BerandaIslamRamadanPallu–pallu: Tradisi Sahur yang Mulai Terlupakan

Pallu–pallu: Tradisi Sahur yang Mulai Terlupakan

Oleh:  Etta Adil

Tulisan sebelumnya: Tadarrus Sastra

PALONTARAQ.ID – BULAN  suci Ramadhan adalah bulan kegembiraan, bukan saja karena di bulan ini Umat Islam digembirakan dengan banyaknya pahala jika ibadah dan amal kebaikan dilakukan, tetapi juga karena di bulan ini begitu banyak kegiatan berkumpul, di masjid dan di rumah.

Keluarga yang jauh biasanya pulang secara khusus (mudik) untuk merasakan nikmatnya berkumpul dengan keluarga selama Bulan Suci Ramadhan.

Salah satu saat paling seru dan menggembirakan tersebut adalah ketika menanti bedug Maghrib dan buka puasa bersama.

Begitu pula halnya ketika sahur. Sungguh luar biasa kegembiraan yang tercipta saat makan bersama dan menanti beduk Subuh berjamaah.

Biasanya pula dilanjutkan jalan subuh berjamaah usai shalat, suatu momen membahagiakan yang tidak atau jarang terjadi di luar Bulan Ramadan.

Makan Sahur. (foto: ist/palontaraq)
Ilustrasi. Makan Sahur. (foto: ist/palontaraq)

Bagi Anak-anak Makassar, saat jarum jam sudah menunjukkan Pukul 02.00 WITA dinihari, di berbagai masjid sangat akrab di telinga Suara-suara atau keriuhan membangunkan orang untuk sahur, bersahut-sahutan menyebut “Pallu-pallu”.

Pallu-pallu itu sendiri merupakan tradisi membangunkan orang sahur di kampung. Secara harfiah, Pallu-pallu sebenarnya berarti masak-masak, diucapkan setengah berteriak dengan maksud membangunkan orang yang akan berpuasa agar segera bangun untuk memasak.

Sahur dengan Telur Ceplok. (foto: ist/palontaraq)
Sahur dengan Telur Ceplok. (foto: ist/palontaraq)

Semasa kecil, seusia anak SMP, pengalaman membangunkan orang sahur untuk berpuasa selama Bulan Ramadhan adalah pengalaman yang sangat mengesankan dan tak terlupakan.

Berdasarkan kesepakatan dengan teman sebaya, anak remaja masjid di kampung biasanya tidak pulang lagi ke rumah usai Shalat Tarawih dan Witir, tetapi melanjutkannya dengan Tadarrus Al Qur’an.

Usai tadarrusan, penulis dan teman sebaya tidur di masjid dan nanti bangun saat jarum jam menunjukkan Pukul 02.00 WITA dinihari.

Di saat malam masih berselimut gelap dan dingin tersebut, kegiatan Pallu-pallu mulai kami laksanakan.

Biasanya kalau jumlah kami lagi banyak sekitar 10 orang, kelompok kami bagi dua. Ada lima orang yang tinggal di masjid bersahut-sahutan “Pallu-pallu” secara bergantian dengan menggunakan mic, sedang kelompok yang satunya lagi keluar masuk lorong keliling kampung juga bersahut-sahutan “Pallu-pallu”.

Pallu ... pallu ... sahur ... sahur .... (foto: ist/palontaraq)
Ilustrasi. Tradisi Ramadhan. Kegiatan membangunkan orang sahur. (foto: Blog ACT/ist)

Hanya bedanya kelompok yang diluar ini lebih ramai dan seru, bersahut-sahutannya sambil membunyikan peralatan masak seperti memukul pantat priuk, ember,piring, dan lain sebagainya.

Jika capek menyebut Pallu-pallu, kamipun melakukannya sambil bernyanyi, menyanyikan lagu apa saja, divariasikan dengan bunyi-bunyian dari peralatan masak. Asalkan riuh dan warga sekampung terbangun untuk sahur.

Orang sekampung sangat mengenal kami dan tentu karena kami dianggapnya sudah seperti anak sendiri.  Tak jarang ia meminta kami singgah untuk makan sahur bersama di rumahnya. Kegiatan membangunkan orang sahur ini banyak sekali suka dukanya.

Misalnya saat kami terlambat bangun.  Semua warga sekampung sudah bangun sahur,  kami tetap memaksakan diri untuk “Pallu-pallu” keluar masuk kampung. Kayaknya belum sah sahur tanpa sahutan “pallu-pallu.”

Terkadang ada juga warga kampung yang marah kalau kami terlambat membangunkannya.

