Autum in Paris: Une tasse de Café sur le mur

Salah satu Coffe Shop, Warung Kopi di salah satu sudut kota Paris, France. (foto: ist/palontaraq)

Salah satu Coffe Shop, Warung Kopi di salah satu sudut kota Paris, France. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Etta Adil

Related Post:  Menikmati “Kotor” di Rantepao dan Cerita Kopi Toraja di Jepang

PALONTARAQ.ID – Cerita ini dari seorang teman, seorang traveler yang pernah mengunjungi Kota Paris, Perancis, saat musim semi (Autum in Paris), tentang kehangatan berbagi secangkir kopi tanpa harus tahu siapa yang telah mengtraktirnya, tentang secangkir kopi yang nikmat yang ‘ditaruh’ begitu saja di dinding Cafe’.

Dalam bahasa Perancis, “Une taste de Cafe sur le mur,” secangkir kopi di dinding, ini memang salah satu cara berbagi yang unik. Mereka yang menakar dirinya mempunyai kelebihan uang dan mampu mengtraktir secangkir atau lebih kopi, dapat menaruh pesanan traktiran kopinya tersebut di dinding cafe, dalam bentuk secarik kertas, tanda bahwa kopi itu telah dibayarkan. Secarik kertas itu dapat dicabut jika sudah ada yang menikmati pesanan kopi yang sudah dibayar tersebut.

Teman ini menceritakan tentang keunikan penikmat kopi di sebuah kafe terkenal di sekitar Menara Eiffel Paris, France, Perancis. Ketika seorang pria paruh baya masuk dan duduk di salah satu meja kosong.  Ia memanggil pramusaji dan memesan dua cangkir kopi.  “Une tasse de Café sur le mur,” ujarnya.

Teman ini heran mendengar kalimat tersebut, terlebih lagi saat sang pengunjung cafe’ tersebut hanya disuguhi secangkir kopi, namun “membayar” untuk dua cangkir kopi.  Segera setelah sang pengunjung cafe’ tersebut pergi, si pramusaji cafe’ menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan “un verre de café” di dinding kafe.

Suasana cafe kembali hening. Tak lama kemudian, masuklah dua orang pria.  Kedua pria pengunjung Cafe’ tersebut pesan 3 cangkir kopi. Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding.  Mereka pun “membayar tiga cangkir kopi” sebelum pergi. Lagi-lagi setelah itu pramusaji melakukan hal yang sama, menempelkan kertas bertulis “un verre de café” (Segelas Kopi) di dinding.

coutume_coffee_shop_paris

Coutume coffee shop in Paris. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Daya Tarik Cafe’, dari Selfie hingga galang Empati

Pemandangan aneh di Cafe sore hari itu membuat teman yang traveler dari Indonesia ini heran.  Di benaknya tersimpan pertanyaan apa alasan para pengunjung Cafe’ itu ‘menaruh’ secangkir kopi di dinding dalam bentuk secarik kertas (layaknya nota) yang sudah dibayar.  Meski begitu, teman yang traveler ini  tidak berani mengajukan pertanyaan, apa yang dimaksud dengan “Secangkir kopi” yang ditempelkan di dinding cafe’ tersebut.

Di saat masih tersisa keheranannya tersebut, Traveler dari Indonesia ini melihat lagi, seorang lelaki tua masuk ke dalam Cafe’. Pakaiannya kumal dan lusuh. Setelah duduk ia melihat ke dinding dan berkata kepada pramusaji Cafe’,  “Satu cangkir kopi dari dinding.”

Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, lelaki tua tadi lantas pergi tanpa membayar.  Tampak si pramusaji menarik satu lembar kertas dari dinding tersebut, lalu membuangnya ke tempat sampah. Kini pertanyaan sang teman itu “terjawab sudah”.

Ternyata seperti itu penikmat kopi di Paris saling mengtraktir.  Seperti itu rupanya cara penduduk kota ini menolong sesamanya yang kurang beruntung, dengan “tetap menaruh respek” kepada orang yang ditolongnya.  Mereka yang kurang beruntung tetap bisa menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri mereka mengemis secangkir kopi, sebagai penghangat badan di musim semi.

Bahkan mereka pun “tidak perlu tahu” siapa yang telah “mentraktirnya”. Suatu tatanan hidup bermasyarakat yang amat menyentuh dan mengharukan. “Secangkir kopi di dinding” adalah wujud cinta tulus.  Jadi, tidak penting seberapa banyak kita sudah memberi, yang lebih penting adalah bagaimana cara kita memberi.

Selamat Ngopi. Bonjour! (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response