BerandaEdukasiNurdin Abu, Penyair yang Ditakdirkan jadi Kepsek

Nurdin Abu, Penyair yang Ditakdirkan jadi Kepsek

Oleh:  Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Sebagai seorang guru dan kepala sekolah, nama Nurdin Abu cukup dikenal dalam Dunia Pendidikan di Kabupaten Pangkep, namun sebagai seorang seniman dan penyair tak cukup banyak orang yang mengenalnya.

Nurdin Abu lahir di Kabupaten Pangkep, tanggal 30 Oktober 1964. Masa kecil hingga remajanya banyak ia habiskan di Kampung Bontoa Kecamatan Labakkang. Nurdin panggilan yang disematkan oleh Ayahnya Almarhum Ambo Upe dan Ibunya Hj. Suaebah.

Nurdin menamatkan pendidikan dasar di SD Negeri 8 Bontoa, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Labakkang dan akhirnya pada Tahun 1984, ia menamatkan pendidikan SMA-nya di SMA Negeri 1 Pangkajene.

Bakat dan talentanya sebagai seorang seniman sudah terasah sejak duduk di bangku Sekolah Dasar dengan jejak rekam sebagai siswa yang paling banyak mengikuti lomba baca Puisi. Kondisi keluarganya yang hidup dari kesederhaanlah yang banyak jadikan latarbelakang untuk setiap puisi dan tulisan-tulisannya.

Penulis bersama H.Nurdin Abu. (foto: alif/ ist)
Penulis bersama H.Nurdin Abu. (foto: alif/ ist)

Kiprah suami Hj. Asma, S.Pd., M.Pd., ini di dunia pendidikan sudah ia mulai setahun setelah menjadi lulus Sarjana dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujung Pandang Jurusan Seni Rupa. Pendidikan selama di IKIP (sekarang Universitas Negeri Makassar) itulah yang membentuknya menjadi seorang seniman yang diperhitungkan.

Nurdin Abu adalah seorang perupa dan piawai membuat patung serta melukis. Tuntutan hidup dan amanah orang tualah yang kemudian membuatnya menjalani profesi sebagai seorang guru sebelum mengasah terlalu jauh kesenimanannya.

Pertama kali terangkat sebagai seorang guru di SMP Negeri 1 Mulyorejo Kabupaten Luwu. Nurdin Abu menjalani masa berpindah-berpindah tempat tugas mengabdi sebanyak sembilan kali.

Profesi guru benar-benar telah membentuknya sebagai pribadi yang penuh gejolak, karena disadari kepindahannya mengajar tidak semata didasarkan pada kebutuhan sekolah, tetapi ada juga karena persoalan politik kedaerahan, namun Nurdin Abu enggan untuk menjelaskan lebih jauh. “Lebih baik saya simpan cerita itu, daripada merusak hubungan pertemanan dan persahabatan”, ujarnya.

Sebagai seorang guru dengan latar belakang pendidikan seni, Ia bergerak dinamis dan selalu meyakinkan dirinya agar selalu dalam idealisme dan kebenaran.

Setelah menikah dan menjadi guru, Nurdin Abu tetap tak menampik tawaran untuk membuat karya tiga dimensi seperti Patung atau Taman Kota, di sela kesibukannya mengajar.

Beberapa karya seni rupanya banyak menghiasi setiap sudut kota tempat kelahirannya, Pangkep. Seiring berkembangnya usia dan fisik yang tak kuat lagi berkarya tiga dimensi, sementara jiwa jiwa seni yang ingin selalu menyeruak, maka puisi menjadi pelariannya.

Menjadi Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bungoro tidak membuatnya meninggalkan dunia menulis puisi. Ia semakin gencar mengejawantahkan hasil pertarungannya dengan obyek yang diamatinya, dirasakannya, atau mungkin yang sempat terekam dalam kehidupan sehari-harinya.

Ayah dari Alif, Albi, Alma dan Alsya ini lebih memilih tematik puisinya pada kehidupan sosial, potret pemerintah dan negara, atau pada kehidupan keluarganya. Anak-anaknya adalah termasuk sumber spirit dalam kehidupannya yang kemudian digambarkan sebagai “mutiara hatinya’’ dalam perjalanan berkesenian.

Tulisan Terkait: Kasih Ibu dalam Puisi Nurdin Abu

Puisi-puisi yang lahir dari perenungannya malahan mendapatkan apresiasi positif dari seorang Asdar Muis RMS semasa hidupnya. Asdar Muis RMS adalah budayawan dan seniman kawakan Sulawesi Selatan.

Salah satunya puisi karyanya yang berjudul “Ibu” pernah dibedah oleh komunitas seniman dan penulis sehari semalaman, usai tarwih sampai jelang sahur dalam kegiatan bertajuk “Tadarrus Sastra Pangkep”.

Puisi-puisi Nurdin Abu memanglah menggetarkan hati, menyentuh jiwa dan nalar. Jika ada potret sosial yang mengusik jiwa dan keyakinannya maka tak lama kemudian hal tersebut menjadi obyek puisinya.

Nurdin Abu tercatat sebagai pelukis dan perupa yang diperhitungkan. Tak banyak seniman yang bisa masuk anggota Kelompok Perupa Nusantara Makassar dan Ikatan Seni Rupawan Indonesia (ISRI), sementara Nurdin Abu sudah menjadi anggota ISRI sejak menyelesaikan kuliahnya di IKIP Ujung Pandang.

Kini, Kumpulan Puisi pertamanya “Dosa-dosa Berkarat” akan diterbitkan oleh Pustaka Palontaraq, sebuah antologi puisi yang lahir dari guru yang seniman dan seniman yang guru. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT