Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini disusun dan dirangkai untuk dan atas nama “Nurul Awaliah”, membawa pesan moral dan spiritual yang kuat, diantaranya Hidup Tidak Selalu Lahir dari Struktur yang Ideal. Kisah “dua ayah dan dua ibu” bukan ditampilkan sebagai luka, melainkan sebagai ujian takdir. Pesannya, ketidaksempurnaan asal-usul tidak menentukan kegagalan masa depan.
Hafalan Al-Qur’an bukan sekadar prestasi, tetapi penyangga batin yang membuatnya tetap utuh dan tenang. Al-Qur’an hadir sebagai nahwu hidup—penjaga agar makna tak menyimpang. Santriwati ini tergolong cerdas, menjadikan ilmu bahasa sebagai jalan dakwah. Nurul Awaliah pernah mengikuti lomba dakwah bahasa Arab dan debat bahasa Arab, menunjukkan bahwa ilmu tidak disimpan, tapi disampaikan dengan adab.
Dari Hafalan ke Harapan
Nur hidupnya berawal dari Al-Qur’an, dihafalnya ayat demi ayat dengan sabar dan tartib.
Uslub ibadahnya tenang, seperti jumlah ismiyyah yang kokoh oleh istiqamah.
Rihlah ilmunya panjang, menguatkan hafalan, menata niat, menjaga adab.
Untuk dakwah, lisannya terlatih, pernah berdiri di mimbar lomba dakwah bahasa Arab,
menyusun kalimat dengan nahwu yang lurus.
Lafaz dan makna ia seimbangkan, sebab baginya, kata tanpa makna adalah kalimat pincang.
Ada pula gelanggang debat bahasa Arab, tempat akalnya menjadi fa‘il yang berani,
namun tetap santun pada khilaf.
Wazan hidupnya tak selalu ringan, dua ayah, dua ibu—takdir yang menjadikannya dewasa sebelum waktu.
Amal sabarnya berstatus marfu‘, ditinggikan oleh ridha dan doa yang tak putus.
Lelahnya sering majzum, diputus oleh air mata yang disimpan dalam sujud.
Ia tetap berjalan, santriwati yang teguh, menjadikan pondok sebagai madrasah jiwa.
Amal dan harap ia satukan, ingin memenuhi cita orangtua, menjadi insan yang shalihah dan nafi‘ah.
Hidupnya ia susun seperti kalimat sempurna: mubtada’-nya iman, khabar-nya manfaat bagi sesama.
***


