Beranda Hukum Berperkara dengan Tetangga

Berperkara dengan Tetangga

Ilustrated - Foto hanya sebagai ilustrasi tulisan. (foto: ist/palontaraq)
Ilustrated – Foto hanya sebagai ilustrasi tulisan. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Etta Adil 1)

PALONTARAQ.ID – Saya belum lama mengenal teman yang satu ini. Saya sekantor tapi saya tak menyangka bahwa teman satu ini untuk beberapa bulan yang lalu adalah Dosen saya untuk mata kuliah “Advokasi”.

Saat pertama bertemu di Kampus, dia menyapa akrab, “Pak Farid, ternyata mengajar disini juga yah?”.  “Akh tidak pak, saya disini adalah mahasiswata,” – jawab saya. “Akh masa?” – balasnya seakan tak percaya seraya mengajak masuk ruang kuliah. Saya pun mengikutinya bersama mahasiswa lainnya.

Saat kuliah perdana, teman yang Dosen ini mengenalkan dirinya, sebut saja namanya Pak Gani. Beliau adalah seorang advokat sebelum akhirnya terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Beliau juga menjabat sebagai Kasubag di Bagian Hukum Pemda.

Saya bangga menjadi mahasiswanya dan untuk beberapa saat sangat menikmati kuliah “Advokasi” yang dibawakannya. Beberapa referensi yang diberikannya, seperti UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat, Amandemen UU Peradilan Agama No. 3 Tahun 2006, UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, dan UU No. 4 tentang Kepailitan

Referensi lainnya adalah UU No. 4 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum, UU No. 9 Tahun 2004 tentang PTUN, Kode Etik Advokat, Pokok-pokok Etika Profesi Hukum (Prof CST Kansil, SH), Hukum Acara PTUN (Siti Soetari, SH), Hukum Acara Perdata (Olden Bidara), dan Advokat di Indonesia (Frans Hendra Winata).

Pak Gani menguasai dengan baik mata kuliah yang dibawakannya. Hal ini membuat saya harus belajar serius dan tidak boleh main-main dengannya. Saya salut karena beliau tidak memandang pertemanan dalam urusan perkuliahan, dan tentu pula dalam ujian nantinya.

Karena kuliah hukum ini pula, saya tak pernah melewatkan acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang sebelumnya bernama Jakarta Lawyers Club (JLC) di layar kaca TVOne yang sekarang sudah berubah nama menjadi “Indonesia Lawyers Club (ILC) dengan hostnya Karni Ilyas.

Setiap hari Jumat, ketika kuliah “Advokasi” berlangsung, teman dosen ini selalu menanyakan apa hal baru yang dapat didiskusikan ulang mengenai tayangan di tivi tersebut.

Kami pun akhirnya larut dalam diskusi tentang Kasus Wisma Atlet-nya Nazaruddin, Bank Century, Mafia (Badan) Anggaran di DPR, dan kasus-kasus lainnya, apalagi usai kuliahnya, dilanjutkan dengan Mata Kuliah lainnya yang tak kalah seru, “Praktek Peradilan”.

Dalam urusan perkuliahan, saya termasuk mahasiswa yang rajin. Hal ini disebabkan karena saya ingin mengetahui banyak hal baru, ‘Dunia Hukum yang dinamis’, yang multi-interpretatif pembacaannya menuju jalan pencarian keadilan.

Sekalipun itu, ternyata banyak pasal yang bertentangan antara satu UU dengan UU lainnya, termasuk dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHP). Teman Dosen saya itu banyak menunjukkan pertentangan-pertentangan pasal itu.

Anehnya, disaat begitu banyak pertanyaan yang saya simpankan untuknya, sebulan lalu ‘menghilang’ dari kampus, tak pernah masuk lagi mengajar terhitung sejak 5 Nopember lalu.

Dari anaknya, saya jadi tahu bahwa teman dosen ini sejak tidak masuk mengajar, dia meringkuk dalam tahanan Polres setempat. “Akh, bagaimana bisa? Kok sarjana hukum dihukum. Apa yang telah dia perbuat. Bagaimana ceritanya sampai ditahan polisi?” – tanya saya kepada anaknya saat melaporkan bapaknya di kampus bahwa untuk sementara tak dapat masuk mengajar karena sedang berperkara.

Pada Hari Selasa (13/12/2011) akhirnya menjadi jelas semuanya, saya menjenguknya di Kantor Kejari setempat, setelah berkas perkaranya telah dilimpahkan dari pihak kepolisian. Inilah yang sedikit akan saya ceritakan kepada tuan dan puan sekalian.

Semoga dapat menjadi ‘Cermin’ dan menjadi pelajaran.

* * *

Anak adalah permata hati. Setiap orang tua tentu akan menjaga, merawat dan memberikan kasih sayangnya agak kelak anaknya dapat menjadi penyejuk jiwa, dan menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi orang tuanya, tapi bagi lingkungan dan masyarakatnya.

Setiap orang tua tentu akan memiliki pula cita-cita dan harapan besar terhadap anaknya, karena itu ia sedapat mungkin memberikan perhatian, kasih sayang dan pendidikan yang baik, yang kelak berguna bagi masa depan sang anak.

Di luar semua itu, manusia bisa saja berkehendak dan bercita-cita, pada akhirnya Tuhan jualah yang menentukan segalanya, termasuk menjemput ajal sang anak.

Inilah yang terjadi pada Pak Budi, sebut saja begitu. Ayah dari Surya, anaknya yang baru menginjak Kelas I SD. Sebulan yang lalu, tepatnya 5 Nopember Pak Budi harus memupus harapan dan cita-citanya terhadap anaknya. Surya ‘menabrak’ mobil yang dikemudikan teman dosen saya, Pak Gani.

Beberapa orang lainnya mengatakan Surya bukannya ‘menabrak’ tapi ia dan sepedanya ‘ditabrak’. Entah bagaimana ceritanya, kejadian itu membuat sang anak harus berpulang lebih awal ataukah karena memang sudah takdirnya.

Pak Gani dan Pak Budi adalah tetangga dalam sebuah kompleks perumahan, dan kejadian yang menewaskan Surya, anak Pak Budi ini terjadi dalam kompleks perumahan itu. Dosen teman saya itu akhirnya berperkara dengan tetangganya sendiri.

Kedua keluarga itu, kini harus sama-sama berperkara di hadapan hukum. Untuk beberapa kali pertemuan, saya pun akhirnya kehilangan lebih dari sebulan pertemuan kuliah ‘Advokasi’, paling tidak harus menunggu hasil sidang kasus Lakalantas ini dikarenakan upaya jalan damai tidak bisa ditempuh atau ditolak keluarga korban.

Saat pemeriksaan di Kantor Polisi, Pak Gani menolak menanda-tangani Berita Acara Pemeriksaaan (BAP). Oleh penyidik, Dosen Advokasi saya ini dianggap mempersulit pemeriksaan.

Ia dengan santai mengatakan, “Bedakan pak, menolak dan mempersulit. Saya menolak bukan mempersulit dan Alasan saya menolak menanda-tangani BAP karena kejadiannya tidak seperti itu.”

“Saya yang ditabrak, bukannya menabrak. Dalam KUHAP, tersangka boleh tidak menandatangani BAP jika tersangka menganggap isi BAP tidak benar,” ujarnya seraya menganjurkan agar diadakan rekonstruksi di TKP.

Dari hasil rekonstruksi, Pak Gani bersikukuh bahwa dia ditabrak oleh Surya, anak pak Budi yang sedang mengendarai sepedanya. Sementara Mahyuddin, tetangganya (saksi keluarga korban) yang menurut Pak Gani datang setelah kejadian, anak Pak Budi, Surya ditabrak oleh mobil pak Gani.

Yang pasti, jika terdapat kasus seperti ini, hubungan sosial bertetangga yang selama ini terjalin dengan baik bisa berubah menjadi permusuhan, apalagi jika kedua pihak keluarga masing-masing ada yang mengomporinya. Tak ada jalan damai dan keduanya harus bertemu di Pengadilan.

Bagi saya, menarik tentunya mengikuti perkembangan kasus ini sampai di pengadilan. Menariknya bukan karena seorang Sarjana Hukum dan Dosen Advokasi harus mengadvokasi dirinya di hadapan hukum, tetapi bagaimana sebuah hubungan sosial berubah menjadi hubungan hukum.

Dari banyak cerita yang saya dapatkan, keluarga korban sebetulnya mau damai dan menerima  “uang duka” (sebesar Rp 20 Juta) dari keluarga Pak Gani, namun ia malu dengan perkataan tetangganya, “Masa’ nyawa anakmu, kamu tukar dengan uang,” – demikian bisik-bisik tetangganya.

Di sisi lain, kematian adalah takdir yang tak dapat ditolak. “Pemberian uang duka tak dapat mengembalikan anak Pak Budi. Pun jika menang di Pengadilan, tetap saja nyawa anaknya tetap tak bisa dikembalikan.”

“Toh, saya hanya berusaha meringankan sedikit bebannya. Bisa jadi memang sudah takdirnya sang anak dan kebetulan saya dianggap pemicunya. Tapi yang jelas, saya tidak menabraknya,” – ujar Pak Gani.

Dalam lingkungan perumahan itu, kedua tetangga berperkara ini tentu masing-masing mempunyai pendukung. Pak Budi adalah orang tua keluarga korban, wajar mendapatkan simpati, tapi disisi lain, Pak Gani bisa jadi juga adalah korban. Korban dari situasi yang menjadi pemicu hilangnya nyawa seseorang.

“Andai saya dalam posisi Pak Budi, mungkin saya pun akan menolak damai,” ujar Pak Gani.

Kalau begitu, semoga mendapatkan keputusan yang seadil-adilnya di muka pengadilan karena semua orang punya hak yang sama dan harus tunduk di muka hukum (equality before of the law).

 

*Pangkep, 14 December 2011

 

1) Etta Adil adalah nama pena dari Muhammad Farid Wajdi.  Tulisan ini, “Berperkara dengan Tetangga” merupakan salah satu cerita yang termuat dalam Buku Antologi Cerita – “Surat Cinta buat Bidadari Kecilku di Surga” (Pustaka Puitika, 2015)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

  1. Klo sya pak sepemahamanku ttpki dijatuhi pasal 338, krna menghilangkan nyawa org lain, klo mslah salah tidak salahnya in pak gani nnti jdi pertimbangan hakim (?) , krena untuk smntara in bukti mngarah k pak gani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...