BerandaLiterasiPuisi: I'rob Kehidupan dan Jumlah Fi'liyah Santri

Puisi: I’rob Kehidupan dan Jumlah Fi’liyah Santri

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Nurun Niswah Aliah”, diberi judul “I’rob Kehidupan dan Jumlah Fi’liyah Santri” memakai metafora istilah ilmu alat seperti na‘t–man‘ūt, mudhāf–mudhāf ilaih, jumlah fi‘liyyah, ‘amil–ma‘mūl, sehingga terasa seperti syair santri klasik di pesantren.

I’rob Kehidupan dan Jumlah Fi’liyah Santri

(1)

Niatmu adalah ‘āmil yang menggerakkan amal, menjadikan setiap langkahmu hidup seperti jumlah fi‘liyyah.

Ucapanmu lembut bagai na‘t yang menghiasi man‘ūt, memperindah kalimat akhlak di tengah sahabat.

Rajin engkau menuntut ilmu, seperti santri tekun mengurai ‘āmil dan ma‘mūl dalam kitab.

Usahamu mengayomi adik-adik di asrama, bagai mudhāf yang menjaga erat mudhāf ilaih.

Nur akhlakmu memancar, seperti harakat yang menghidupkan lafaz.

Niswah—namamu adalah doa, seperti na‘t kemuliaan bagi seorang santriwati.

Ilmu kau pelajari dengan sabar, menelaah rahasia i‘rab hingga larut malam.

Santun bahasamu mengalir tenang, seperti susunan jumlah ismiyyah yang tertib.

Wibawamu terasa dalam kepedulian, ketika engkau menuntun adik-adik memahami adab.

Amalmu menjadi khabar bagi niat yang tulus.

Aliah—namamu tinggi maknanya, seperti lafaz yang marfū‘ karena kemuliaannya.

Langkahmu menguatkan harapan orangtua, yang ingin melihatmu menjadi anak shalehah.

Ikhtiarmu adalah pelajaran, bahwa ilmu dan akhlak harus bersanding.

Akhirnya hidupmu menjadi kalimat sempurna: indah lafaznya, benar maknanya.

Hingga namamu dikenang sebagai cahaya bagi sekitar.

(2)

Nur yang terpancar dari akhlakmu, bagai ‘āmil yang meninggikan derajat kalimat hidup.

Untaian katamu lembut, seperti na‘t yang memperindah man‘ūt.

Rasa pedulimu pada sahabat, ibarat hubungan mudhāf dan mudhāf ilaih—erat dan saling melengkapi.

Ulet belajar menjadi kebiasaanmu, membaca kitab seakan membaca peta kehidupan.

Nafas kesabaranmu, menjaga semangatmu tetap hidup.

Niswah—santriwati yang meneduhkan, menjadi teladan dalam kesederhanaan.

Ilmu kau kumpulkan setetes demi setetes, seperti memahami ma‘mūl dari setiap ‘āmil.

Sikapmu mengayomi adik-adik, seperti guru kecil dalam asrama.

Wajahmu teduh, tuturmu santun, membuat setiap nasihat terasa ringan.

Amalmu menjadi saksi, bahwa akhlak adalah inti ilmu.

Aliah—tinggi cita-citamu, namun kakimu tetap berpijak pada adab.

Langkahmu menempuh jalan ilmu, menjadi harapan orangtuamu.

Iman dan ilmu kau rangkai, seperti susunan jumlah mufīdah yang sempurna.

Akhirnya hidupmu menjadi pelajaran, bahwa santri sejati memuliakan ilmu dan akhlak.

Harapan orangtuamu terucap dalam doa: agar engkau menjadi kebanggaan dunia dan akhirat.

***

Minasatene-Pangkep, 24 November 2025.

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT