Beranda Kolom Catatan Harian Etta Adil: EGO (23-25)

Catatan Harian Etta Adil: EGO (23-25)

Ilustrasi EGO: Buku karyaku di TB.Grahamedia, Lt.3 MTos, Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Ilustrasi EGO (24): Beberapa buku karyaku di TB.Grahamedia, Lt.3 MTos, Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Tulisan Sebelumnya:  EGO (22)

EGO (23): Jarum jam sudah menunjukkan Pukul 22.00 WITA, saat aku masih saja membenahi ruangan komputer pada salah satu ruangan di perpustakaan sekolah berasrama tak jauh dari kediamanku.

Tak banyak yang dapat kulakukan selain online sendiri di ruangan itu. Kejengkelanku pada instalatur kabel listrik tak tahu harus kulampiaskan pada siapa? Pekerjaan yang sebenarnya cukup sederhana, namun karena terlalu menggantungkan pekerjaan itu pada orang lain akhirnya mengganggu juga pekerjaan yang lain.

Aku iseng menelepon seorang kawan agar menemaniku. Tak sampai sepuluh menit, kawan tersebut datang bersama tiga kawan lainnya. Mereka nampak kagum aku dikelilingi begitu banyak buku dan komputer. Aku tersenyum dan tak berhasil merendah kala mereka memujiku, meski dalam kenyataannya memasang sambungan kabel telepon saja aku sangat bergantung pada orang lain, begitu pula instalasi komputernya.

Catatan Ego (23) Etta Adil, Pangkep, 1 Oktober 2012.

EGO (24): Seorang mahasiswi ditemani ayahnya mendatangiku di rumah. Hasil browsing di internet tentang keturunan orang Melayu di Pangkep yang pernah kutulis dan menjadi fokus penelitian sang mahasiswi itu membawanya sampai di rumah.

Kepada sang mahasiswi jurusan sejarah sebuah universitas negeri di Makassar itu kuberikan rekomendasi buku yang harus dimiliki dan dibaca serta daftar nama tokoh keturunan melayu yang mestinya dia jadikan sumber.

Kukatakan kepada ayah mahasiswi itu bahwa aku tak bisa banyak membantu anaknya. Tak lama setelahnya, merekapun pamitan.

Sepulangnya kedua tamuku itu, istri menghampiri, “Mengapa tidak diberi saja anak itu buku tentang sejarah kedatangan orang melayu di Pangkep yang pernah kita susun, Etta?” tanyanya.

“Enak aja, itu hasil perjuangan beberapa tahun mencari informasi. Lagian itu kan baru naskah buku, bahasanya masih perlu diedit. Biarkanlah dia sendiri mencari informasi dan mewawancarai beberapa narasumber, itu akan jauh lebih baik bagi mahasiswi itu,” tandasku.

Catatan Ego (24) Etta Adil, Pangkep, 2 Oktober 2012.

EGO (25): Usai menerima honor di tempatku bekerja, aku melajukan motor menuju rumah mertua setelah menjemput istri di sekolah. Di rumah mertua, aku menunggu Adil anakku yang pada sore hari itu kulihat ngos-ngosan berlari pulang dari mengaji di masjid terdekat.

Kubuka amplop honorku dan kukatakan pada istri agar sebaiknya dibelikan saja sepeda buat anak kami itu.

“Ini cukup buat beli sepeda. Kalau Adil sudah punya sepeda, aku tak perlu capek mengantarnya ke sekolah,” ujarku.

Istri nampak serius berpikir. “Yang dibutuhkan anak kita itu bukan sepeda, tetapi perhatian Etta. Etta sekarang itu sok sibuk, tak mau lagi mendampingi Adil saat belajar di rumah,” ujar istriku yang kuanggap angin lalu.

“Aku harap mulai besok sudah ada sepeda buat Adil dan aku tak perlu mengantarnya ke sekolah. Biarkan ia sendiri mengenal jalanan, merasakan nikmatnya debu dan lobang jalanan, merasakan kesenangan berpacu dengan temannya ke sekolah.”

“Aku ingin kaki anak itu kuat karena bersepeda dan biarkan ia sendiri mengatur waktu berangkat dan pulangnya dari sekolah,” jelasku seraya berlalu.

Catatan Ego (25) Etta Adil, Pangkep, 3 Oktober 2012.

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT