Beranda Berita Daerah Letusan Tambora dan Hilangnya Tiga Kerajaan Sumbawa

Letusan Tambora dan Hilangnya Tiga Kerajaan Sumbawa

 

Oleh: M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID –  Liputan khusus Kompas, Sabtu (17/9/2010), “Tambora Mengguncang Dunia” sungguh rangkaian liputan dari Ekspedisi Cincin Api (Ring of Fire Expedition) yang sangat dahsyat.

Liputan itu juga mengguncangkan pemikiran dan persepsi penulis tentang kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan bahaya yang mengancam kehidupan dan peradabannya, hidup diatas lingkaran cincin api (ring of fire).

Letusan Gunung Tambora yang menenggelamkan tiga kerajaan dibawahnya pada April 1815 dan dampak letusannya yang mengakibatkan tahun tanpa musim panas pada Tahun 1816 seharusnya memberi pelajaran berarti bagi kita yang hidup diatas Negeri cincin api.

Jujur, selama ini penulis hanya mengenal tiga kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu Kerajaan Sumbawa, Bima dan Dompu.

Ternyata ada tiga kerajaan lainnya, Kerajaan Tambora, Pekat dan Sanggar yang berada tepat dibawah kaki Gunung Tambora.

Ketiga kerajaan dan peradabannya inilah yang ternyata menjadi penerima pertama lontaran materi vulkanik sebanyak 160 km3 pada saat Gunung Tambora meletus pada April 1815.

Letusan dahsyat Gunung Tambora tersebut mengakibatkan hilangnya separuh tinggi dan volumenya, itulah yang kemudian mengubur Kerajaan Tambora, Pekat dan sebagian Sanggar.

Dari letusan Tambora tersebut, populasi penduduk yang tersisa hanya 84.000 dari populasi awal 170.000, sekitar 37.000 diantaranya mengungsi dan pergi meninggalkan Pulau Sumbawa menuju Jawa, Bali, Makassar, Laut Seram dan berbagai daerah lainnya.

Info Grafik Gunung Tambora. (sumber: Litbang Kompas)
Info Grafik Gunung Tambora. (sumber: Litbang Kompas)

Sebagian besar pulau di Indonesia gelap karena abu, Pulau Bali, Lombok, dan Madura gelap selama tiga hari.

Tambora benar-benar mengguncang dunia, dampak letusannya sampai di Benua Eropah dan Amerika.

Disana, pada Tahun 1816 dikenal tahun tanpa musim panas dimana suhu udara turun sampai 2,5 derajat sehingga terjadi gagal panen dan harga bahan pangan yang melambung tinggi.

Peta Tambora sudah dikenal dalam “Suma Oriental” Tome Pires, berdasarkan Fransisco Rodrigues, 1511. Tahun pembuatan peta ini dalam sejarah diketahui bersamaan dengan jatuhnya Malaka di tangan Portugis.

Ekspansi Portugis ke wilayah timur Nusantara dalam upaya pencariannya menemukan Pulau Rempah-rempah telah ikut mengenalkannya pada wilayah Tambora di sebelah utara pesisir Kekuasaan Kerajaan Makassar.

Tiga kerajaan di kaki Gunung Tambora dalam temuan dan penelitian Balai Arkeologi Denpasar, diperkirakan menghasilkan berbagai hasil bumi penting, seperti kemiri, kapulaga, kopi, lada, madu, kain tenun tradisional, dan kuda.

Tenggelamnya tiga kerajaan itulah yang kemudian dikenal sebagai “Pompeii” dari Timur (Pompeii from the East). Temuan arkeologi di Situs Tambora menunjukkan bahwa daerah itu pernah terdapat permukiman yang cukup padat.

Temuan kerangka manusia dan struktur bangunan kayu menguatkan dugaan itu. Dahsyatnya Gunung Tambora ini juga tercatat dalam Syair Kerajaan Bima.

Waktu subuh fajar pun merekah

Diturunkan Allah bala celaka

Sekalian orang habislah duka

Bertangis-tangisan segala mereka”.

(Syair Kerajaan Bima : 20).

Dahsyatnya letusan Gunung Tambora sudah berlalu dan Tambora pun sudah mulai dilupakan. Tak ada sedikitpun rekonstruksi atau menjadikan Tambora ‘tempat belajar’.

Pemerintah Daerah yang tak memahami Sejarah Tambora, lebih tergoda akan capital perusahaan Agro Wahana Bumi mengulang sejarah eksploitasi PT Veneer yang mengokupasi wilayah kaya itu.

Kawasan Tambora yang bersejarah terancam akan rencana pemerintah setempat yang akan membuka Hutan Tanaman Industri (HTI).

Apakah sejarah akan tinggal sejarah, tanpa ada pembelajaran didalamnya. Paling tidak, Harian Kompas dengan Ekspedisi Cincin Api-nya telah mengingatkan kita semua, sebuah perjuangan berat sekedar untuk menyadarkan betapa ngerinya hidup diatas Negeri Cincin Api (Ring of fire). (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT