Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Mengapa Memilih Magister Sejarah Peradaban Islam di UIN Alauddin Makassar?
PALONTARAQ.ID – Lampu belajar LED Model Nordic WoodenArt di meja kerja Etta masih menyala, meski jarum jam sudah melewati angka dua dini hari. Di hadapannya, tumpukan manuskrip tua dan draf buku sejarah daerah berserakan. Etta menghela napas panjang, mengingat selentingan obrolan para guru sore tadi.
“Etta itu cari gelar apa lagi? Sudah jadi penulis, sudah sering dipanggil Pemda buat tulis buku sejarah kabupaten, pembicara di berbagai kegiatan seminar, sudah mengajar di pesantren juga, sudah Magister Manajemen Sumber Daya Manusia. Mau gaya-gayaan pakai gelar Magister Humaniora lagi?”
Kalimat itu berdenyut di kepalanya. Mereka tidak mengerti. Bagi dunia luar, Etta adalah “Sejarawan Daerah”. Namanya terukir di sampul Buku-buku sejarah lokal yang diterbitkan pemerintah. Namun, di dalam hatinya, ada lubang besar yang disebut beban moral.
Malam itu, keraguan Etta luruh sepenuhnya. Kuliah S2 Non-Reguler bukan sekadar pilihan praktis untuk tetap bisa menulis blog atau mengajar, melainkan sebuah “ruang sakral” untuk memvalidasi pemahaman sejarah yang sudah terbenam dalam kepalanya.
***
Setiap hari pada jam mengajar malam, Etta berdiri di depan santri-santrinya di Pondok Pesantren, mengampu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Ia mencintai pekerjaannya. Namun, ada kecemasan yang selalu menghantuinya: ia mengajar sejarah dan menulis narasi masa lalu tanpa memiliki ijazah linear di bidang tersebut. S1-nya bukanlah sejarah.
Ia merasa seperti seorang arsitek yang membangun gedung megah hanya berdasarkan otodidak, tanpa pernah memegang cetak biru yang sah secara akademis. Ia butuh metodologi, ia butuh sanad keilmuan yang jelas agar apa yang ia tuliskan tentang peradaban Islam tidak hanya menjadi dongeng, tapi menjadi kebenaran yang teruji.
Itulah mengapa ia memilih S2 Dirasah Islamiyah Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam di UIN Alauddin Makassar. Mengapa Harus Non-Reguler? Pilihan jatuh pada kelas Non-Reguler bukan tanpa alasan yang matang. Hidup Etta bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ada pengabdian di pesantren yang tak bisa ia tinggalkan. Ada hobi menulis di blog yang menjadi saluran idealismenya, dan ada proyek-proyek literasi yang tetap harus berjalan untuk menyambung hidup.
“Kalau saya ambil reguler, siapa yang akan mengisi kelas SKI di pondok? Bagaimana saya membagi waktu dengan kegiatan produktif lainnya? Siapa yang akan melanjutkan tulisan tentang sejarah lokal Pangkep yang hampir tenggelam dan terlupakan zaman ini?” bisiknya pada malam yang sunyi.
Etta mematikan lampu mejanya, namun pikirannya justru semakin benderang. Di kepalanya, bayangan kapal-kapal kayu berbendera asing yang bersandar di dermaga kuno Pelabuhan Siang berputar bak film tua.
Selama ini, narasi tentang kedatangan Orang-orang Melayu di Pelabuhan Siang hanya hidup dalam tutur lisan dan catatan-catatan pinggir yang belum teruji secara akademis. Bagaimana mereka melalui jalur perdagangan rempah ataukah karena terusir dari negerinya setelah Portugis menduduki Malaka dalam Tahun 1511, ataukah orang melayu ini memang datang untuk menyisipkan napas Islam dalam setiap transaksi perdagangan. Fragmen sejarah ini masih harus dikaji, diteliti, dan pada setiap pertanyaan yang selama ini terpendam dari tumpukan buku sejarah harus segera terjawab. Ini adalah sebuah fragmen sejarah yang maha penting untuk memahami tumbuh kembangnya Kerajaan Siang di Jazirah Sulawesi Selatan.
“Ini bukan sekadar cerita pengantar tidur untuk santri ataupun cerita rakyat didendangkan dalam iringan musik mandoling dan kecapi,” gumam Etta sambil menyentuh sebuah peta kusam di dindingnya. “Ini adalah fakta sejarah yang harus dipertanggungjawabkan di mimbar ilmiah.”
***
Suatu sore, seorang sahabat bertanya langsung, “Etta, bukankah pengalamanmu sudah lebih dari cukup? Untuk apa kuliah lagi di usia dan posisi seperti sekarang? Hanya demi gelar di belakang nama?”
Etta tersenyum tipis, matanya menatap kejauhan. “Bukan soal gelarnya, Daeng. Tapi soal pertanggungjawaban saya. Saya menulis sejarah orang banyak, sejarah lokal Sulawesi Selatan dan tokoh-tokohnya, dan bahkan saya mengajar sejarah nabi dan ulama. Saya tidak ingin suatu saat nanti, tulisan saya dianggap cacat hanya karena saya tidak tahu kaidah penelitian sejarah yang benar.”
Ia melanjutkan dengan nada yang lebih lirih, “Kuliah di UIN Alauddin bagi saya adalah cara untuk ‘memulangkan’ ilmu saya ke rumahnya. Saya ingin menjadi sejarawan yang tidak hanya dikenal karena tulisan, tapi juga karena memiliki dasar ilmu yang kokoh. Dan jalur non-reguler adalah jembatan agar pengabdian, ceramah, dan tulisan saya di masyarakat tidak terputus.”
Etta tahu, orang mungkin akan tetap berbisik. Namun baginya, mengejar magister humaniora bukan tentang menambah deretan huruf di belakang nama, melainkan tentang menanam akar yang lebih dalam agar pohon pengetahuan yang ia bagikan tidak tumbang saat diterpa angin keraguan.
Di bawah kubah UIN Alauddin, Etta bukan sekadar mengejar gelar. Ia sedang menjemput legitimasi atas cintanya pada masa lalu, demi masa depan generasi yang ia ajar di pondok pesantren dan pada masyarakat akademis.
Ada alasan yang lebih personal, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Etta teringat garis wajah ibunya—garis wajah yang membawa sisa-sisa keanggunan perantau Melayu. Ia memiliki darah Melayu yang mengalir di nadinya. Baginya, meneliti jejak orang Melayu di Pangkep bukan sekadar tugas akademis, melainkan sebuah perjalanan pulang.
Ia ingin menelusuri kembali genealogi dirinya sendiri. Siapa kakek buyutnya dari garis ibu? Bagaimana peran mereka saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sulawesi? Pencarian identitas ini tidak akan pernah tuntas jika ia hanya mengandalkan status sebagai blogger atau “penulis otodidak”. Ia butuh metodologi heuristik, verifikasi, dan interpretasi yang hanya bisa ia pertajam di bangku Pascasarjana UIN Alauddin.
Di buku catatan kecilnya, Etta menuliskan sebuah judul dengan tinta tebal, seolah-olah Tesis itu adalah sebuah prasasti, “Sumbangsih Orang Melayu dalam Proses Islamisasi Masa Kerajaan Siang di Kabupaten Pangkep”
Judul itu adalah jawaban telak bagi mereka yang menuduhnya hanya mengejar gelar. Ia memikul misi untuk mengangkat marwah sejarah lokal Pangkep ke level yang lebih tinggi. Ia ingin membuktikan bahwa Islamisasi di wilayah tersebut memiliki corak yang kaya dan dampak yang luas karena asimilasi budaya dan perdagangan yang dilakukan oleh leluhurnya.
Dengan mengambil Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam, Etta ingin tesisnya nanti menjadi rujukan sahih. Ia ingin menunjukkan bahwa seorang guru pesantren dari daerah pun mampu menghasilkan karya akademik yang presisi.
Saat ia memejamkan mata, ia seolah mendengar suara riuh Pelabuhan Siang di masa lalu—suara para pedagang Melayu yang sedang bertransaksi sambil menyebarkan risalah tauhid. Etta tersenyum. Gelar Magister Humaniora yang akan ia raih nanti bukan untuk pamer di undangan pernikahan atau kartu nama, tapi sebagai “ijazah” bahwa ia telah berhasil menunaikan hutang sejarah kepada leluhur dan tanah kelahirannya. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pegiat Seni Budaya, Kumpulan Ceritanya pernah diterbitkan dengan judul “Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga” (Pustaka Puitika, 2015).


