun ke tahun. Cobalah lembaga kalian kaji soal ini, jika memang ada pengrusakan secara sistematis oleh perusahaan tambang maupun oleh penduduk setempat terhadap kawasan hutan dan karst, aku siap dorong lembaga lingkungan lain untuk melakukan aksi protes dan demonstrasi. Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus,” kataku berapi-api sementara kawan di ujung telepon terdengar mengiyakan.
“Iya …. iya …. benar, Daeng …. siap, Daeng,” ujarnya.
Istri yang mendengarku menelepon hanya menggeleng, “Etta sembarang tong naurus,” ujarnya tak kupeduli.
Aku berlalu melirik kamar kecil dimana terdapat seember air untuk kebutuhan mandiku.
Catatan Ego (46) Etta Adil, Pangkep, 24 Oktober 2012.
EGO (47): Masih pagi sekali, aku tidak tahu harus berbuat apa dan merencanakan apa. Pertengkaran kecil di subuh hari itu masih terngiang di telinga. “Mengapa Etta tidak bangunkan Ummi untuk sahur?” – tanya istri yang menyalahkanku karena tidak bangun sahur untuk Puasa Dzulhijjah.
“Memangnya Ummi berpesan agar dibangunkan dinihari untuk sahur,” jawabku membela diri.
“Apa ummi harus beritahu kewajiban Etta. Sekalipun sebenarnya ummi tidak ingatkan, seharusnya Etta memerhatikan hal-hal seperti itu. Tugas Etta adalah bagaimana keluarga ini memahami dan melaksanakan perburuan pahala untuk menggapai ridha Ilahi. Etta menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan keberkahan Puasa di Hari Arafah,” – aku menangkap kesan diceramahi.
“Tidak usah ceramahi aku tentang pahala dan keberkahan Bulan Dzulhijjah. Apa belum cukup Aku mewakafkan diri untuk kepentingan orang banyak? Dalam 24 jam sehari, aku lebih banyak mengurus orang banyak dan kepentingan sekolah. Ummi tahu itu, kan?” – jelasku seadanya tanpa menunggu tanggapan.
Pertengkaran di subuh hari itu menurunkan semangatku untuk keluar rumah. Aku berlalu menuju kamar. Tidur dan berharap bermimpi tentang mengurus kepentingan orang banyak.
Catatan Ego (47) Etta Adil, Pangkep, 25 Oktober 2012.
EGO (48): “Kita Shalat Idul Adha di Lapangan Sepakbola Minasate’ne,” ujarku kepada istri dan anak. Tak ada yang protes atau usulan lain. Istri dan anakku sibuk berbenah menyiapkan pakaian, sajadah dan mukena untuk keberangkatan kami menuju lokasi Shalat Idul Adha sekira satu kilometer dari rumah kediaman.
Setiba di pinggir lapangan, Adil anakku setengah berbisik, “Mengapa kita Shalat Idul Adha disini, Etta. Biasanya kita shalat lebaran di Pangkajene?”
Aku tak menjawab, kuraih tangannya mempercepat langkah menuju tengah lapangan sementara istri sudah menggabungkan diri dengan jamaah perempuan.
“Kita shalat lebaran disini karena semalam stafnya pak camat Minasate’ne menelepon agar kita shalat lebaran disini. Coba, stafnya pak bupati yang menelepon, kita pasti shalat lebaran di Pangkajene,” jawabku seadanya kepada Adil anakku usai menggelar sajadah pada shaf kelima tepat di depan mimbar khatib.
“O, kukira karena disini lebih banyak hewan kurban,” ujarnya mengundang senyum jamaah di dekatku.
“Perhatikan sebentar ceramahnya baik-baik, Nak! Yang ceramah adalah teman baik Etta.” – Anakku mengiyakan sementara pikiranku tak berhenti mengingat hewan qurban.
Catatan Ego (48) Etta Adil, Pangkep, 26 Oktober 2012.
EGO (49): Saat hari lebaran Idul Adha, Aku sudah puaskan diri bertamu ke rumah keluarga, kerabat dan sahabat. Tubuh terasa lebih bertenaga setelah mengasup berbagai kuliner khas berbahan dasar daging sapi, konro, kikil dan coto.
Keesokan harinya, kusiapkan waktu hanya untuk menerima tamu saja di rumah. “Ke rumahku, makan konro, coto dan kikil.” Pesan singkat itu kukirim ke beberapa kawan karib setelah kulihat istri menerima kiriman rantangan makanan berisi konro, coto dan kikil dari rumah orangtua. Karena ada kegiatan penting yang harus didatanginya, aku sendirian melayani dan menjamu tamu yang datang.
Dari jelang siang sampai jelang maghrib, kawan-kawanku berdatangan. Ada yang datang sendirian, berdua, dan ada yang rombongan. Usai shalat Isya, istri datang bersama dengan teman-temannya sesama guru.
Di dapur, kulihat istri kaget melihat begitu banyak tumpukan piring cucian. “Sebaiknya Ummi siapkan kue kering dan sirop saja untuk tamu, makanan konro, coto dan kikilnya sudah aku habiskan bersama tamuku,” ujarku setengah berbisik.
Aku berlalu menuju ruang tamu dan menggoda tamunya.
Catatan Ego (49) Etta Adil, Pangkep, 27 Oktober 2012.

EGO (50): “Datang dan saksikanlah konser tunggal maestro mandoling / di rumahku malam ini.” – begitu pesan singkat yang kukirim ke beberapa kawan pegiat seni dan sastra di Pangkep.
Lima belas menit berlalu tak ada kawan yang datang. Yang kuterima hanya balasan pesan singkat yang seperti menertawai mengira aku bercanda. Kembali aku mengirim pesan singkat ke kawan itu. “Segera ke rumah. Konser sudah dimulai dan sudah lewat tiga lagu.”
Seorang diantaranya aku telepon untuk memastikannya akan datang. Lima belas menit kemudian, kawan yang kutelepon itu datang berdua dan mereka mendapatiku sedang melakukan perekaman terhadap kelong-kelong turiolo yang dinyanyikan mengikuti petikan mandoling seorang laki-laki paruh baya bernama Daeng Hasa.
Dua kawan yang baru datang ke rumah itu juga langsung melakukan perekaman syair dan irama mandoling.
“Yang didepan kalian ini maestro mandoling, sedang disampingnya maestro kecapi. Jadi, kalau mau belajar kecapi dan mandoling, sering-seringlah kemari. Jangan malas kalau dipanggil, apalagi kalian kupersiapkan sebagai penerus Daeng Hasa,” ujarku disertai gelak tawa mereka.
Aku tak perduli mereka menertawai siapa. Yang penting bagiku, mereka ikut tahu bagaimana cara menghargai pelestari seni tradisional dan menyelamatkan karyanya.
Catatan Ego (50) Etta Adil, Pangkep, 28 Oktober 2012.