Terkadang pula semua warga sekampung sudah terbangun dan kami masih saja teriak ‘Pallu – pallu’. Pengurus masjidpun ketika itu menegur kami dengan keras.

Pernah suatu waktu penulis dikerjai teman, kami hanya berdua dan telat bangun. Teman tersebut minta ijin keluar “pallu-pallu” seorang diri keliling kampung sedang penulis ketika itu, tanpa dijelaskanpun sudah mengerti bahwa harus berteriak “pallu-pallu” sendiri di dalam masjid.

Ilustrasi. Makan sahur bersama keluarga. (foto: ist/palontaraq)
Ilustrasi. Makan sahur bersama keluarga. (foto: ist/palontaraq)

Dengan penuh semangat,  penulis ketika itu setengah berteriak:

“Palluuuuuu ….. palluuuuu …… Palluu – palluu ……. Palluuuu ……

Massing ambangung ngasengmaki mae appalluuuuuuu …….. 

Narapimi wattunna appallu ……”.

Artinya:

“Masaaaak ….. masaaak ….. masak …………. masak ……

Hayo semuanya bangun sahur ….. bangun …. masak-masak …..

Sudah waktunya masak …. sahur- sahur….”.

Penulis terus berteriak. Berulangkali mengucapkannya dengan keras, bahkan memakai dua mic sekaligus, tanpa penulis sadari paman dari kampung sebelah sudah berdiri didepanku.

“Hey berhenti ….. Apa yang kamu lakukan, Nak?”

“Kamu bukan saja telah menganggu orang sekampung tetapi juga sudah mengganggu orang di kampung sebelah. Lihat itu sudah jam berapa?”, ujarnya marah seraya menunjuk jam dinding masjid.

Saat melihat jam dinding, waduh betapa malunya, tinggal beberapa menit imsak. Semua warga se-kampung sudah makan sahur dan tinggal menunggu waktu subuh dan teman yang katanya tadi keluar “Pallu-pallu” ternyata langsung pulang ke rumahnya untuk makan sahur.

Sesudah minta maaf kepada paman dan pengurus masjid lainnya yang mulai datang untuk shalat subuh,  penulis langsung berlari dengan kencang pulang ke rumah. Pikir penulis, semoga dapat satu dua sendok nasi dan segelas teh untuk makan sahur.

Ujian berat bagi penulis, pas sampai di rumah waktu imsak juga sudah tiba. Puasa hari itu penulis lalui tanpa makan sahur.

* * *

Kini, tradisi “Pallu-pallu” membangunkan orang sahur ini masih lestari, namun hanya pada permulaan puasa ada keliling kampung atau kota, memukul bedug sambil bersahut-sahutan “Pallu-pallu….”

Di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, yang tinggal hanya menyahutkannya di Masjid dan tidak lagi disertai kegiatan keliling kampung, malahan banyak yang sudah meninggalkannya.

Ilustrasi. Makan Sahur sendirian. (foto: ist/palontaraq)
Ilustrasi. Makan Sahur sendirian di Kawasan Kuliner Jalan Sabang, Jakarta. (foto: ist/palontaraq)

Ditinggalkannya tradisi “Pallu-pallu”, boleh jadi karena kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), khususnya telepon selular (ponsel).

Anak-anak tinggal menyetting alarm ponselnya pada jam bangun sahur dengan berbagai ringtone yang lebih manis kedengarannya.

Ketika berada di kampung, benar saja kegiatan keliling keluar masuk lorong di kampung untuk membangunkan orang sahur sudah tidak ada lagi.

Semua anak seusia SMP sudah memegang ponsel atau smartphone terbaru. Tak ada lagi suara bersahut-sahutan “Pallu-pallu”.

Mereka telah saling menelepon atau saling kirim pesan via sms dan japrian via whatsapp (WA) untuk saling membangunkan, bahkan banyak diantaranya yang bertahan main fesbukan atau bersosmed ria sampai Pukul 02.00 WITA dinihari.

Tak sedikit diantaranya main poker, mobile legend (e-sport), saling memberi chip atau saling men-tag gambar makanan sahur mereka via WA, Instagram, Telegram atau Line.

Kegiatan cerita dan tidur bersama di masjid seusai Shalat Tarawih dan Witir juga sudah tidak ada lagi.

Sungguh suatu kemajuan luar biasa telah dialami Anak-anak masa kini di kampung penulis, suatu kampung yang juga perlahan-lahan telah berbentuk sebuah daerah pinggiran yang modern. (*)

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT