BerandaLiterasiPuisi: Resiliensi Cahaya Santri

Puisi: Resiliensi Cahaya Santri

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Nurul Saskia Muharamah” ini memadukan istilah psikologi seperti adaptasi, grit, growth mindset, bouncing back, dan ketahanan mental, namun tetap bernuansa santri untuk menggambarkan sosok santriwati Kelas XI SMA Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep ini.

Nama Nurul berarti cahaya, sehingga judul ini menggambarkan cahaya keteguhan hati yang terus bersinar meskipun menghadapi tantangan. Puisi ingin menyampaikan bahwa perjalanan seorang santriwati penuh proses belajar, jatuh, dan bangkit kembali (bouncing back). Dengan grit, adaptasi, dan ketahanan mental, seseorang dapat terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan berprestasi.

 Resiliensi Cahaya Santri

Nur cahaya ilmu menyala di hatimu, menuntun langkahmu menembus gelap keraguan.

Ulet belajar menjadi napas harianmu, sebuah grit yang diam-diam menumbuhkan kekuatan.

Rintangan kau baca bukan sebagai akhir, melainkan ruang adaptasi untuk menjadi lebih bijak.

Usahamu bangkit setiap kali lelah datang, itulah seni bouncing back dalam perjalanan santri.

Langkahmu tetap tenang, ditopang ketahanan mental yang dirawat oleh doa.

Saskia—namamu seperti semangat pagi, mengajak dirimu percaya pada growth mindset.

Akalmu tajam dan rajin menimba ilmu, menyulam pengetahuan dengan kesabaran.

Setiap kegagalan kau jadikan pelajaran, batu pijakan menuju keberhasilan.

Ketekunanmu seperti air yang mengalir, perlahan tapi pasti mengukir jalan.

Ikhtiar dan doa berjalan berdampingan, seperti dua sayap yang mengangkat harapan.

Amanah orangtua kau jaga dalam hati, menjadi kompas dalam perjalanan hidup.

Muharamah—namamu mengingatkan pada kemuliaan, bahwa kehormatan lahir dari akhlak dan ilmu.

Ujian hidup tak kau hindari, tetapi kau hadapi dengan sabar dan keberanian.

Harapanmu sederhana namun luhur: menjadi anak shalehah yang meneduhkan.

Amal dan ilmu kau rangkai bersama, menjadi cahaya yang tak mudah padam.

Ridha Allah menjadi tujuan, lebih tinggi dari sekadar pujian manusia.

Akhirnya setiap langkahmu adalah doa, yang tumbuh dari kesungguhan.

Masa depanmu perlahan bersinar, ditenun dari usaha yang tak kenal lelah.

Anak yang kelak menjadi kebanggaan orangtua.

Hingga namamu dikenang sebagai cahaya: Nurul Saskia Muharamah, santriwati tangguh yang tak pernah berhenti belajar.

***

Puisi Akrostik ini menunjukkan bahwa santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga memiliki cara berpikir yang terus berkembang. Bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan kesempatan belajar. Dengan growth mindset, seorang santriwati dapat meningkatkan kemampuan, memperkuat karakter, dan menapaki masa depan yang lebih cerah.

Puisi menegaskan pentingnya ketahanan diri (resiliensi) dalam belajar, berjuang, dan memperbaiki diri. Semua usaha itu diarahkan untuk menjadi anak shalehah yang menjadi kebanggaan orangtua. Sosok Nurul Saskia Muharamah adalah santriwati yang rajin, pintar, dan tangguh, yang terus belajar dari setiap tantangan. Dengan resiliensi, semangat belajar, dan doa orangtua, ia diharapkan tumbuh menjadi anak shalehah yang berprestasi dan membanggakan keluarga. (*)

Minasatene-Pangkep, 23 November 2025.

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT