BerandaAl-Qur'anCerita Pedagang Ikan G4z4 tentang H4m45

Cerita Pedagang Ikan G4z4 tentang H4m45

Oleh:  Salim A. Fillah

PALONTARAQ.ID – Saya ingat hari itu, di sebuah Masjid di Gaza (yang kini sudah runtuh dibom), bakda Shubuh, akhir Desember 2012.

Kami rombongan relawan Indonesia, bergabung duduk di sebuah halaqah Al Quran, dibimbing seorang Doktor ‘Ulumul Quran lulusan Universitas Damaskus. Bukan hal aneh, Imam dan Muadzin di Gaza berpendidikan tinggi dari Universitas ternama.

Di seluruh Gaza, bakda Shubuh memang waktu Al Quran untuk para bapak. Ibu-ibu dan remaja putri sehabis ‘Ashr. Anak-anak dan remaja putra bakda Maghrib dan bakda ‘Isya’. Setiap waktu syahdu dengan Al Quran. Bahkan di Rumah Sakit sampai Mall disediakan tempat untuk menyetor hafalan yang dilayani para Hafizh Relawan.

Bergiliran kami membaca Al Quran, sesekali dibetulkan oleh Syaikh, dan sesekali beliau menjeda untuk menjelaskan maksud ayat. Di akhir, ada seorang pedagang ikan di pasar yang se-halaqah dengan kami, mengajak kami minum teh lalu berpesan:

“Belajarlah dari kami. Berpuluh tahun kami terjajah. Lalu berusaha melawan, tanpa melibatkan Allah. Maka kami patah. Ada yang lalu mencari kemuliaan dengan senjatanya, dengan uangnya, dengan koneksinya, atau dengan jabatannya. Tapi Allah hinakan kami semua. Karena kami meninggalkanNya.”

“Lalu di akhir tahun 1980-an, orangtua yang lumpuh itu, Syaikh Ahmad Yasin, mengajak kami membaca Al Quran. Menghafal sedikit sedikit. Mengkaji Sirah dan Sunnah Nabi. Mengamalkan sedikit-sedikit. Shalat berjama’ah dan meramaikan Masjid.

Beliau diketawakan para pejuang lain. ‘Hei Syaikh’, kata mereka, ‘Katanya mau membebaskan Masjidil Aqsha? Katanya mau memerdekakan Palestina? Lha kok cuma baca Quran. Lha kok cuma shalat dan wiridan! Ya nggak bisa. Ayo sini, pegang senapan kayak kami!’ Mereka mengatakan itu sambil mengejek fisik Syaikh Ahmad Yasin yang cacat.

Tapi lihatlah sekarang. Anak-anak yang dulu mengaji kepada Syaikh Ahmad Yasin itu menjadi para raksasa pejuang yang ditakuti penjajah 15r43l; dr. Rantisi (rahimahullaah), Khalid Misy’al, Ismail Haniya, Fauzi Barhoum, Musa Abu Marzuq, dll. Dan mereka meneruskan pembinaan Qurani itu pada generasi adik-adik mereka, dan anak-anak mereka.”

Saat itulah saya mengerti, bagaimana generasi perlawanan Abu ‘Ubaidah yang kini fans-nya di mana-mana itu lahir. Melalui Tarbiyah Al Quran yang diasaskan Si Lelaki Lumpuh, dan terus dijaga istiqamah oleh H4M45. (*)

(* Sumber Tulisan tersebar di WA Group: Sahabat Pencinta Thibb Nabi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT