BerandaGaya HidupKopi, Palluma’ra, dan Ngeblog: Merawat Ingatan dari Kesederhanaan Palontaraq

Kopi, Palluma’ra, dan Ngeblog: Merawat Ingatan dari Kesederhanaan Palontaraq

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Hari Ahad bagi seorang penulis tidak selalu berarti hari untuk berhenti bekerja. Bagi sebagian orang, Ahad adalah waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau menikmati pagi tanpa diburu agenda. Namun, bagi penulis, hari Ahad justru menjadi ruang pertemuan antara kesibukan ngeblog, aktivitas kuliah, dan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang memberi tenaga untuk terus berpikir. Di antara semuanya, ada satu hal yang kerap menentukan bagaimana pagi akan berjalan: ketersediaan kopi.

Sebelum pikiran berkelana ke berbagai tulisan, sebelum jari-jari mulai menari di atas tuts keyboard, dan sebelum bahan kuliah dibuka untuk dibaca serta direnungkan, ada kenikmatan sederhana yang lebih dahulu menyapa. Saya mengawali pagi dengan menyantap palluma’ra, masakan khas Bugis-Makassar yang menghadirkan keakraban rasa, lalu sejam setelahnya melengkapinya dengan secangkir kopi. Dari meja makan yang sederhana itulah hari Ahad sering kali menemukan iramanya sendiri.

Bagi penulis, kopi bukan sekadar minuman untuk mengusir kantuk. Ia adalah teman berpikir, penanda waktu, sekaligus bagian dari kebiasaan yang menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan pekerjaan intelektual. Sementara palluma’ra bukan sekadar hidangan pengisi perut. Ia membawa pikiran tentang dapur, keluarga, tradisi, dan kebudayaan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

Dua hal yang tampak sederhana ini, kopi dan masakan tradisional, sesungguhnya menyimpan pintu masuk untuk memahami hubungan antara kebiasaan pribadi, falsafah hidup, dan kerja merawat ingatan kolektif. Ketika ada tulisan yang belum selesai, gagasan yang belum menemukan bentuk, peristiwa yang perlu dicatat, dan bahan bacaan yang menuntut perhatian. Dunia blog juga memiliki ritmenya sendiri. Tulisan yang hari ini terasa selesai, esok mungkin perlu diperbaiki. Gagasan yang semula hanya berupa catatan kecil dapat berkembang menjadi esai panjang ketika bertemu dengan bacaan, pengalaman, dan perenungan baru.

Di sisi lain, kuliah menuntut kedisiplinan yang tidak kalah besar. Membaca bahan perkuliahan, memahami beragam referensi, mengutup pendapat ilmuwan, cendekiawan dan ulama, menyusun catatan, dan menghubungkan teori dengan kenyataan merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketekunan. Apalagi ketika perhatian akademik diarahkan pada Sejarah Peradaban Islam, setiap bacaan dapat membuka pertanyaan baru mengenai manusia, kekuasaan, kebudayaan, dan perjalanan zaman.

***

Secangkir kopi pada pagi hari seolah menjadi jeda kecil sebelum memasuki kesibukan yang lebih panjang. Aromanya menghadirkan suasana akrab, sedangkan tegukan pertamanya menjadi semacam tanda bahwa hari telah dimulai. Ada saat ketika kopi menemani membaca. Ada saat ketika ia berada di sisi laptop, sementara pikiran sibuk merangkai kalimat. Ada pula saat ketika berhenti sejenak, memandangi layar, lalu membiarkan gagasan tumbuh perlahan.

Tidak semua tulisan lahir dari ledakan inspirasi. Sebagian justru tumbuh melalui kebiasaan yang berulang. Menulis, membaca, menyunting, dan menulis kembali adalah pekerjaan yang memerlukan kesabaran. Kopi tidak serta-merta menghadirkan gagasan, tetapi ritual sederhana di sekelilingnya dapat menjadi ruang yang membantu saya menata perhatian.

Karena itu, ketersediaan kopi pada hari Ahad terasa lebih dari sekadar urusan dapur. Ia menjadi bagian dari persiapan mental untuk menjalani hari yang dipenuhi aktivitas. Jika kopi tersedia, pagi terasa memiliki teman. Jika tidak, mungkin kesibukan tetap berjalan, tetapi ada satu kebiasaan kecil yang terasa kehilangan tempatnya.

Begitulah kehidupan kadang ditopang oleh hal-hal yang tidak besar. Kita sering membayangkan produktivitas sebagai hasil dari fasilitas yang lengkap, jadwal yang sempurna, atau ruang kerja yang tertata. Padahal, produktivitas juga tumbuh dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten.

Pallumara Bolu. (foto: ist/*)
Pallumara Bolu. (foto: ist/*)

Palluma’ra: Kesederhanaan yang Menyimpan Ingatan Budaya

Sebelum kopi menemani pekerjaan intelektual, palluma’ra terlebih dahulu menghadirkan kenikmatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bugis-Makassar.

Dalam tradisi kuliner Sulawesi Selatan, masakan bukan semata-mata persoalan rasa. Ia juga menyimpan pengetahuan tentang bahan pangan, cara mengolah, kebiasaan keluarga, lingkungan alam, dan hubungan antargenerasi. Resep yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya merupakan salah satu cara kebudayaan bertahan, bahkan ketika tidak semuanya dituliskan dalam buku.

Palluma’ra, sebagaimana dikenal dalam tradisi kuliner Bugis-Makassar, mengingatkan kita bahwa makanan dapat menjadi penanda identitas. Nama, bahan, bumbu, dan cara penyajiannya membawa jejak pengetahuan lokal. Ia bukan hanya sesuatu yang disantap, melainkan bagian dari pengalaman hidup yang membentuk ingatan tentang rumah dan kampung halaman.

Kenikmatan masakan tradisional juga tidak selalu bergantung pada kemewahan. Ada kepuasan yang lahir dari racikan bumbu yang tepat, bahan yang sesuai, dan cara memasak yang diwariskan dengan penuh perhatian. Kesederhanaan tidak berarti kekurangan nilai. Justru dalam kesederhanaan, kita dapat menemukan ketelitian, kecermatan, dan pengetahuan yang terkumpul melalui pengalaman panjang.

Dalam membaca kebudayaan Bugis-Makassar, pemahaman terhadap masakan tradisional ini dapat ditempatkan dalam perspektif yang memandang tradisi lokal sebagai bagian penting dari ingatan masyarakat. Kuliner, bahasa, adat, naskah, dan kisah masa lampau bukanlah unsur yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari mozaik kebudayaan yang perlu dipahami, dirawat, dan diwariskan.

Palluma’ra dalam pengalaman citarasa yang melekat dan menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam upacara besar atau peristiwa monumental. Kebudayaan juga hidup di dapur, di meja makan, dalam percakapan keluarga, dan dalam kebiasaan yang mungkin tampak biasa bagi orang yang menjalaninya.

Ada pelajaran penting di sini: sesuatu yang akrab sering kali justru paling mudah kita abaikan. Kita menikmati makanan tradisional tanpa bertanya tentang sejarahnya. Kita mengucapkan istilah lokal tanpa menelusuri maknanya. Kita mewarisi kebiasaan keluarga tanpa menyadari bahwa di dalamnya tersimpan pengetahuan yang dibangun oleh generasi-generasi sebelumnya.

Padahal, apabila semua itu tidak dicatat dan tidak diwariskan, perlahan-lahan kita dapat kehilangan jejak yang menghubungkan kehidupan hari ini dengan pengalaman masa lampau.

Sejatinya, Kesederhanaan masakan tradisional dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai budaya yang mengajarkan pentingnya menjaga martabat, memelihara hubungan sosial, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Salah satu konsep yang dikenal luas adalah siri’ na pacce. Siri’ berkaitan dengan kehormatan, harga diri, dan kesadaran menjaga martabat, sedangkan pacce mengandung dimensi solidaritas, empati, dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Keduanya mengingatkan bahwa kehidupan yang bernilai bukan semata-mata ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan juga oleh bagaimana seseorang menjaga kehormatan dan memperlakukan sesamanya.

Nilai lain yang tidak kalah penting ialah sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge’: memanusiakan manusia, saling menghormati, dan saling mengingatkan. Ketiga nilai ini mengajarkan bahwa hubungan sosial perlu dibangun dengan penghargaan terhadap martabat setiap orang, bukan dengan kesombongan atau keinginan untuk menonjolkan diri.

Dalam konteks itu, menikmati palluma’ra dan kopi dalam keseharian dapat menjadi renungan kecil tentang arti kecukupan. Kita tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah untuk merasa bahagia. Ada kenikmatan dalam makanan yang akrab, ada ketenangan dalam secangkir kopi, dan ada kepuasan dalam pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Namun, kesederhanaan bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. Ia justru dapat menjadi dasar untuk bekerja tanpa kehilangan arah. Seseorang boleh memiliki cita-cita tinggi, menempuh pendidikan, menulis buku, mengembangkan media, dan mengejar pengetahuan, tanpa harus memutus hubungan dengan kehidupan sehari-hari yang membentuk dirinya.

Nilai-nilai budaya tersebut memperoleh makna ketika diterjemahkan ke dalam tindakan. Sipakainge’, misalnya, dapat menjadi pengingat bagi seorang penulis agar tidak menganggap tulisannya sebagai kebenaran yang tidak boleh dikritik. Tulisan harus terbuka terhadap koreksi. Sejarah perlu ditelaah dengan cermat. Tradisi harus dipahami dengan penghormatan, tetapi juga dengan kesediaan untuk memeriksa sumber dan konteksnya.

Begitu pula siri’ na pacce dapat menjadi landasan etis dalam menulis. Menjaga martabat berarti tidak sembarangan menyebarkan informasi yang merendahkan orang lain. Memiliki empati berarti memahami bahwa setiap peristiwa sejarah melibatkan manusia dengan pengalaman, penderitaan, harapan, dan pilihan yang kompleks.

Dengan demikian, falsafah budaya tidak berhenti sebagai ungkapan yang indah di bibir. Ia menemukan kehidupan ketika membimbing cara kita berpikir, bekerja, menulis, dan berhubungan dengan sesama.

Warkop jadi salah satu tempat pelarian, sebelum dan sesudah Ngeblog. (foto: ist/palontaraq)
Warkop jadi salah satu tempat pelarian, sebelum dan sesudah Ngeblog. (foto: ist/palontaraq)

Ngeblog sebagai Rutinitas Merawat Ingatan

Menulis di Media Web Blog (Ngeblog) bukan sekadar kegiatan mengisi halaman internet dengan tulisan. Ia telah menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dilepaskan. Ada dorongan untuk mencatat peristiwa, menyusun gagasan, menanggapi persoalan kebudayaan, dan membagikan pengetahuan kepada pembaca.

Dunia bergerak terlalu cepat apabila kita hanya mengandalkan ingatan. Peristiwa yang hari ini ramai dibicarakan dapat segera tenggelam oleh berita berikutnya. Tradisi yang selama bertahun-tahun hidup di tengah masyarakat dapat perlahan memudar ketika generasi muda tidak lagi mengenalnya. Pemikiran seseorang mungkin terlupakan apabila tidak pernah dituangkan dalam tulisan.

Di sinilah blog memperoleh arti penting, sebagai penyedia ruang bagi gagasan untuk bertahan melampaui waktu ketika gagasan itu pertama kali muncul. Tulisan yang dibuat di sela-sela kesibukan kuliah dan ditemani kopi, mungkin dibaca kembali beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian. Ia dapat menjadi catatan tentang apa yang pernah dipikirkan, diperjuangkan, dan dipahami pada suatu masa.

Dalam konteks kebudayaan, blog juga dapat menjadi ruang dokumentasi. Cerita tentang makanan tradisional, permainan rakyat, bahasa daerah, tokoh lokal, naskah kuno, hingga perubahan sosial dapat dihimpun dan diperkenalkan kepada pembaca yang lebih luas. Teknologi digital memberi kesempatan bagi pengetahuan lokal untuk melampaui batas kampung, daerah, bahkan negara.

Tentu, ngeblog tidak otomatis menjadikan setiap tulisan sebagai dokumen sejarah yang dapat dipercaya. Tulisan tetap memerlukan ketelitian, rujukan yang jelas, pemeriksaan fakta, dan kesediaan membedakan pengalaman pribadi dari informasi yang telah terverifikasi. Tetapi ketika dikelola dengan kesadaran tersebut, blog dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenali sejarah dan kebudayaan.

Bagi seorang penulis, rutinitas menulis merupakan latihan untuk terus memperhatikan dunia. Menulis membuat kita belajar melihat sesuatu yang sering dilewati orang lain. Ia mengajarkan bahwa peristiwa kecil pun dapat memiliki makna ketika diletakkan dalam konteks yang tepat.

Palluma’ra yang tersaji di meja makan, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan pengetahuan kuliner. Kopi yang menemani pagi dapat mengantarkan kita pada pembahasan tentang kebiasaan, pergaulan, dan perubahan sosial. Keseharian yang dipenuhi kegiatan kuliah dapat menjadi refleksi mengenai hubungan antara pendidikan, pengalaman, dan tanggung jawab intelektual.

Dengan menulis, pengalaman pribadi tidak harus berhenti sebagai milik pribadi. Ia dapat diolah menjadi pengetahuan yang berguna bagi orang lain. Dalam semangat itulah Palontaraq menemukan relevansinya. Palontaraq bukan hanya sebutan atau identitas yang melekat pada seorang pemerhati budaya dan penulis sejarah Sulawesi Selatan. Ia juga dapat dipahami sebagai lambang ikhtiar untuk membaca, menafsirkan, dan mencatat perjalanan kebudayaan.

Palontaraq: Pencatat Sejarah dan Peradaban

Sejarah tidak hanya terbentuk oleh perang, pergantian kekuasaan, perjanjian politik, atau berdirinya kerajaan. Sejarah juga bergerak melalui kehidupan masyarakat biasa: petani yang mengolah sawah, nelayan yang melaut, ibu yang mempertahankan resep keluarga, guru yang mengajarkan pengetahuan, dan penulis yang menyimpan cerita tentang zamannya.

Peradaban yang kita kenal hari ini merupakan hasil dari proses panjang. Di dalamnya terdapat warisan yang dipelihara, gagasan yang diperdebatkan, kebiasaan yang berubah, dan pengalaman yang diwariskan. Tanpa upaya mencatat dan menafsirkan semuanya, sebagian besar jejak itu berisiko hilang atau hanya tersisa dalam ingatan yang semakin terbatas.

Palontaraq, dalam pengertian tersebut, mengemban pekerjaan yang tidak sederhana. Ia harus berusaha menghadirkan masa lalu tanpa melepaskannya dari bukti, memahami tradisi tanpa terjebak dalam romantisme, serta membaca perubahan zaman tanpa meremehkan akar kebudayaan.

Mencatat peradaban bukan berarti menganggap semua yang diwariskan masa lampau harus diterima tanpa pertanyaan. Sebaliknya, pekerjaan kebudayaan membutuhkan keberanian untuk meneliti, membandingkan sumber, mengakui ketidakpastian, dan membedakan fakta sejarah dari cerita yang berkembang di masyarakat. Tradisi patut dihormati, tetapi penghormatan yang mendalam juga menuntut pemahaman yang bertanggung jawab.

Karena itu, kesibukan ngeblog dan keseharian kuliah bukan dua kegiatan yang terpisah dari identitas sebagai penulis. Kuliah menyediakan ruang untuk memperdalam pengetahuan dan menguji gagasan, sementara ngeblog memberikan ruang untuk membagikan hasil pembacaan, refleksi, dan pengamatan. Keduanya saling mengisi.

Penulis menyadari bahwa tidak semua tulisan akan mengubah dunia. Tidak semua catatan akan dibaca banyak orang. Namun, pekerjaan mencatat tetap memiliki nilai karena kita tidak pernah sepenuhnya mengetahui tulisan mana yang kelak akan menjadi rujukan, membuka percakapan baru, atau membantu seseorang memahami warisan budayanya.

Terkadang, sebuah tulisan dimulai dari pertanyaan sederhana. Terkadang pula, ia berangkat dari pengalaman yang nyaris tidak dianggap penting. Yang diperlukan adalah kemauan untuk memperhatikan dan ketekunan untuk mengolahnya menjadi catatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

***

Pada akhirnya, aktivitas harian penulis mungkin tetap berputar di sekitar hal-hal yang tampak biasa: memastikan kopi tersedia, menikmati palluma’ra, membuka laptop, membaca bahan kuliah, dan menyelesaikan tulisan yang tertunda. Tidak ada kemegahan khusus dalam rutinitas semacam itu. Namun, justru di sanalah penulis menemukan kesinambungan antara kehidupan pribadi, pendidikan, dan kerja kebudayaan.

Palluma’ra mengingatkan pada kekayaan pengetahuan yang tersimpan dalam tradisi kuliner. Kopi mengajarkan arti jeda dan kesetiaan pada kebiasaan kecil. Kuliah mengajak penulis untuk memperluas cakrawala pemikiran, sedangkan ngeblog menjadi ruang untuk menata dan membagikan pengetahuan.

Semua itu bertemu dalam satu kesadaran: peradaban tidak hanya dirawat melalui pekerjaan besar, tetapi juga melalui tindakan sederhana yang dilakukan terus-menerus. Seperti masyarakat yang mewariskan resep dari satu generasi kepada generasi berikutnya, seorang penulis mewariskan pemikiran melalui kata-kata. Seperti itu pula secangkir kopi yang menemani pagi, sebuah tulisan mungkin hadir dalam kesederhanaan, tetapi dapat meninggalkan kesan yang bertahan lama.

Dan seperti Palontaraq yang berusaha mencatat jalannya sejarah dan peradaban, saya ingin menjadikan kegiatan menulis sebagai bentuk kesetiaan terhadap ingatan, pengetahuan, dan kebudayaan. Maka, selama kopi masih tersedia, palluma’ra masih menghadirkan kenikmatan khas kampung halaman, dan pikiran masih memiliki sesuatu untuk direnungkan, rutinitas itu akan terus berjalan. Laptop akan kembali terbuka. Buku-buku akan kembali dibaca. Tulisan-tulisan akan kembali disusun.

Sebab bagi seorang penulis, menulis bukan semata-mata pekerjaan yang dilakukan ketika ada waktu luang. Menulis adalah cara merawat perhatian terhadap dunia. Dan bagi Palontaraq, setiap perhatian yang dituangkan menjadi catatan merupakan bagian kecil dari ikhtiar menjaga agar sejarah tidak terputus, kebudayaan tidak kehilangan jejak, dan peradaban tetap memiliki cerita untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Barangkali, pada suatu hari nanti, seseorang akan membaca tulisan ini sambil menikmati kopi dan menyantap makanan tradisional dari daerahnya sendiri. Ia mungkin tidak mengenal kesibukan seperti yang penulis jalani, tetapi ia dapat menemukan sesuatu yang akrab di dalamnya: bahwa kebudayaan sering kali bertahan melalui kebiasaan sederhana, dan bahwa peradaban terus bergerak karena selalu ada orang yang bersedia mencatatnya. Salamakki Tapada’ Salama’. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Penikmat Kopi dan Pallumara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT