BerandaCerpenPutu Cangkiri’ dari Lempangan

Putu Cangkiri’ dari Lempangan

Oleh: Etta Adil *)

Related Post: Mengenang Masa Kanak dengan Putu Cangkiri’

PALONTARAQ.ID – Ada makanan yang kita kenang karena rasanya. Ada pula makanan yang kita kenang karena seseorang. Tetapi ada makanan yang, sekali kita mencicipinya kembali setelah puluhan tahun berlalu, tiba-tiba membawa kita pulang—bukan hanya ke sebuah tempat, melainkan kepada sebuah masa yang tidak mungkin lagi kita datangi. Bagi saya, salah satunya adalah Putu Cangkiri’.

Kue kecil berbentuk seperti bagian bawah cangkir yang diletakkan terbalik itu mungkin tidak istimewa bagi sebagian orang. Bahannya sederhana: tepung beras ketan, gula merah, kelapa parut, sedikit garam, pandan, dan bahan-bahan lain yang mudah ditemukan di dapur kampung.

Harganya pun dahulu tidak membuat orang berpikir panjang untuk membelinya. Namun bagi saya, Putu Cangkiri’ adalah sesuatu yang jauh lebih mahal daripada harganya.

Ia adalah rasa yang tersimpan di masa kanak-kanak.

Ia adalah bau dapur yang masih saya ingat.

Ia adalah suara ibu. Ia adalah suara tetangga dan kerabat

Ia adalah wajah ayah.

Ia adalah Lempangan.

Dan ia adalah cerita tentang sebuah keluarga guru yang hidup dengan penghasilan yang jauh dari cukup, tetapi berusaha menjaga satu hal yang tidak boleh pernah habis: harga diri.

Saya masih kecil ketika keluarga kami tinggal di Kampung Lempangan, Pangkajene, Pangkep. Waktu itu kehidupan kami jauh dari kata berlebihan. Ayah adalah seorang guru. Sebagai seorang guru, ia memiliki pengetahuan dan kehormatan, tetapi penghasilan tidak selalu mampu mengikuti kebutuhan rumah tangga.

Saya baru memahami makna kalimat itu jauh setelah dewasa. Ketika kecil, yang saya tahu hanya satu: tidak semua keinginan bisa dipenuhi.

Ada hari-hari ketika uang belanja harus dihitung dengan teliti. Ada kebutuhan yang harus didahulukan, ada keinginan yang harus ditunda. Sepatu yang masih bisa dipakai tidak boleh buru-buru diganti. Baju yang masih layak akan terus disimpan. Dan makanan di meja harus disyukuri, betapapun sederhananya.

Tetapi rumah kami tidak pernah terasa miskin. Aneh, bukan?

Sekarang saya mengerti.

Kemiskinan tidak selalu ditentukan oleh sedikitnya harta. Kadang-kadang, kemiskinan justru terasa ketika manusia kehilangan harapan, kehilangan kasih sayang, atau kehilangan harga diri.

Ayah mengajarkan kepada kami sesuatu yang tidak pernah ia sampaikan melalui ceramah panjang.

Ia mengajarkannya melalui kehidupan.

Seorang guru boleh hidup sederhana, tetapi tidak boleh kehilangan martabat.

Boleh tidak punya banyak uang, tetapi jangan kehilangan kejujuran.

Boleh menghadapi kesulitan, tetapi jangan berhenti berusaha.

Dalam bahasa Bugis, mungkin inilah yang kemudian saya pahami sebagai reso—kerja keras, ikhtiar yang tidak boleh berhenti.

Resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata.

Hanya dengan kerja keras yang tidak mengenal lelah, jalan menuju rahmat Tuhan terbuka.

Saya belum mengerti kalimat itu ketika masih kecil.

Tetapi saya telah melihatnya hidup di dalam diri ayah.

***

Pagi-pagi sekali, sebelum berangkat mengajar, ayah sudah bangun.

Kadang suara batuknya terdengar dari kamar. Kadang suara air mengalir dari kamar mandi. Kemudian suara pintu dibuka dan ditutup.

Hari dimulai. Seragam guru dikenakan dengan rapi.

Buku-buku dimasukkan ke dalam tas.

Lalu ayah berangkat.

Bagi kami, ia hanya pergi mengajar.

Tetapi sekarang, setelah saya sendiri menjalani kehidupan sebagai guru, saya memahami bahwa setiap keberangkatan seorang guru menuju sekolah sesungguhnya adalah perjalanan membawa harapan orang lain.

Ayah mengajar anak-anak orang lain dengan segala keterbatasannya sendiri.

Dan mungkin, di situlah saya pertama kali belajar bahwa menjadi guru bukan hanya pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan.

Ada pengabdian di dalamnya. Ada amanah. Ada harga diri.

Ada taro ada taro gau’—apa yang diucapkan harus diwujudkan dalam tindakan.

Sore hari adalah waktu yang berbeda.

Suasana Kampung Lempangan mulai berubah. Anak-anak keluar rumah. Ada yang bermain kejar-kejaran, ada yang bermain bola, ada yang bersepeda, ada yang sekadar duduk bercakap-cakap.

Kami belum mengenal telepon genggam. Belum ada internet. Belum ada media sosial.

Dunia kami tidak lebih luas daripada kampung, sekolah, pasar, sungai, jalan, rumah tetangga, dan wajah-wajah yang setiap hari kami temui.

Tetapi anehnya, masa itu terasa sangat luas.

Kami memiliki waktu.

Dan waktu itu kami isi dengan bermain.

Sesekali, dari kejauhan, tercium aroma yang sangat khas.

Aroma kelapa. Aroma gula merah. Aroma pandan.

Dan entah mengapa, hidung seorang anak selalu lebih cepat mengenali aroma makanan daripada orang dewasa.

“Putu Cangkiri’!”

Begitulah kira-kira kegembiraan kami.

Penjualnya mungkin lewat dengan keranjang sederhana. Tidak ada kemasan mewah. Tidak ada merek. Tidak ada papan reklame.

Hanya kue-kue kecil yang tersusun rapi.

Bentuknya seperti bagian bawah cangkir yang dibalik.

Cangkiri’.

Dalam bahasa Makassar, cangkir menjadi cangkiri’. Sementara putu merujuk pada panganan berbahan beras ketan.

Nama itu sendiri sederhana.

Tetapi dari bentuk sederhana itulah sebuah kenangan bertahan puluhan tahun.

Saya masih ingat bagaimana rasanya menunggu.

Bukan menunggu sesuatu yang besar.

Hanya menunggu beberapa keping Putu Cangkiri’.

Kadang saya mendapatkannya.

Kadang tidak.

Jika ada uang lebih, mungkin ibu membelikan beberapa.

Jika tidak, kami cukup melihat teman yang membeli dan menelan ludah diam-diam.

Tetapi anehnya, rasa ingin memiliki itu tidak pernah berubah menjadi iri hati.

Mungkin karena sejak kecil kami diajarkan untuk memahami keadaan.

Ada istilah Bugis yang kemudian saya pahami ketika dewasa: pesse.

Dalam tradisi Makassar, ada pula istilah pacce.

Keduanya berbicara tentang rasa ikut merasakan penderitaan orang lain, tentang solidaritas, tentang hati yang tidak tega membiarkan orang lain sendirian menghadapi kesusahan.

Barangkali kami tidak mengenal istilah itu ketika kanak-kanak.

Tetapi kami mempraktikkannya.

Jika seorang teman membeli Putu Cangkiri’ lebih banyak, ia akan berbagi.

Jika seseorang tidak punya uang untuk membeli, kami akan membaginya.

Kue itu kecil.

Tetapi ketika dibagi, ia terasa lebih besar.

Begitulah anak-anak belajar tentang kemanusiaan tanpa buku pelajaran.

Putu Cangkiri’ dibuat dengan cara yang sederhana.

Adonan tepung disiapkan.

Gula merah menjadi pemanis.

Kelapa memberikan rasa gurih.

Pandan menghadirkan aroma.

Adonan dimasukkan ke dalam cetakan kecil berbentuk cangkir.

Tidak penuh sekaligus.

Sedikit demi sedikit. Adonan. Kelapa.

Adonan lagi.

Kemudian ditekan agar padat.

Setelah itu dikukus. Sekilas, prosesnya biasa saja.

Tetapi jika direnungkan, Putu Cangkiri’ seperti mengajarkan satu filosofi kehidupan: sesuatu yang baik membutuhkan proses.

Ia tidak bisa langsung matang. Ia harus melalui panas.

Harus menunggu. Harus bersabar.

Dan setelah matang, barulah ia dapat dinikmati.

Bukankah hidup manusia juga demikian?

Kita dibentuk oleh tekanan, kesabaran, pengalaman, kegagalan, dan waktu.

Anak-anak harus tumbuh menjadi dewasa.

Seorang murid harus belajar sebelum menjadi berilmu.

Seorang guru harus terus belajar agar tidak berhenti menjadi guru.

Dan sebuah keluarga harus melewati berbagai kesulitan sebelum memahami arti keteguhan.

Kini saya telah dewasa.

Saya sendiri menjalani kehidupan sebagai seorang guru.

Setiap hari berhadapan dengan murid-murid.

Ribuan kata harus saya ucapkan.

Ribuan pertanyaan harus saya jawab.

Kadang saya merasa lelah. Kadang pikiran penuh.

Kadang setelah berjam-jam mengajar, saya membutuhkan sesuatu yang sederhana untuk mengembalikan ketenangan.

Dalam keadaan seperti itu, sesekali saya teringat Lempangan.

Saya teringat ayah. Saya teringat ibu. Dan saya teringat Putu Cangkiri’.

Betapa lucunya hidup.

Dahulu saya menikmati Putu Cangkiri’ karena lapar.

Sekarang saya mengenangnya karena rindu.

Dahulu saya memakannya karena ingin menikmati rasa manis gula merah dan gurih kelapa.

Sekarang saya menikmatinya karena di dalam rasa itu tersimpan rumah.

Tersimpan masa kecil.

Tersimpan wajah orang-orang yang mungkin sebagian telah tiada.

Suatu hari, setelah lama tidak bertemu dengan kue itu, saya kembali mendapatinya.

Saya membelinya.

Saya memegangnya beberapa saat sebelum memakannya.

Bentuknya masih sama.

Kecil.

Sederhana.

Tidak banyak berubah.

Saya tersenyum.

Ternyata waktu boleh berjalan jauh, tetapi kenangan tidak selalu ikut pergi.

Saya menggigitnya perlahan.

Manis gula merah itu kembali hadir.

Kelapa parutnya masih terasa.

Aroma pandan membawa saya kembali ke Lempangan.

Dan tiba-tiba saya seperti melihat seorang anak kecil berlari di jalan kampung.

Anak itu belum tahu apa-apa tentang kehidupan.

Belum mengerti sulitnya menjadi guru.

Belum memahami bagaimana sebuah keluarga bertahan dengan penghasilan yang terbatas.

Belum memahami arti siri’. Belum memahami pesse. Belum mengenal reso.

Tetapi anak itu telah belajar semuanya melalui kehidupan.

Ia belajar bahwa kesederhanaan tidak harus memalukan.

Ia belajar bahwa sedikit tidak berarti kurang.

Ia belajar bahwa berbagi membuat sesuatu yang kecil menjadi berarti.

Dan ia belajar bahwa keluarga adalah tempat pertama manusia mengenal keteguhan.

Sekarang, setiap kali saya menikmati Putu Cangkiri’, saya tidak lagi melihatnya sebagai sekadar kue tradisional Bugis-Makassar.

Saya melihat sebuah cangkir kecil yang menyimpan sejarah pribadi.

Di dalamnya ada ayah seorang guru.

Ada ibu yang menjaga rumah. Ada anak-anak yang belajar memahami keterbatasan. Ada Kampung Lempangan.

Ada teman-teman sepermainan. Ada sore yang panjang. Ada tawa. Ada lapar. Ada berbagi. Dan ada kehidupan.

Barangkali itulah sebabnya makanan tradisional tidak pernah benar-benar hanya tentang makanan. Ia adalah arsip kebudayaan. Ia menyimpan cara manusia bertahan. Ia menyimpan pengetahuan keluarga. Ia menyimpan selera suatu generasi.

Dan yang paling penting, ia menyimpan ingatan. Putu Cangkiri’ mengajarkan kepada saya bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang megah.

Kadang kebudayaan justru tumbuh dari dapur-dapur kecil.

Dari tangan ibu. Dari resep yang diwariskan. Dari kue yang dijual dengan harga sederhana.

Dari percakapan di beranda rumah. Dari anak-anak yang berlarian di jalan kampung.

Dan dari keluarga yang mungkin secara ekonomi serba terbatas, tetapi kaya akan nilai.

Hari ini, jika saya berkesempatan menikmati Putu Cangkiri’ bersama secangkir kopi, saya tidak sekadar sedang menikmati makanan.

Saya sedang melakukan perjalanan pulang.

Pulang ke Lempangan. Pulang kepada masa kanak-kanak.

Pulang kepada nilai-nilai yang pernah ditanamkan tanpa banyak kata.

Dan mungkin, pada akhirnya, pulang kepada diri sendiri.

Sebab kita semua, sejauh apa pun perjalanan hidup membawa kita, sesungguhnya membawa sesuatu dari masa kecil.

Saya membawa Lempangan. Saya membawa suara ayah. Saya membawa ketabahan ibu. Dan saya membawa rasa Putu Cangkiri’.

Kecil bentuknya. Sederhana bahannya. Tidak mahal harganya. Tetapi begitu besar maknanya.

Kini saya mengerti: yang membuat Putu Cangkiri’ istimewa bukanlah gula merah, kelapa, atau tepung ketannya. Yang membuatnya istimewa adalah kenangan yang dititipkan manusia ke dalamnya.

Dan selama kenangan itu masih hidup, Putu Cangkiri’ tidak pernah benar-benar habis. Ia akan selalu kembali—dalam aroma, dalam rasa, dalam cerita, dan dalam hati seorang anak yang pernah tumbuh di Lempangan. Putu Cangkiri’: kecil di tangan, sederhana di lidah, tetapi panjang jalannya menuju kenangan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT