BerandaEkonomiInvestasi: Untuk Hidup yang Lebih Baik

Investasi: Untuk Hidup yang Lebih Baik

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – UNTUK yang kesekian kalinya saya mendapatkan tawaran untuk berinvestasi saham, namun jawaban yang selalu keluar dari mulut saya adalah dua alasan: Pertama, saya tidak punya modal. Kedua, saya tidak cakap.

Seharusnya, pikir penulis, yang menjadi target investasi saham adalah mereka yang memiliki modal banyak. Mereka yang saya maksud tentunya adalah pengusaha, kontraktor, pejabat tinggi, anggota DPR, dan sederet profesi lainnya yang memiliki penghasilan diatas Rp 10 juta minimal perbulannya.

Memang saham merupakan pilihan investasi yang menantang dan menjanjikan keuntungan menggiurkan, namun saya tentunya tak ingin mempertaruhkan hasil jerih payah bertahun-tahun untuk suatu bisnis fluktuatif, pergerakannya sangat cepat dalam hitungan resiko untung dan rugi besar.

Kalaupun penulis diperhadapkan pada pilihan investasi, saya lebih cenderung untuk memilih membeli tanah dan bangunan, dengan harapan suatu saat nilai jualnya akan meningkat pesat.

Sebagian besar pebisnis memilih ‘bermain’ saham karena ingin cepat melaju kekayaannya dan semakin bertambah asetnya. Sayangnya, beberapa tahun terakhir ini saya lebih memilih menjadi penonton atas kesuksesan teman yang terjun di dunia bisnis, sebagian diantaranya berinvestasi saham dan saya menjadi saksi atas pertumbuhan kekayaannya yang signifikan.

Kekayaan bagi saya bukan soal kepemilikan, tapi soal pemanfaatan. Dalam hidup, saya memprioritaskan kepuasan emosional, kepuasan spiritual (batiniah), kepuasan intelektual dan kepuasan finansial berada di urutan terakhir.

Menjadi kaya adalah pilihan hidup, bukan tujuan. Karena itu, menurut saya investasi yang sebenarnya adalah bagaimana memanfaatkan kekayaan sebagai ladang amal bagi banyak orang.

Zakat, Infaq dan Shadaqah adalah juga cara berinvestasi, bukan hanya untuk kehidupan dunia tetapi juga untuk kehidupan akherat yang lebih baik.

Bermain saham berpotensi mendapatkan keuntungan dari capital gain dan dividen. Kerugiannya adalah kebalikanya, jika terjadi capital loss dan resiko likuidasi.

Selama ini, yang saya praktekkan dalam hidup adalah menanamkan saham pada banyak orang dan memberikan andil bagi karirnya serta kontribusi pemikiran atas masalahnya.

Dengan begitu, saya menerima balas jasa kebaikan dan kemurahan hati dari setiap orang yang saya kenal. Tak perlulah disebutkan konkritnya, yang jelas jangan sampai anda menyepelekan pertemanan.

Dari hubungan sosial itu, silaturahim terjaga, kitapun berpotensi mereguk nikmatnya ukhuwah, bertambahnya ilmu dan berberkahnya rezeki.

Jika kekayaan dipandang sebagai “kepemilikan”, justru yang banyak terjadi adalah persaingan, saling menjatuhkan, dan hilangnya persaudaraan.

Yang jadi ukuran adalah banyaknya aset dan harta yang dimiliki (atas namanya), bukan yang termanfaatkan (untuk orang banyak). Yang pertama, sifatnya personal, investasi dunia.

Yang keduanya, sifatnya sosial, investasi akherat. Akh, anda mungkin tidak mengerti yang saya maksudkan. Intinya, saya tidak ingin merusak persaudaraan dan pertemanan karena bermain saham atau karena harta.

Saham saya yang sebenarnya adalah saudara dan teman dimana-mana. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT