BerandaEdukasiSendratari sebagai Media Pembelajaran Sejarah: Menghidupkan Masa Lalu melalui Gerak, Musik, dan...

Sendratari sebagai Media Pembelajaran Sejarah: Menghidupkan Masa Lalu melalui Gerak, Musik, dan Narasi

Oleh: Ramadhan M 

Related Post: Teknik Menulis Naskah Sendratari

PALONTARAQ.ID – Pembelajaran sejarah seringkali dihadapkan pada tantangan monotonnya penyampaian materi yang berpusat pada teks dan hafalan tahun serta tokoh. Artikel ini membahas tentang efektivitas Sendratari (Seni Drama dan Tari) sebagai media pembelajaran sejarah alternatif yang interaktif, imersif, dan emosional.

Dengan mengambil studi kasus dua pertunjukan monumental di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep)—yaitu “Tomanurunga ri Siang”, “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep” dan “Perjuangan La Maruddani Karaengta Bonto-bonto” yang naskah cerita dan narasinya ditulis oleh budayawan M. Farid W. Makkulau—artikel ini membedah bagaimana seni pertunjukan mampu mentransformasikan peristiwa masa lalu menjadi media edukasi publik.

Ketiga Pertunjukan Sendratari diatas, —yaitu “Tomanurunga ri Siang”, “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep” dan “Perjuangan La Maruddani Karaengta Bonto-bonto” dengan narator pertunjukan dibawakan sendiri oleh penulis ceritanya, M. Farid W. Makkulau, yang juga Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Pangkep–kesemuanya pernah digelar dan tampilkan sebagai bagian dari Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Jadi Pangkep, dan Malam Ramah Tamah HUT Kemerdekaan RI ini, dan ternyata terbukti efektif dalam memperkuat ingatan kolektif, menanamkan nilai karakter, serta melestarikan kearifan lokal bagi generasi muda.

***

Pembelajaran sejarah memiliki peran krusial dalam pembentukan identitas nasional, karakter, dan kesadaran historis suatu bangsa. Melalui sejarah, generasi muda dapat memahami asal-usul, perjuangan, serta nilai-nilai luhur yang mendasari keberadaan masyarakat mereka saat ini. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan sejarah sering kali dicap membosankan, kering, dan sekadar berupa hafalan runtunan angka tahun serta nama-nama tokoh (Lihat: Kuntowijoyo, 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana). Pendekatan konvensional yang terlalu bertumpu pada metode ceramah (teacher-centered) membuat kedalaman makna sejarah gagal tersampaikan kepada peserta didik.

Untuk mengatasi kejenuhan tersebut, diperlukan inovasi media pembelajaran yang mampu menjembatani jarak waktu antara masa lalu dan masa kini. Salah satu media yang memiliki potensi besar namun belum dioptimalkan secara sistematis dalam kurikulum formal adalah seni pertunjukan, khususnya Sendratari (Seni Drama dan Tari). Sendratari adalah bentuk kesenian yang mengombinasikan keluwesan gerak tari, kedalaman drama tanpa dialog verbal langsung dari pemain, estetika musik pengiring, dan kekuatan narasi dari seorang penutur (storyteller atau narator).

Di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), pemanfaatan sendratari sebagai media edukasi sejarah dan budaya telah menemukan bentuknya yang nyata. Melalui tangan dingin budayawan dan penulis lokal, M. Farid W. Makkulau, sejarah lokal Pangkep tidak lagi hanya tersimpan di dalam lembaran-lembaran buku berdebu atau catatan akademis, melainkan hidup di atas panggung. Tiga karya monumental beliau, yakni sendratari “Tomanurunga ri Siang”, “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep” dan “Perjuangan La Maruddani Karaeng Bonto-bonto”, telah menjadi agenda rutin dalam perayaan hari-hari besar seperti Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Hari Jadi Pangkep, hingga Malam Ramah Tamah Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Arsyad, A. (Media Pembelajaran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa. Dalam konteks sejarah, media yang ideal adalah media yang mampu menghadirkan unsur historical empathy (empati sejarah)—sebuah kemampuan emosional dan kognitif untuk memahami mengapa orang-orang di masa lalu bertindak demikian berdasarkan situasi zaman tersebut. (Lihat: Barton, K. C., & Levstik, L. S.,2004. Teaching History for the Common Good. Routledge).

Sendratari masuk ke dalam kategori media pembelajaran audio-visual-kinestetik yang bersifat imersif. Ketika menonton sendratari, audiens tidak sekadar membaca teks visual, melainkan, Pertama, Melihat (Visual). Rekonstruksi kostum, simbol-simbol zaman (senjata, bendera), dan ekspresi teatrikal. Kedua, Mendengar (Audio), Musik teatrikal yang membangun atmosfer emosional (sedih, tegang, heroik) serta suara narator yang membimbing alur cerita. Ketiga, Merasakan (Afektif), Ketegangan dramatik pertunjukan merangsang katarsis emosional penonton. (Lihat: Piaget, J. 1970. Science of Education and the Psychology of the Child. New York: Orion Press).

Berdasarkan teori belajar konstruktivisme yang dipelopori oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky (Lihat: Vygotsky, L. S. 1978. Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge: Harvard University Press), bahwa Pengetahuan dibangun secara aktif oleh pembelajar melalui pengalaman nyata dan interaksi sosial. Sendratari menyediakan “pengalaman pengganti” (vicarious experience) yang kaya. Ketika siswa menyaksikan atau bahkan terlibat sebagai penari/pemain dalam sendratari sejarah, mereka sedang mengonstruksi ulang pemahaman mereka tentang peristiwa masa lalu melalui aktivitas tubuh, rasa, dan seni (aspek psikomotorik dan afektif).

Sebelum membedah karya sendratari yang menjadi studi kasus, penting untuk memahami figur di balik layar: M. Farid W. Makkulau. Beliau adalah seorang sejarawan lokal, penulis, seniman dan budayawan Pangkep yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti dan mendokumentasikan manuskrip, Lontaraq, serta sejarah lisan di Sulawesi Selatan. Beberapa buku karyanya menjadi rujukan utama sejarah lokal, seperti Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (2007), Sejarah Kelahiran Pangkep (2007), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (2008), Manusia Bissu (2008), dan Sejarah Kerajaan Siang (2012). 

Kemampuan M. Farid W. Makkulau dalam memadukan akurasi data sejarah dengan estetika seni pertunjukan menjadi kunci keberhasilan sendratari ini. Beliau bertindak ganda: sebagai penulis naskah cerita dan sekaligus sebagai narator panggung. Suara yang khas dan penjiwaannya yang mendalam saat membacakan narasi bertindak sebagai “mesin waktu” yang menuntun emosi penonton menelusuri lorong waktu sejarah Pangkep.

Kabupaten Pangkep sendiri memiliki kekayaan historis yang sangat berlapis, mulai dari masa kerajaan kuno (Kerajaan Siang), masa Islamisasi, masa kolonialisme VOC dan Hindia Belanda, hingga masa mempertahankan kemerdekaan pasca-1945. Kekayaan inilah yang dieksplorasi secara estetis ke dalam media gerak dan tari.

***

Kerajaan Siang merupakan salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan yang berpusat di wilayah Pangkep saat ini. Sebelum bersatunya kerajaan, wilayah ini berada dalam kondisi Sianre Bale (hukum rimba: yang kuat memangsa yang lemah). Sendratari “Tomanurunga ri Siang” mengisahkan tentang turunnya sosok misterius (Tomanurung) yang diangkat oleh masyarakat menjadi pemimpin untuk membawa kedamaian, keteraturan hukum, dan kemakmuran. Silakan dianalisis Naskahnya melalui link tulisan berikut ini:

Dalam pementasannya, M. Farid Makkulau menyusun naskah yang terbagi menjadi beberapa babak dramatis, diantaranya Penggambaran tentang Tomanurunga ri Siang dan Kerajaan Siang di masa kejayaannya. Digambarkan dengan gerak tari yang agresif dan lembut sekaligus, menggunakan properti khas prajurit kerajaan dan penduduk maritim siang. Musik pengiring bertempo cepat dan menghentak (ganrang yang bertalu-talu). Narator membacakan narasi dari masa Kerajaan Siang hingga Tekad “Pangkep Berbudaya”. Lihat disini: Naskah Sendratari “Tomanurunga ri Siang”

Melalui pertunjukan ini, penonton (terutama pelajar) belajar bahwa Pangkep memiliki sejarah peradaban tinggi jauh sebelum kedatangan Bangsa Eropa, Kearifan Lokal masa Kerajaan, Konsep kepemimpinan dalam tradisi lokal didasarkan pada kesepakatan moral dan hukum, bukan kekuasaan mutlak/tiran, dan pesan budaya lainnya. Silakan dianalisis naskah sendratari dan video pertunjukannya berikut ini:

Pada Sendratari “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep” berpijak pada peristiwa Perjuangan Kapten Harimau Indonesia, Andi Mappe dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Pangkep antara tahun 1945–1949. Fokus cerita diarahkan pada heroisme pemuda-pemuda Pangkep yang tergabung dalam berbagai organisasi kelaskaran, khususnya Harimau Indonesia dalam melawan kembalinya tentara NICA (Belanda) yang diboncengi sekutu, serta kekejaman Serdadu Belanda yang memenggal kepalanya dan membakar rumah-rumah rakyat.

Silakan dianalisis naskah sendratari disini: Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep dan video pertunjukannya berikut ini:

Sementara itu, Sendratari “Perjuangan La Maruddani Karaeng Bonto-bonto” menceritakan La Maruddani dari kelahiran hingga perjuangannya melawan Belanda dengan fokus perjuangan di Daerah Labakkang dan sekitarnya. Pesan pedagogis yang disampaikan sangat kuat: Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah gratis dari penjajah, melainkan ditebus dengan darah dan air mata oleh para leluhur langsung dari tanah Pangkep sendiri. Hal ini memicu rasa nasionalisme yang berbasis pada identitas lokal (local-patriotism).

***

Salah satu alasan mengapa ketiga sendratari karya M. Farid W. Makkulau ini efektif sebagai media pembelajaran sejarah adalah konteks waktu dan audiens pementasannya. Pertunjukan ini tidak digelar di ruang hampa, melainkan pada tiga momen krusial di Kabupaten Pangkep, yaitu Pertama, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), diikuti dan dihadiri oleh ribuan guru dan siswa dari berbagai tingkatan sekolah. Pementasan sendratari di momen ini berfungsi sebagai “kurikulum terbuka”. Siswa belajar sejarah bukan karena paksaan ujian, melainkan karena panggilan estetika. Mereka melihat guru atau rekan sebaya mereka ikut serta dalam produksi pementasan.

Kedua,  Hari Jadi Pangkep. Momen ini sarat dengan refleksi historis asal-usul daerah. Kehadiran sendratari “Tomanurunga ri Siang” mengukuhkan kembali memori kolektif masyarakat Pangkep tentang jati diri mereka sebagai pewaris kejayaan Kerajaan Siang, menumbuhkan rasa bangga (regional pride) yang positif, dan Ketiga, Malam Ramah Tamah HUT Kemerdekaan RI dimana dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah (Forkopimda), veteran perang, tokoh masyarakat, dan generasi muda. Di sini, sendratari “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep” berfungsi sebagai media rekonsiliasi memori. Bagi para veteran, ini adalah penghormatan atas masa muda mereka; bagi generasi muda, ini adalah refleksi amanah untuk melanjutkan pembangunan.

Mengapa sendratari lebih unggul dalam konteks transfer nilai (value transfer) dibandingkan media konvensional? Tabel berikut merangkum perbandingannya:

Dimensi Analisis Media Konvensional (Buku Teks/Ceramah) Media Sendratari (Seni Pertunjukan)
Gaya Belajar yang Diakomodasi Dominan Visual-Verbal (Membaca/Mendengar). Multisensori (Visual, Auditori, Kinestetik, Emosional).
Tingkat Keterlibatan Emosi Rendah; sejarah dianggap sebagai objek mati di masa lalu. Tinggi; penonton merasakan ketegangan, kesedihan, dan heroisme tokoh secara langsung.
Akurasi & Retensi Memori Mudah lupa karena hanya mengandalkan hafalan jangka pendek (short-term memory). Retensi tinggi; memori visual dan auditori (narasi & musik) melekat lebih lama dalam ingatan jangka panjang.
Internalisasi Nilai Kognitif murni (tahu kronologi peristiwa). Afektif-Karakter (tumbuhnya rasa empati, patriotisme, dan cinta budaya).

Dalam teori retorika klasik Aristoteles, sebuah penyampaian pesan yang efektif membutuhkan tiga elemen: Ethos (kredibilitas), Pathos (emosi), dan Logos (logika). Pertama, terkait Logos, diipenuhi melalui keakuratan data sejarah dalam naskah yang ditulis Farid Makkulau berdasarkan risetnya. Kedua, terkait Ethos.

Reputasi M. Farid W. Makkulau sebagai budayawan terpandang Pangkep membuat pesan sejarah tersebut dipercaya (credible). Ketiga, Pathos. Sentuhan dramatik intonasi suara beliau saat mendongengkan sejarah di atas panggung membakar emosi spiritual penonton. Kombinasi inilah yang membuat sendratari ini sukses sebagai media pembelajaran publik. (Lihat: Sedyawati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan).

Meskipun terbukti memiliki efektivitas yang tinggi, pemanfaatan sendratari sebagai media pembelajaran sejarah di Pangkep masih menghadapi beberapa tantangan nyata. Disinilah peran Pemerintah Kabupaten Pangkep, dalam hal ini Dinas Pendidikan Nasional dan stakeholder terkait dalam mendukungnya. Hal ini karena untuk sendratari kolosal, memerlukan anggaran yang tidak sedikit untuk kostum, tata panggung, tata cahaya (lighting), sistem suara (sound system), serta latihan intensif para penari. Khawatirnya, ketiadaan regenerasi penulis naskah sekaligus narator sekaliber M. Farid W. Makkulau dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas pementasan di masa depan jika tidak ada upaya kaderisasi seniman dan budayawan muda.

Selain itu, untuk setiap pertunjukan sendratari memerlukan Dokumentasi Digital yang luas. Hal ini karena pementasan yang bersifat ephemeral (sekali tayang lalu selesai) membuat pesan edukasinya terbatas pada penonton yang hadir di lokasi. Perlu adanya digitalisasi rekaman pertunjukan yang dikemas menjadi video pembelajaran interaktif untuk diakses di ruang kelas formal.

Intinya, Sendratari bukan sekadar tontonan hiburan estetis, melainkan sebuah media pembelajaran sejarah yang sangat kuat dan efektif. Melalui studi kasus sendratari “Tomanurunga ri Siang”, “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep” dan “Perjuangan La Maruddani Karaeng Bonto-bonto” dengan naskah dan narasi oleh M. Farid W. Makkulau, sejarah tidak lagi dirasakan sebagai rangkaian teks mati, melainkan sebuah pengalaman indrawi yang hidup dan menggetarkan sanubari. Pementasan berkala pada momen Hardiknas, Hari Jadi Pangkep, dan HUT RI terbukti mampu menjembatani kesenjangan generasi, merawat ingatan kolektif masyarakat, serta menanamkan nilai-nilai karakter bangsa dan kearifan lokal secara organik.

Pada akhirnya, penulis ingin menitipkan pesan, bahwa guna menjaga keberlanjutan dan meningkatkan efektivitas media pembelajaran ini, beberapa langkah strategis direkomendasikan kepada pihak terkait. Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pangkep, sangat penting mengintegrasikan Naskah-naskah sejarah karya M. Farid W. Makkulau ke dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok) di sekolah-sekolah, serta memfasilitasi festival sendratari sejarah antar-sekolah secara rutin.

Bagi Pegiat Seni dan Komunitas Kreatif, perlu dilakukan kolaborasi dengan sineas lokal untuk mendokumentasikan pertunjukan sendratari ini ke dalam format film teater (theatrical movie) berkualitas tinggi yang dapat disebarluaskan melalui platform digital (seperti YouTube atau platform edukasi Kemendikbud) sebagai bahan ajar digital di kelas, serta Bagi Generasi Muda Pangkep, perlu mengambil peran aktif, baik sebagai apresiator, penari, maupun calon penulis sejarah masa depan demi menjaga api literasi budaya dan sejarah Pangkep tetap menyala. (*)

(* Ramadhan M, Penikmat Sendratari/Pemerhati Sejarah Budaya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT