Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Autum in Paris: Une tasse de Café sur le mur
PALONTARAQ.ID – Hubungan antara Sulawesi Selatan dan Perancis mungkin terdengar sebagai sesuatu yang jauh dan tidak biasa pada pandangan pertama. Namun, jika ditelusuri lebih dalam melalui lorong waktu, hubungan ini memiliki akar sejarah yang kuat—mulai dari kisah kepahlawanan bangsawan Bugis-Makassar di istana Raja Louis XIV pada Abad ke-17 hingga kerja sama kebudayaan, pendidikan, dan modernisasi di era kontemporer saat ini.
Jejak pertama hubungan antara Makassar dan Paris bermula dari sebuah kisah pelayaran dan intrik politik di Asia Tenggara yang berujung di daratan Eropa. Pada paruh kedua abad ke-17, sekelompok perantau dan pejuang maritim Makassar di bawah pimpinan Daeng Mangalle menetap di Kerajaan Siam (Thailand). Karena dinamika politik dan konflik kekuasaan di Siam, terjadi pertempuran sengit antara pasukan Makassar melawan aliansi lokal dan kekuatan asing. Daeng Mangalle gugur dalam pertempuran tersebut.
Dua anak lelaki Daeng Mangalle yang selamat, yaitu Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, kemudian dibawa oleh pejabat Perancis yang menjadi sekutu di Siam. Mereka diberangkatkan ke Prancis dan tiba di Paris pada 10 September 1687. Raja Perancis, Louis XIV (sang Raja Matahari), menyambut kedua remaja bangsawan Gowa-Tallo ini dengan penuh perhatian. Mereka diberi tempat tinggal, disekolahkan di kolese Jesuit elit Louis-le-Grand di Paris, dan dibaptis dengan nama baru: Daeng Ruru menjadi Louis Pierre Makassar, dan Daeng Tulolo menjadi Louis Dauphin Makassar.
Keduanya kemudian menempuh pendidikan di akademi angkatan laut paling bergengsi di Brest. Louis Pierre meniti karier militer yang cemerlang dan menjadi perwira angkatan laut Kerajaan Prancis yang disegani sebelum akhirnya gugur dalam tugas. Kisah ini menjadi catatan historis yang unik tentang bagaimana darah kesatria Bugis-Makassar pernah terukir dalam sejarah kemiliteran Prancis abad ke-17.
***
Memasuki era modern, hubungan Sulawesi Selatan dan Paris bertransformasi dari hubungan personal kaum bangsawan menjadi jembatan diplomasi kultural dan intelektual yang erat. Mahakarya sastra terpanjang di dunia asal Sulawesi Selatan, Sureq La Galigo, telah mendunia berkat kerja sama seniman internasional, termasuk pementasan teater kolosal I La Galigo yang disutradarai oleh Robert Wilson.
Pertunjukan mahakarya ini pernah dipentaskan di berbagai panggung budaya bergengsi dunia, membawa nama warisan budaya Bugis memukau publik seni di Eropa, termasuk di Paris, Perancis.
Di kekinian, Paris, sebagai salah satu pusat intelektual Eropa, menjadi salah satu destinasi studi impian bagi pelajar dan akademisi asal Sulawesi Selatan. Melalui berbagai beasiswa riset dan kerja sama bilateral Indonesia-Prancis, banyak peneliti dari universitas di Makassar (seperti Universitas Hasanuddin) yang mendalami ilmu pengetahuan, arsitektur, hingga kajian sosial-humaniora di institusi-institusi tinggi di Prancis.
Di era modernisasi digital saat ini, pesona alam dan kebudayaan Sulawesi Selatan—seperti lanskap karst Rammang-Rammang, tradisi pembuatan Kapal Phinisi, hingga kekayaan kuliner lokal—semakin dikenal oleh para pelancong asal Prancis yang berkunjung ke Indonesia.
Jadi, hubungan antara Sulawesi Selatan dan Paris, Prancis, membuktikan bahwa jarak geografis ribuan kilometer tidak menjadi halangan bagi kedua wilayah untuk saling terhubung. Jika di masa lalu hubungan tersebut diwarnai oleh kisah pelayaran dramatis dan pengabdian para pangeran Makassar di bawah naungan Raja Louis XIV, maka di era modern ini, hubungan tersebut berlanjut melalui pertukaran seni, warisan budaya dunia, dan jejaring pendidikan yang mempererat persahabatan kedua bangsa. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pegiat Seni Budaya antar Bangsa, Performing Arts Scriptwriter, Cultural Researcher


